
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pemulihan pasar saham domestik belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang gejolak global. Lonjakan harga minyak mentah, aksi jual saham teknologi, dan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) berpotensi memicu volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini.
Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai, tekanan dari pasar global masih menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan saham domestik. Meski IHSG menguat signifikan pada pekan lalu, investor tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter AS.
”Tekanan pasar energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember juga mulai diperhitungkan untuk meredam inflasi,” papar Hans, Ahad (25/10).
Baca Juga: Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18.200
Data AS Jadi Penentu
Pekan ini, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga The Fed dan data inflasi inti (PCE) AS untuk September. Kedua indikator tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, serta arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di tengah tekanan global pekan lalu, IHSG justru mencatatkan penguatan sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks ditutup di level 5.439,26 pada Jumat (23/10), naik 4,9 persen dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya di level 5.185,12.
”Penguatan IHSG ditopang kenaikan 470 saham, dengan sektor infrastruktur, finansial, batu bara, dan energi menjadi pendorong utama. Intervensi pasar secara bertahap oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga disebut menjadi salah satu faktor pendukung,” tuturnya.
Meskipun demikian, rupiah masih tertekan dan bergerak pada kisaran Rp18.037–Rp18.089 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda
Pekan ini, Hans memperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat. Namun, investor tetap perlu mencermati level teknikal dan perkembangan sentimen global. ”Area berada pada rentang 5.185–4.907, sedangkan area berada di kisaran 5.607–5.804,” ucapnya.
Dana Asing Keluar Rp94,87 Triliun
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




