PADANG (RIAUPOS.CO) - Aliran air deras yang diduga berasal dari kawasan Gunung Singgalang menerjang permukiman warga di Jorong Koto Tinggi, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Ahad (1/11) sekitar pukul 14.00 WIB.
Sejumlah rumah warga terendam banjir. Meski ketinggian air dilaporkan tidak terlalu dalam, arus yang cukup kuat sempat menggenangi kawasan permukiman dan membuat warga khawatir.
Namun, penyebab pasti banjir dan keseluruhan dampaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari petugas di lapangan.
Selain di Pandai Sikek, banjir juga dilaporkan terjadi di Padang Laweh, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Ahad (1/1) siang. Hujan berintensitas tinggi memicu banjir. Tersumbatnya polongan oleh material lumpur dan sampah menyebabkan aliran air terhambat hingga meluap dan menggenangi badan jalan, permukiman warga serta lahan pertanian.
Luapan air terjadi sekitar pukul 13.50 WIB. Material lumpur dan sampah yang menyumbat saluran pembuangan membuat air tidak tertampung dan meluber ke sejumlah area di sekitar lokasi kejadian.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, mengatakan laporan kejadian diterima dari Pemerintah Nagari Padang Laweh sekitar pukul 14.15 WIB. Setelah menerima informasi, BPBD berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan nagari untuk melakukan asesmen serta pendataan dampak banjir.
“Polongan yang tersumbat material lumpur dan sampah menyebabkan aliran air tidak lancar. Akibatnya, air meluap ke badan jalan, permukiman warga dan lahan pertanian,” ujarnya.
Penanganan awal dilakukan masyarakat dengan bergotong royong membersihkan polongan yang tersumbat. Upaya tersebut membuat aliran air kembali lancar sehingga genangan berangsur surut. Meski luapan telah surut, sisa material lumpur masih terdapat di badan jalan dan membutuhkan pembersihan agar tidak mengganggu aktivitas serta membahayakan pengguna jalan.
Untuk penanganan lanjutan, Pemerintah Nagari Padang Laweh telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Agam guna membersihkan material lumpur yang tersisa. BPBD Agam mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat hujan berintensitas tinggi, terutama terhadap saluran drainase dan polongan yang berpotensi tersumbat. Pembersihan saluran secara berkala diperlukan agar aliran air tetap lancar dan luapan serupa dapat dicegah.
Gubernur Tinjau di Pandai Sikek
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah meninjau langsung lokasi bencana banjir dan longsor di Jorong Koto Tinggi, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Ahad (1/11).
Dalam kesempatan tersebut, Mahyeldi turun langsung bersama masyarakat melakukan upaya penanganan darurat. Ia juga meminta pemerintah nagari segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk menyiapkan langkah penanganan jangka panjang guna mengantisipasi kejadian serupa terulang.
Sekitar pukul 13.30 WIB, saat melintasi Nagari Pandai Sikek dalam perjalanan menuju Kota Padang usai berkegiatan di Kota Bukittinggi, kendaraan yang ditumpangi Mahyeldi dihentikan sejumlah warga yang melaporkan kejadian bencana di wilayah mereka.
Merespons laporan tersebut, Mahyeldi langsung menuju lokasi untuk melihat kondisi dan dampak yang dialami masyarakat. Dari hasil pantauan lapangan, sedikitnya terdapat lima rumah warga dan sejumlah lahan pertanian dilaporkan terdampak akibat banjir dan longsor.
“Berdasarkan pantauan kita di lapangan, ada lima rumah dan sejumlah lahan pertanian masyarakat yang terdampak. Dari lima rumah tersebut, dua di antaranya mengalami rusak berat dan tiga lainnya rusak ringan,” ungkap Mahyeldi.
Luapan aliran air yang diduga berasal dari kawasan hulu Gunung Singgalang menjadi salah satu indikasi penyebab banjir dan longsor di Jorong Koto Tinggi. Meski ketinggian genangan air tidak terlalu dalam, derasnya arus mengakibatkan aliran air meluap dan menggenangi sejumlah rumah masyarakat.
“Namun, itu masih dugaan awal. Penyebab pasti kejadian serta keseluruhan dampaknya masih dalam pendataan petugas di lapangan,” jelas Mahyeldi.
Saat melakukan peninjauan, Mahyeldi bersama masyarakat melakukan upaya darurat untuk mengendalikan aliran air sungai agar tidak semakin meluap ke kawasan permukiman. Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan kawasan bawah lereng Gunung Singgalang, mengingat hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi hingga beberapa hari ke depan.
Dalam kesempatan itu, Mahyeldi juga menerima informasi dari warga bahwa kejadian banjir dan longsor di kawasan tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut keterangan warga, peristiwa serupa telah berlangsung sebanyak tiga kali, dengan kejadian pertama tercatat pada 2024 lalu.
Menanggapi kondisi tersebut, Mahyeldi menyebutkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan seluruh unsur terkait untuk memastikan penanganan dampak bencana berjalan cepat. Koordinasi juga diperlukan untuk memperkuat langkah mitigasi dan penanganan jangka panjang guna mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.(ptr/adpsb/rmz/bud/rpg)
Editor : Arif Oktafian