Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Masih Ingin Mengajar di Awal Kemoterapi

Redaksi • Selasa, 6 November 2012 | 09:34 WIB
Laporan SEKARING  RATRI A, Jakarta

Karlina Supelli divonis mengidap kanker payudara ketika merasa dirinya sehat-sehat saja.

Kini, setahun setelah berjuang mengatasinya, doktor astronomi dan filsafat itu aktif lagi mengajar dan menjadi pembicara meski masih harus mengonsumsi obat-obatan.     

Karlina Supelli awalnya enggan memenuhi permintaan untuk melakukan tes mamografi guna men-screening adanya kanker payudara itu.

Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, tersebut merasa bahwa tak ada yang salah dengan tubuhnya. Apalagi, anak ke-11 di antara 13 bersaudara itu sangat peduli dengan kesehatan: rajin berolahraga dan akrab dengan makanan sehat.

Hari itu, Maret tahun lalu, astronom perempuan pertama Indonesia kelahiran Jakarta, 15 Januari 1958, tersebut cuma ingin check up kesehatan reguler untuk persiapan terbang ke Houston, Amerika Serikat, guna menengok sang putri.

‘’Tapi, akhirnya saya lakukan juga. Dan setelah diperiksa, radiolognya bilang, Ibu jangan pulang dulu ya,’’ kenang doktor astronomi sekaligus filsafat itu ketika ditemui di kantornya, STF Driyarkara, akhir bulan lalu.

Begitu sang radiolog berkata demikian, Karlina langsung berpikir bahwa pasti ada yang salah dengan dirinya. ‘’Saya pun

langsung disuruh USG payudara dan hasilnya sudah 4B atau artinya positif kanker,’’ urai ibu dua anak tersebut.

Karlina pun langsung lemas. Namun, perempuan berdarah London itu tidak lantas menghubungi keluarga. Ibunda Fitri Armalivia dan Angga Indraswara tersebut memilih mengontak keponakannya yang seorang dokter. Namun, ia meminta sang keponakan merahasiakan penyakitnya itu.

Keesokan harinya Karlina yang mengaku doyan mengamati langit sejak kecil itu langsung menemui onkolog di RSCM. Ia sempat berharap diagnosis onkolog tersebut bukanlah kanker.

‘’Tapi, ternyata ia mengatakan 90 persen kanker. Ia langsung mengatakan bahwa saya harus operasi. Ketika saya bilang saya mau ke Houston, ia bilang ya udah nggak apa-apa senang-senang dulu. Ia juga bilang, kenapa nggak sekalian periksa di sana,’’ paparnya.

Penulis buku Dari Kosmologi ke Dialog itu pun menuruti saran dokter tersebut. Ia tetap terbang ke Houston dan menemui putrinya.

Namun, Karlina yang sudah tahu profesi apa yang dipilihnya sejak berusia tiga tahun tersebut tidak lupa memeriksakan diri ke dokter di sana. Dan hasilnya tidak berbeda dengan diagnosis dokter di Indonesia.

Karlina tentu saja cukup tersentak dengan kenyataan tersebut. Sebab, tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan gejala apa pun. Ia juga merasa sangat sehat.  

‘’Saya merasa kecolongan karena hidup saya sangat rapi. Saya juga tidak ada gejala. Tapi, jenis kanker saya memang benjolannya tidak teraba, hanya mengeras di satu bagian,’’ paparnya.

Tak ingin merepotkan sang putri, Karlina pun tidak ingin berlama-lama di Houston. Setiba di Tanah Air lagi, ia belum juga memberi tahu keluarga. Ia hanya memberi tahu keponakannya yang lain, yang juga seorang dokter.

‘’Saya hanya bilang ke kantor karena harus atur jadwal. Saya juga bilang ke keponakan saya lainnya yang juga dokter. Tapi, ia khawatir karena kalau ada apa-apa, ia harus bertanggung jawab. Akhirnya, saya bilang ke dia supaya memberi tahu kakak saya dengan cara yang sesuai,’’ jelasnya.

Lantas, Karlina pun memulai hari-hari panjang nan berat melawan kanker. Setelah operasi adalah saat yang paling tidak mudah.

Sebab, alumnus University College London, Inggris, di bidang space science itu harus menjalani proses radiasi dan kemoterapi selama lebih dari enam bulan.

Kemoterapi ia akui cukup berat. Akibat proses tersebut, selain rambutnya rontok, ia kerap muntah dan mengalami diare. Selama menjalani semua itu, beberapa kali Karlina harus dirawat di rumah sakit.

‘’Karena kondisi saya drop sekali,’’ ujar perempuan yang menyelesaikan pendidikan S-1 di Jurusan Astronomi ITB pada 1981 tersebut.

Tapi, Karlina tipikal perempuan yang terlatih mandiri sejak kecil. Menghadapi tantangan adalah hal yang ia sukai.

Menjadi satu-satunya mahasiswi di jurusan Astronomi ITB yang membuatnya mendapat julukan astronom perempuan pertama saat wisuda dan di antara mahasiswa satu angkatan di University College London, Inggris.

Perempuan yang juga dikenal sebagai aktivis itu mengenang pula bagaimana dirinya mengatasi tantangan yang pernah diajukan sang supervisor ketika masih berkuliah di Inggris.

Ketika itu sang supervisor menantang ia dan rekan-rekannya untuk memublikasikan tulisan di jurnal ilmiah Royal Astronomical Society.

Kalau berhasil, mereka berhak mengikuti riset di Anglo-Australian Observatory, Australia. Bagi mahasiswa astronomi, itu adalah tempat riset impian.

Dan ternyata hanya Karlina yang bisa menembus persyaratan tersebut: Tulisannya dimuat di Royal Astronomical Society.(ttg/ila) Editor : RP Redaksi