Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Evakuasi WNI Dimulai, Iran Siap Hadapi Serangan Darat

Redaksi • Sabtu, 7 Maret 2026 | 16:43 WIB

Ilustrasi rudal Iran menghantam pusat kota Tel Aviv Israel.
Ilustrasi rudal Iran menghantam pusat kota Tel Aviv Israel.

TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Semua warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Timur Tengah dalam kondisi aman meski situasi di kawasan tersebut tengah bergejolak. Tapi, proses evakuasi bakal tetap dilakukan, khususnya bagi mereka yang berada di Iran.

Menurut data Kementerian Luar Negeri, setidaknya ada 329 WNI yang berada di Iran dan didominasi mahasiswa. Plt Direktur PWNI Heni

Hamidah menyatakan, pemerintah telah membentuk Tim Respons Krisis untuk memantau situasi mereka.

Hasilnya, tidak ada WNI yang terdampak langsung konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)–Israel dengan Iran. “Adanya WNI stranded karena pembatasan atau penutupan ruang udara, pengalihan rute penerbangan, serta ketidakpastian jadwal transportasi internasional,” kata Heni dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin (6/3).

Evakuasi WNI di Iran dimulai kemarin. Tahap pertama akan melalui Azerbaijan. Ada 32 orang yang dievakuasi. Iran berbatasan langsung dengan Azerbaijan di sebelah utara.

Perbatasan darat tersebut memiliki panjang sekitar 689 kilometer (428 mil) dan terdiri dari dua bagian utama yang terpisah oleh perbatasan Armenia–Iran sepanjang 44 km. Lewat jalur ini pula pemerintah mengevakuasi WNI saat Perang 12 Hari tahun lalu yang juga dipicu serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran.

Mereka yang terdampar, lanjut Heni, juga mendapatkan perlindungan, termasuk akomodasi, penginapan, konsumsi, dan pengaturan jadwal penerbangan lanjutan. “Penanganan jamaah umrah menjadi perhatian. Perwakilan Indonesia menerjunkan tim pemantauan di Bandara Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, selama 24 jam. Jamaah yang masih tertahan kepulangannya di bawah koordinasi perwakilan dan travel dicarikan akomodasi atau penginapan di sekitar Bandara Jeddah dan Madinah,” ungkapnya.

Dalam pada itu, Pejabat tinggi Iran mengatakan kalau mereka siap menghadapi kemungkinan invasi darat Amerika Serikat dan Israel.

“Itu akan menjadi bencana besar bagi Amerika,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim.

Israel konon memang tengah mempersiapkan pasukan untuk melakukan serangan lewat darat. Sedangkan AS juga sudah melakukan pendekatan ke kelompok pemberontak Kurdi yang berbasis di kawasan perbatasan Irak-Iran.

Sejauh ini, Iran membalas Amerika dan Israel dengan menargetkan kantor perwakilan atau pangkalan militer yang berada di kawasan Teluk. Salah satunya pada 3 Maret lalu saat drone Iran menyerang pangkalan CIA (Badan Intelijen AS) yang berada di kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi.

Beredar kabar bahwa empat anggota CIA meninggal. Selain itu, ada delapan personel lain terluka. Sebelumnya, ada enam perwira senior CIA yang juga dikabarkan meninggal saat Iran menyerang markas CIA di Uni Emirat Arab.

Sementara itu, ibu kota Iran Teheran kembali diguncang gelombang serangan udara besar dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ledakan besar terdengar di berbagai penjuru kota sejak Jumat (6/3), disertai kepulan asap tebal yang membubung.

Militer Israel menyatakan telah memulai gelombang baru serangan yang menargetkan infrastruktur pemerintah Iran. Serangan itu disebut sebagai fase baru operasi militer terhadap Teheran.

Di saat yang sama, militer AS mengerahkan pesawat pengebom siluman B-2 untuk menghantam fasilitas peluncur rudal balistik Iran yang berada jauh di bawah tanah. Menurut pejabat militer AS, puluhan bom “penetrator” dijatuhkan untuk menghancurkan target tersebut.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengatakan, serangan itu ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kepentingan Amerika. “Kami juga telah menyerang fasilitas yang setara dengan komando antariksa Iran yang menurunkan kemampuan mereka untuk mengancam warga Amerika,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Selain fasilitas militer dan pemerintahan, sejumlah lokasi sipil ikut terdampak. Beberapa bangunan tempat tinggal, area parkir kendaraan, hingga stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan terkena serangan. Serangan tidak hanya terjadi di Teheran. Ledakan juga dilaporkan di beberapa kota lain seperti Shiraz, Qom, Isfahan, dan Kermanshah yang dikenal memiliki fasilitas militer dan pangkalan rudal Iran.

Iran tidak tinggal diam. Militer mereka menyatakan akan memperluas serangan balasan dalam beberapa hari mendatang.

Jadi Sorotan

Serangan kapal selam AS ke kapal perang Iran yang baru pulang dari parade di India dan tidak membawa senjata menjadi sorotan luas. Insiden tersebut terjadi di perairan Sri Lanka.

AS dianggap tak beradab karena melakukan serangan di luar wilayah perang dan tidak dalam kondisi berhadapan. Kegagalan India melindungi armada yang baru saja memenuhi undangan mereka juga dikecam. Apalagi, dalam pernyataan resminya yang dirilis 24 jam setelah insiden pada Rabu (4/3) lalu itu, India sama sekali tak menyebut siapa penyerang kapal tersebut.

“Insiden ini merupakan aib bagi India dan melemahkan kredibilitasnya,” kata Direktur Society for Policy Studies C Uday Bhaskar, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Dari 4 Pekan Jadi Perang 6 Bulan


Kalau tiap drone “rumahan” Iran seharga 20 ribu dolar AS harus diintersep dengan empat-lima rudal yang biaya pembuatannya 4 juta dolar AS per unit, bisa dibayangkan betapa besar beban Amerika Serikat jika harus berperang selama enam bulan. Perang yang tak pernah jelas tujuan awalnya dan hanya didukung satu dari empat warga Negeri Paman Sam.

Dalih awalnya ingin menghentikan program nuklir Iran. Lalu berubah ke pergantian rezim. Kemudian berganti menjadi menghancurkan semua misil balistik. Terbaru malah bilang ingin melindungi warga Amerika Serikat (AS) dari ancaman Teheran—tanpa pernah jelas benar bahaya macam apa yang dimaksud.

Tapi tak hanya narasi penyerangan AS bersama Israel ke Iran yang mencla-mencle. Perkiraan durasi juga demikian. Presiden Donald Trump pernah berkoar perang paling lama bakal berlangsung empat pekan.

Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Perang Pete Hegseth juga menyebut, ini bukan “forever war” seperti yang pernah dialami AS di Irak dan Afghanistan. Tapi, United States Central Command (CENTCOM) di Tampa, Florida, sudah mengajukan permintaan ke Pentagon agar menambah tenaga intelijen.

Sebab CENTCOM meyakini, dukungan untuk Perang Iran bakal dibutuhkan “setidaknya” selama 100 hari. “Dan, kemungkinan bisa berlangsung sampai September,” kata sejumlah pejabat CENTCOM, seperti ditulis Politico.

Untuk sebuah perang yang sangat besar biayanya, telah melonjakkan harga minyak dan gas dunia, memicu kemarahan para sekutu di kawasan Teluk Persia, dan tak didukung publik sendiri, apa benar AS bakal bisa bertahan selama itu?

Asimetri Biaya

Untuk setiap drone Shahed yang ditembakkan Iran yang biaya pembuatannya hanya 20 ribu dolar AS, Amerika harus menangkalnya dengan rudal Patriot PAC-3 yang dibuat dengan dana sekitar 4 juta dolar AS. Dan satu pesawat nirawak harus diintersep dengan empat-lima misil.

Itu artinya, AS harus mengeluarkan biaya 16–20 dolar AS juta untuk menghentikan satu drone berharga 20 ribu dolar AS . AS harus merogoh kocek sekitar 200 kali ketimbang Iran. Jelas itu asimetri atau ketimpangan yang tidak main-main.

Pentagon mengestimasi, AS harus mengeluarkan biaya 1 juta dolar AS per hari. Sampai dengan kemarin siang pukul 14.00 WIB, Negeri Paman Sam itu telah menguras kantong lebih dari 6,1 miliar dolar AS.

Semuanya dari uang pajak rakyat. Wajar kalau kemudian berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang hasilnya dirilis pekan lalu, hanya satu dari empat warga AS yang mendukung penyerangan ke Iran.

Bahkan pendukung berat Trump di kalangan gerakan Make America Great Again juga meminta sang presiden lebih fokus ke persoalan dalam negeri. Komentator politik Tucker Carlson, misalnya, yang bahkan menyebut kebijakan perang tersebut menjijikkan.(lyn/ttg/jpg)

Editor : Bayu Saputra
#iran #amerika serikat #israel #iran vs amerika #teheran