
BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Sudah sepekan ini bahan bakar minyak (BBM) sulit didapat oleh masyarakat. Meski kelangkaan bukan disebabkan tak cukupnya kuota BBM yang masuk ke Bengkalis, melainkan lambatnya akses masuk BBM ke pulau dan juga sistem distribusi yang masih kaku.
Menanggapi itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) Kabupaten Bengkalis melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Bengkalis, Kamis (2/4/2026) sore.
Kegiatan ini merupakan respons atas keresahan masyarakat, terkait sulitnya memperoleh BBM subsidi dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: PSPS Pekanbaru Tak Terbendung, Enam Gol Tanpa Balas ke Gawang Sriwijaya FC
Sidak difokuskan pada pemantauan distribusi, ketersediaan stok, serta mekanisme penyaluran BBM di lapangan. Selain melakukan pengecekan, tim juga berdialog langsung dengan pengelola SPBU dan masyarakat guna memperoleh gambaran kondisi riil distribusi.
Perwakilan PMII Bengkalis, Hari Rahmat Zuhairi, menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya persoalan dalam sistem distribusi yang belum sepenuhnya menjangkau masyarakat.
“Kami tidak datang untuk menyudutkan SPBU maupun pengecer. Fakta di lapangan menunjukkan stok di SPBU cukup, tetapi akses masyarakat yang terbatas justru menjadi persoalan utama. Ini yang harus dibenahi secara sistematis,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Berdasarkan hasil sidak, ditemukan bahwa ketersediaan stok BBM subsidi di tingkat SPBU relatif mencukupi dan tidak mengalami kendala signifikan. Namun demikian, permasalahan utama justru terletak pada keterbatasan akses masyarakat dalam menjangkau SPBU.
PMII menilai, bahwa kondisi geografis Pulau Bengkalis sebagai wilayah kepulauan, jarak tempuh yang jauh, serta jam operasional SPBU yang tidak berlangsung selama 24 jam menjadi faktor utama yang membatasi akses tersebut.
Selain itu, antrean panjang saat pengisian BBM turut menyebabkan sebagian masyarakat enggan mengantre dan lebih memilih membeli dari pengecer terdekat karena dinilai lebih efisien.
“Akibat keterbatasan ini, sebagian besar masyarakat, terutama yang berada jauh dari SPBU, lebih mengandalkan pengecer sebagai alternatif utama untuk memperoleh BBM subsidi. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, pengecer justru mengalami kekosongan stok, yang kemudian memicu keresahan di tengah masyarakat,” ujar Ari.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




