JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Iran jadi sorotan dunia. Pemimpin agung mereka Ayatollah Ali Khamenei baru saja meninggal akibat serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel menghantam Teheran, Sabtu (28/2/2026). Pasacatewasnya Ali Khamenei, kini beredar rumor bahwa penggantinya, Alireza Arafi juga tewas dalam serangan udara hanya beberapa jam setelah ditunjuk.
Informasi tersebut pertama kali ramai di media sosial dan sejumlah laporan media Israel. Namun hingga Senin (2/3/2026), belum ada konfirmasi resmi dari media pemerintah Iran maupun kantor berita internasional besar.
Situasi ini mengingatkan pada kekacauan informasi saat kabar kematian Khamenei muncul. Awalnya diumumkan otoritas Israel sebelum akhirnya diakui pejabat Iran.
Arafi diangkat sebagai pemimpin sementara pada hari yang sama ketika Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara di Teheran. Ulama senior yang lama berkecimpung di lingkaran elite keagamaan dan politik Iran itu dipandang sebagai figur internal yang loyal dan berpengaruh.
Namun, belum genap 48 jam menjabat, muncul klaim tak terverifikasi yang menyebut ia ikut menjadi korban gelombang serangan lanjutan. Jika benar, situasi ini akan memperdalam ketidakpastian politik di tengah konflik kawasan yang terus memanas.
Mengacu Pasal 111 Konstitusi Iran, ketika pemimpin tertinggi wafat atau tidak mampu menjalankan tugas, kewenangan dialihkan sementara kepada dewan kepemimpinan beranggotakan tiga orang. Arafi ditunjuk sebagai perwakilan ulama dalam struktur tersebut.
Baca Juga: Hutan Mangrove Seluas 3,4 Hektare di Bantan Sari Dibabat, Masyarakat Khawatir Ancaman Abrasi
Ia bergabung dengan Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei. Ketiganya memegang penuh kewenangan konstitusional hingga Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih pemimpin tertinggi definitif.
Dewan ini bertugas menjaga kesinambungan pemerintahan, stabilitas politik, dan keamanan dalam negeri—tugas berat di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang kian terbuka.
Apabila laporan kematian Arafi terkonfirmasi, Iran berpotensi menghadapi krisis konstitusional. Komposisi dewan sementara menjadi timpang, sementara tekanan untuk segera menunjuk pengganti dan mempercepat pemilihan pemimpin tetap akan meningkat drastis.
Kondisi ini bisa memicu perebutan pengaruh di internal elite, terutama saat sistem politik Iran berada dalam tekanan berat akibat serangan militer dan korban yang terus bertambah di kawasan Asia Barat.
Untuk saat ini, klaim tersebut masih sebatas spekulasi. Tidak ada pernyataan resmi yang menyebut struktur kepemimpinan sementara terganggu.
Namun, di tengah rentetan serangan dan balasan yang terus berlangsung, ketidakpastian ini memperbesar kekhawatiran global terhadap arah kepemimpinan Iran dan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.***
Editor : Edwar Yaman