RIAUPOS.CO - BUAH delima dikenal rendah kalori, tinggi serat, dan kaya antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Karena tidak mengandung banyak kalori atau lemak, buah ini dapat dimasukkan ke dalam rencana diet pengelolaan berat badan. Ternyata, biji delima kaya akan nutrisi penting dan menawarkan banyak manfaat kesehatan.
Faktanya, biji delima kaya akan antioksidan, khususnya punicalagin dan antosianin, yang membantu melawan stres oksidatif, mengurangi peradangan, dan melindungi sel dari kerusakan. Dilansir dari Healthshots, berikut adalah enam manfaat kesehatan dari biji delima yang jarang diketahui orang.
Pertama, biji delima kaya akan antioksidan, khususnya polifenol yang membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif akibat radikal bebas. Tidak hanya itu, antioksidan juga membantu melawan penyakit kronis seperti diabetes, masalah kesehatan jantung, dan kanker.
Kedua, biji delima baik untuk pencernaan yang sehat karena kandungan serat dan efek antiinflamasi. Serat membantu mengatur pergerakan usus, mencegah sembelit, dan menjaga mikrobioma usus yang sehat. Sifat antiinflamasinya dapat membantu mengatasi berbagai masalah pencernaan.
Ketiga, mengonsumsi biji delima juga dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dengan mengurangi kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan fungsi pembuluh darah. Kandungan antioksidan, khususnya punicalagin dan antosianin, serta sifat antiinflamasi membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada sistem kardiovaskular.
Keempat, buah ini membantu meningkatkan kesehatan kulit dengan mengurangi kerutan, mencegah kulit terbakar sinar matahari dan kerusakan akibat paparan lingkungan, mengurangi jerawat, meningkatkan produksi kolagen, serta mendetoksifikasi kulit. Kandungan antioksidannya sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko penuaan dini.
Kelima, biji delima kaya akan beberapa senyawa, seperti asam ellagic dan antosianin, yang memiliki sifat antikanker. Senyawa-senyawa ini menghambat pertumbuhan sel kanker dan mendorong apoptosis, yaitu suatu proses alami saat tubuh mengeliminasi sel-sel yang rusak atau berbahaya.
Editor : Arif Oktafian