Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tragedi Pilu dari Ngada NTT: Anak SD Bunuh Diri Diduga Tak Mampu Beli Buku Tulis dan Pensil, Pesan Terakhirnya Mengiris Hati

Redaksi • Rabu, 4 Februari 2026 | 09:41 WIB

Tulisan tangan ini jadi pesan terakhir YBS kepada sang ibu sebelum ditemukan meninggal.
Tulisan tangan ini jadi pesan terakhir YBS kepada sang ibu sebelum ditemukan meninggal.
  

NGADA (RIAUPOS.CO) – Nusa Tenggara Timur (NTT) punya cerita pilu. Seorang anak sekolah dasar diduga telah mengakhiri hidupnya sendiri. Murid berinisial YBS (10) yang masik duduk di kelas IV SD itu ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu Kamis (29/1/2026).

Yang megiris hati, peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana yang tak mampu dipenuhi. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk membelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak dapat mengabulkan permintaan itu.

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menuturkan bahwa YBS dikenal sebagai anak pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam kondisi serbakekurangan, YBS jarang menunjukkan tanda-tanda kesedihan mendalam di hadapan warga sekitar.

“YBS adalah anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” ujar Bernardus seperti dikutip dari Radar Pati (Jawa Pos Group),  Rabu (4/2/2026).

Untuk diketahui, ayah YBS telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, dia tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Padahal pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBS ditemukan oleh warga yang tengah menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.

Salah satu saksi, Kornelis, mengungkapkan bahwa sekitar pukul 11.00 WITA, ia hendak menuju pondok milik nenek korban. Dari kejauhan, ia melihat korban dalam kondisi tidak biasa dan segera meminta pertolongan warga sebelum melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Saksi lain menyebutkan bahwa beberapa jam sebelumnya, korban sempat terlihat duduk sendirian di luar pondok dan tampak murung. Saat ditanya mengapa tidak berangkat ke sekolah dan di mana neneknya berada, korban hanya menjawab singkat.

Warga setempat lainnya, Lipus Djio (47), yang mengenal dekat korban, menyebut YBS sebagai anak yang periang dan cerdas. Namun, menurutnya, korban menghadapi beban kehidupan yang tidak ringan di usia yang masih sangat belia.

“Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena, tapi tidak bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga,” ungkap Lipus.

Sang ibu, MGT (47) mengungkapkan bahwa YBS menginap di rumahnya pada malam sebelum kejadian. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.

Tragedi ini semakin mengiris hati setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut merupakan pesan perpisahan untuk sang ibu dan keluarga.

Inilah isi surat yang ditinggalkan YBS:

 Baca Juga: Muhammad Gibran Hakim Torehkan Segudang Prestasi

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA

NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA

 

Yang artinya:

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI, JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, membenarkan adanya dugaan awal bahwa peristiwa tersebut mengarah pada tindakan bunuh diri. Namun demikian, ia menegaskan bahwa polisi masih melakukan pendalaman guna memastikan seluruh fakta dan kronologi kejadian.

“Dugaan awal memang mengarah ke sana, tetapi penyelidikan tetap kami lanjutkan untuk memastikan tidak ada hal lain yang terlewat,” ujar Benediktus.

Baca Juga: Serahkan SK dan Ambil Sumpah 59 PNS Baru, Sekda Rohul Tekankan Integritas, Junjung Nilai BerAKHLAK

Terkait surat yang ditemukan, polisi telah melakukan pencocokan dengan tulisan tangan korban di buku sekolah. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tingkat kemiripan yang kuat, sehingga surat tersebut diduga ditulis langsung oleh korban sebelum peristiwa terjadi.

Selain mengamankan barang bukti, penyidik juga telah meminta keterangan sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian. Di antaranya adalah warga setempat bernama Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34).

Pihak kepolisian memastikan proses penanganan perkara dilakukan secara cermat dan profesional. Kesimpulan resmi terkait penyebab meninggalnya korban akan disampaikan setelah seluruh rangkaian penyelidikan rampung.

Peristiwa ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, sekaligus mengingatkan pentingnya peran keluarga, lingkungan, dan sekolah dalam memantau kondisi psikologis anak sejak dini.***

Editor : Edwar Yaman
#Ngada NTT #anak sd bunuh diri #Tragedi Pilu dari NTT