Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BI Yakin Rupiah Menguat Juli-Agustus

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Gubernur BI, Perry Warjiyo
Gubernur BI, Perry Warjiyo

Advertisement

 JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), Senin (18/5). Pelemahan tersebut menjadi sorotan dalam rapat kerja antara Bank Indonesia (BI) dan Komisi XI DPR. Bahkan, anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio meminta Gubernur BI Perry Warjiyo mundur.

Primus menilai, pelemahan rupiah menunjukkan menurunnya kredibilitas bank sentral di mata pasar global. Dalam rapat tersebut, Primus mengaku sengaja tidak memberikan apresiasi terhadap kinerja BI sebagaimana anggota dewan lainnya. 

Menurut dia, kondisi ekonomi nasional saat ini menunjukkan anomali. ’’Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendah terha­dap dolar AS,” paparnya, kemarin.

Advertisement


Dia juga menyoroti kinerja pasar saham domestik yang dinilai tertinggal dibanding negara lain. Menurut Primus, sejak gejolak global akibat perang dan ketega­ngan geopolitik pada akhir Fe­bruari lalu, mayoritas indeks saham dunia mulai pulih dan menguat. Namun, pasar Indonesia disebut masih berada di zona merah.

’’Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen. Global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral,” katanya. Primus menilai pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap berbagai mata uang lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, hingga euro. Menurut dia, kondisi tersebut membuat kepercayaan pasar terhadap BI menurun. Dia meminta Perry bersikap gentleman atas kondisi tersebut. ’’Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Itu bukan penghinaan, justru akan lebih dihormati seperti di Korea atau Jepang ketika merasa tidak bisa menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.

Advertisement

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa pelemahan rupiah hanya bersifat sementara. Dia yakin rupiah akan membaik pada Juli-Agustus 2026.

Perry menjelaskan, tekanan terhadap rupiah lazim terjadi pada April, Mei, dan Juni akibat tingginya permintaan devisa. Kebutuhan dolar meningkat karena pembayaran dividen perusahaan, utang luar negeri, hingga kebutuhan musim haji.

’’Kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya dalam tekanan pada April, Mei, Juni karena demand devisa tinggi. Tetapi Juli-Agustus biasanya mulai menguat,” kata Perry di Jakarta, kemarin (18/5). 

Menurut dia, rata-rata nilai tukar rupiah secara year to date saat ini berada di kisaran Rp 16.900 per dolar AS. Angka tersebut melampaui asumsi dasar APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500 dengan kisaran Rp16.200-Rp16.800 per dolar AS.

Meski demikian, BI optimistis rata-rata nilai tukar sepanjang tahun masih dapat kembali ke rentang asumsi APBN. Perry menyebut rupiah saat ini berada dalam posisi undervalue atau lebih lemah dibanding fundamental ekonomi nasional. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Kurs Dolar AS Berpotensi Tembus Rp18.000, Subsidi BBM Membengkak, APBN Kian Tergerus

Kurs Dolar AS Berpotensi Tembus Rp18.000, Subsidi BBM Membengkak, APBN Kian Tergerus

Rupiah diprediksi tembus Rp18 ribu per dolar AS akibat tekanan global, lonjakan minyak dunia, dan beban fiskal pemerintah.

Pendapatan Messi di MLS Melonjak Menjadi 28,3 Juta Dolar AS karena Hal Ini

Pendapatan Messi di MLS Melonjak Menjadi 28,3 Juta Dolar AS karena Hal Ini

Pemilik Inter Miami, Jorge Mas mengatakan pada bulan Maret total pendapatan Lionel Messi berkisar antara $70-$80 juta per tahun.

BI Batasi Pembelian Dolar AS tanpa Underlying

BI Batasi Pembelian Dolar AS tanpa Underlying

BI batasi pembelian dolar AS tanpa underlying jadi 50 ribu dolar per bulan untuk stabilkan nilai tukar rupiah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer