Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BBM Subsidi Nelayan di Salah Satu SPBUN Bengkalis Diduga Disalahgunakan

A
Penulis: Abu Kasim❯
Ilustrasi nelayan kecil bersiap untuk melaut. Ketersediaan BBM subsidi jadi andalan mereka.
Ilustrasi nelayan kecil bersiap untuk melaut. Ketersediaan BBM subsidi jadi andalan mereka.

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -- Adanya dugaan penyimpangan distribusi solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) di Kabupaten Bengkalis, sedang ditangani Unit Pidum Satreskrim Polres Bengkalis.


Advertisement

Di mana SPBUN itu, sejatinya diperuntukkan khusus melayani kebutuhan bahan bakar kapal nelayan di kawasan tersebut. Namun BBM malah diduga disalah gunakan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bengkalis, Syofian, menegaskan, rekomendasi dari Dinas Perikanan maupun izin resmi Pertamina untuk SPBUN ini secara tegas mengatur bahwa penyaluran BBM hanya bagi nelayan, bukan untuk aktivitas industri.

"Pengecualian hanya diberikan kepada usaha penangkaran ikan skala kecil yang membutuhkan BBM untuk operasional genset. Sementara tambak udang berkapasitas besar masuk kategori industri dan seharusnya menggunakan BBM harga industri," jelas Sofyan, Kamis (20/11/2025).

Advertisement

Menurutnya, SPBUN itu khusus melayani kebutuhan BBM nelayan jenis solar saja dan bukan untuk industri. Ia juga membantah, tudingan adanya pungutan Rp400 ribu per bulan kepada nelayan untuk melancarkan proses pengurusan rekomendasi solar subsidi.

Menurutnya, seluruh permohonan rekomendasi diajukan melalui aplikasi, bersifat gratis, dan pemohon tidak pernah bertemu langsung dengan petugas.

Sementara itu, pengelola SPBUN, Ishak alias Sahak, mengakui telah diperiksa polisi, setelah dilaporkan Hidayat alias Yati terkait dugaan kecurangan penyaluran BBM.

Advertisement

Namun dirinya membantah, tuduhan mengurangi volume solar dalam setiap drum. "Tak ada pengurangan, satu drum tetap 200 liter," jelasnya.

Namun demikian, Sahak enggan menjawab ketika ditanya mengenai dugaan penjualan solar subsidi kepada pengusaha tambak udang. Ia beralasan sedang mengurus anaknya yang sakit.

Diketahui, laporan yang diajukan Yati ke aparat penegak hukum berawal dari dugaan bahwa nelayan kerap menerima drum solar dengan isi kurang dari 200 liter, bahkan kadang hanya 195 liter. Ada pula dugaan sebagian jatah nelayan dialihkan ke industri tambak udang dengan harga lebih tinggi.

Yati menjadi nelayan pertama, yang berani melapor setelah upaya mediasi dengan Sahak tidak membuahkan hasil.

Kasat Reskrim Polres Bengkalis, Iptu Yohn Mabel, saat dikonfirmasi membenarkan laporan tersebut. "Ya, benar. Tapi masih dalam proses penyelidikan perkaranya oleh tim Unit Pidum," jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Solar Makin Langka di Pelalawan

Solar Makin Langka di Pelalawan

Kelangkaan solar subsidi terjadi di sejumlah SPBU Pelalawan. Antrean panjang kendaraan berlangsung lebih dari sebulan.

Di Pulau Bengkalis, SPBU Diminta Beroperasi hingga Pukul 9 Malam Jika Terjadi Antrean BBM

Di Pulau Bengkalis, SPBU Diminta Beroperasi hingga Pukul 9 Malam Jika Terjadi Antrean BBM

Pertamina siapkan tambahan kuota BBM subsidi dan dukungan distribusi untuk mengatasi kelangkaan Pertalite dan Solar di Bengkalis dan Rupat.

Antre sejak Subuh demi Bio Solar

Antre sejak Subuh demi Bio Solar

Sopir truk dan angkutan di Riau (Pekanbaru, Kampar, Siak, Rohil) rela antre berjam-jam demi solar subsidi. Pemprov ajukan tambahan kuota ke

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer