Pelajaran dari Runtuhnya Jembatan Tenggarong
Rindra Yasin • Selasa, 29 November 2011 | 07:51 WIB
Runtuhnya Jembatan Tenggarong di Kutai Kartanegara, Sabtu (16/11/2011), adalah bencana yang bisa terjadi di mana saja. Ini mengingatkan kita pada film The Mothman Prophecies (2002).
Film ini berkisah tentang John Klien, seorang reporter sebuah surat kabar di Washington yang berusaha memecahkan teka-teki tragedi berbau supranatural di Kota Point Pleasan, di Virginia Barat.
Di kota kecil ini dia menemukan hal-hal yang misterius, dan selalu dihantui bayangan mahkluk bersayap. John pontang-panting memecahkan misteri itu, dan akhirnya menemukan jawaban: akan terjadi tragedi luar biasa di sebuah sungai, namun dia tak bisa memastikan persisnya di mana. Ternyata, tragedi itu adalah runtuhnya jembatan di Virginia saat lalu lintas padat.
Pasti tak ada hubungan runtuhnya jembatan di Tenggarong yang melintasi Sungai Mahakam itu dengan cerita supranatural. Sebab, risiko membangun jembatan gantung (tanpa tiang pancang di tengah) memang sangat tinggi.
Jembatan berpanjang 710 meter dan dibangun tahun 1995 dan dioperasikan 2001 ini, dianggap replika dari Golden Gate Bridge San Francisco yang termashur itu.
Paling tidak, beberapa peristiwa sebelumnya bisa menjadi alasan runtuhnya jembatan Tenggarong saat lalu lintas juga sedang padat itu. Misalnya, sudah berkali-kali jembatan ini tertabrak ponton pengangkut batubara. Dan ketika runtuh itu, juga sedang dilakukan proses perbaikan.
Namun di luar itu, jelas, kontruksi bangunan ini menyimpan masalah. Kontruksi bangunan ini pasti tidak dibangun hanya untuk 10 tahun. Sangat mahal sekali sebuah bangunan semegah itu jika hanya dibangun untuk 10 tahun dan kemudian diramalkan runtuh.
Dengan begitu, analisa orang awam akan dengan cepat mengatakan bahwa ada yang salah dengan jembatan ini sejak awal. Pemerintah mestinya mengusut kasus ini, dan harus menjadi pelajaran bagi pembangunan jembatan-jembatan lain di Indonesia, termasuk di Riau.
Sebab, jika terjadi pengurangan material, besi, semen, dan lain sebagainya dari cetak birunya, maka pertaruhannya adalah nyawa orang.
Di Pekanbaru, kita juga memiliki sebuah jembatan “tua” yakni Jembatan Siak I (Leighton) yang dibangun oleh PT Caltex Pacific Indonesia (CPI-sekarang Chevron) tahun 1975 dan selesai tahun 1977.
Kekhawatiran orang tentang kekuatan jembatan ini sudah lama, karena sebelum Siak II dibangun, inilah satu-satunya jembatan di Sungai Siak yang mengubungkan Kota Pekanbaru dengan daerah di “seberang” seperti Rumbai, Minas, Duri, atau Dumai, bahkan Medan. Bahkan, dulu jembatan ini juga menjadi lintasan bus-bus besar atau truk-truk barang dari maupun ke Pekanbaru.
Meskipun kontruksi jembatan ini diperkirakan tahan 100 tahun, namun apapun bisa saja terjadi seperti halnya Jembatan Tenggarong yang hanya merumur 10 tahun. Kita tak ingin tragedi itu terjadi, tetapi tak ada salahnya kita berpikir yang buruk dan waspada.*** Editor : Rindra Yasin