
RIAUPOS.CO - Tempe dikenal sebagai sumber protein nabati yang bernutrisi dan serbaguna. Bukan hanya lauk murah dan sederhana.
Makanan berbahan dasar kedelai ini juga memiliki tekstur yang padat, cita rasa gurih, serta kemampuannya menjadi alternatif protein hewani dalam beragam hidangan.
Dikutip dari Harvard Health, tempe dibuat melalui proses fermentasi kedelai menggunakan kultur mikroorganisme selama sekitar dua hingga tiga hari.
Baca Juga: Wako Agung Dorong Lahirkan Generasi Qurani, MTQ Mulai Digelar di 3 Kecamatan Pekanbaru
Proses tersebut menghasilkan tekstur padat dengan cita rasa khas yang sedikit menyerupai kacang dan memiliki sensasi gurih.
Tempe memiliki kandungan protein dan serat yang cukup tinggi. Dalam porsi setengah cangkir, tempe polos mengandung sekitar 18 gram protein dan 6 gram serat. Tempe juga menyediakan zat besi, kalsium, serta lemak tak jenuh.
Kandungan protein lengkapnya mencakup sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh, sehingga tempe dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan protein sehari-hari.
Baca Juga: Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Polri Janji Lakukan Evaluasi Secara Objektif dan Profesional
Proses fermentasi turut mengubah sebagian protein dan pati sehingga tempe dapat lebih mudah dicerna oleh sebagian orang.
Meski demikian, tempe tidak selalu dapat dianggap sebagai sumber probiotik karena banyak produk komersial telah melalui proses pasteurisasi yang dapat membunuh mikroorganisme hidup.
Oleh sebab itu, manfaat tempe lebih tepat dilihat dari keseluruhan kandungan gizinya, bukan semata-mata dari proses fermentasinya.
Untuk mendapatkan pilihan yang lebih sehat, tempe polos dapat diolah dengan cara dipanggang, ditumis, dipanggang menggunakan air fryer, atau dibakar setelah dimarinasi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


