Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Menjelang HUT, Ini Pesan Tokoh Kuantan Singingi

Desriandi Candra • Rabu, 9 Oktober 2024 | 16:51 WIB
Dr Edyanus Herman Halim SE MSi
Dr Edyanus Herman Halim SE MSi

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) -- Dalam hitungan beberapa hari kedepan, tepat 12 Oktober 2024, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), genap berusia 25 tahun. Diusianya itu, Kuansing sudah menunjukkan berbagai kemajuan. Tapi tetap masih saja ada "PR" yang belum tercapai dan terselesaikan.

Para tokoh Kuansing pun berharap, kedepan bisa lebih baik.

"Alhamdulillah, Kuansing sudah menjadi kabupaten. Paling tidak sudah ada otonomi dalam melakukan pembangunan. Sudah ada bupati, DPRD dan aparatur lainnya yang dapat mengambil keputusan untuk pembangunan daerah," ungkap Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Dr H Edyanus Herman Halim SE MS, Rabu (9/10/2024) di Teluk Kuantan.

Sebagai Datuak Bisai XII maupun sebagai salah seorang dari Pendiri Kabupaten Kuansing, Edyanus melihat, sudah ada perubahan yang signifikan dan sudah jauh berbeda dengan ketika Kuansing masih tergabung dengan Inhu.

Hanya saja mungkin seharusnya perubahan-perubahannya jauh lebih besar dan lebih maju dari itu.

Cita-cita para pendiri adalah tingkat kesejahteraan lebih baik. Lapangan kerja terbuka. Lingkungan terjaga lestari. Sekarang ini, itu yang memprihatinkan.

Penambangan emas tanpa izin (PETI) tak teratasi dengan baik. Narkoba dan judi merayap sampai ke kampung-kampung.

Tantangan ke depan sangat besar, namun formulasi strategi menghadapi itu nampaknya belum begitu tepat.

APBD Kuansing masih sebahagian besar untuk belanja rutin atau belanja operasional. Belanja modal atau pembangunan relatif kecil. Peran PAD dalam struktur pendapatan daerah pun dilihat masih minim.

Menyedihkan lagi bahwa "perseteruan politik" seperti menjadi kendala bagi lompatan-lompatan pembangunan yang seharusnya dapat dilakukan.

 

"Harapan kita semoga ke depan dilakukan pembangunan yang lebih terencana dan sesuai dengan kebutuhan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tidak semua keinginan masyarakat itu harus dituruti. Rakyat juga tidak jarang terpengaruh cabaran-cabaran global. Untuk itu lakukanlah kajian dengan baik sebelum kebijakan pembangunan itu diimplementasikan. Dasar fikirnya harus baik dan komprehensif sehingga kehijakan tidak hanya sekedar pemenuhan hasrat-hasrat belaka," kata akademisi ini.

Menurut Edyanus yang terpenting jangan sampai surau-surau, musala dan masjid-masjid menjadi sepi.

Tetapi tetap diramaikan khususnya oleh generasi muda agar masyarakat mampu menangkal cabaran-cabaran yang datang dari luar maupun gesekan-gesekan muncul dari dalam.

Bagi masyarakat Kuansing itu sangat vital sebab "Adat Bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah".

Pengejawantahan budaya daerah dan leluhur tidak mungkin terjadi bila implementasi kehidupan beragama tidak nyata dan terpelihara.

Disisi lain, dia juga mengingatkan agar pemerintah jangan lupa untuk tetap memacu keberhasilan produktivitas pangan. Definisi masyarakat sejahtera dalam khasanah adat Kuansinh adalah:

"Padi menguniang, Jaguang Meupia, teronak berkombang biak, anak buah sonang sentosa, mamak disombah urang pulo".

Ini artinya, harus menjada "neraca pangan" agar tidak terjadi krisis dan ketergantungan pada pihak lain. Hubungan harmonis harus dikedepankan walaupun itu dalam basis hubungan atasan dan bawahan. Tidak ada yang namanya eksploitasi apalagi penjajahan dalam khasanah kehidupan masyarakat adat Kuansing.

"Mamak disombah urang pulo" berarti integritas dan marwah adalah diatas segalanya. Para pemimpin harus mampu menjaga itu, baik di pemerintahan maupun di masyarakat.

Dalam momen HUT Kuansing sekarang, dia mengajak agar hidupkan kembali kesenian-kesenian tradisonal daerah untuk memberi hiburan yang berbasis budaya lokal.

 

Galakkan kembali makanan-makanan tradisional Kuansing untuk menjadi penguat citra positif atas keberadaan masyarakat. Link kan itu dengan program pengembangan pariwisata sehingga Kuansing menjadi daerah tujuan wisata yang asyik dan menggembirakan.

Jaga keamanan masyarakat dan kenyamanan tetamu yang datang sehingga timbul kesan apik dan perasaan membahagiakan ketika orang berada di Kuansing.

Selesaikan batas-batas desa dan kecamatan dengan baik agar tidak menimbulkan gesekan dalam masyarakat. Sambil memberikan literasi untuk pemahaman bahwa batas-batas desa hanyalah soal administratif pemerintahan.

Secara budaya, Kuansing tetap satu dalam lingkup masyarakat adat Kuantan Singingi.

"Itu harapan-harapan saya. Baik sebagai Datuak Bisai XII maupun sebagai salah seorang dari Pendiri Kabupaten Kuansing," ujarnya.

Editor : RP Rinaldi
#peti kuansing #tokoh kuansing #hut kuansing #ulang tahun ke 25 #tingkat kesejahteraan #tokoh pendiri #hut kabupaten kuansing ke 25