
PARIS (RIAUPOS.CO) - Gelombang demonstrasi yang dipicu tingginya biaya hidup dan desakan perbaikan kualitas pendidikan kembali pecah di kota-kota besar Prancis, Sabtu (24/10). Unjuk rasa itu diikuti 410 ribu orang di penjuru Prancis, 110 ribu di antaranya berkasi di jalanan utama Paris. Namun, menurut serikat pekerja CGT, jumlah peserta aksi mencapai 800 ribu orang.
Dilaporkan Le Monde, selain Paris, unjuk rasa juga berlangsung di Marseille, Lyon, Lille, Bordeaux, Toulouse, Montpellier, dan Nantes. Sekitar 70 ribu polisi dikerahkan untuk mengamankan unjuk rasa. Berdasarkan laporan Kementerian Dalam Negeri Paris, polisi menangkap sedikitnya 1.314 orang.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut, aparat keamanan harus berhadapan langsung dengan tingkat kekerasan ekstrem dari kelompok ”ultra-kiri” yang memakai baju serba hitam. ”Kami mengerahkan kekuatan penuh untuk memulihkan ketertiban,” ujar Nunez.
Baca Juga: Kecam Islamofobia, Mantan Presiden AS Bill Clinton Kutip Surah Al-Hujurat dalam Al Qur’an
Pasukan antihuru-hara menembakkan gas air mata dan meriam air ke arah kerumunan massa. Dua orang dilaporkan mengalami luka serius, termasuk seorang pria di Toulouse yang kehilangan jari, serta satu korban lainnya di Clermont-Ferrand.
Perlawanan sengit juga terjadi di berbagai daerah. Di Nantes, ribuan pengunjuk rasa nekat menerobos barisan polisi. Di Rennes, seorang mahasiswi berusia 23 tahun bernama Emma dengan lantang mengecam penindasan rezim terhadap para pelajar yang menuntut fasilitas belajar layak.
Dilaporkan AFP, polisi beberapa kali menembakkan gas air mata dan memukul sejumlah pengunjuk rasa, yang sebagian besar merupakan kaum muda. ”Mereka menjatuhkan orang-orang begitu saja, memukuli para pengunjuk rasa,” ujar David yang wajahnya berdarah akibat hantaman tongkat pemukul seperti disampaikan kepada AFP.
Baca Juga: Parlemen Malaysia Kritik Penanganan Karhutla Indonesia, Disampaikan Dalam Sidang Lewat Bahasa Jawa
Kelompok Yellow Jackets (Rompi Kuning) yang sempat melumpuhkan kekuasaan Macron delapan tahun lalu kini kembali menyerukan aksi besar-besaran pada 31 Oktober mendatang demi menuntut kebebasan berpendapat.
Kandidat presiden sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, yang ikut turun langsung ke jalan di Paris, memperingatkan bahwa gerakan perlawanan ini tidak akan padam. ”Ini akan terus berulang setiap pekan,” katanya.
Sementara itu, gelombang protes serupa mulai menjalar ke negara tetangga seperti Italia, Belgia, Spanyol, dan Portugal dengan tuntutan yang tak jauh berbeda.(idr/jun/jpg)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



