Mapala Connect 2026 Bahas Ancaman Karhutla, Gambut hingga Restorasi Hutan

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan lingkungan di Riau, terutama pada kawasan gambut yang rentan terbakar ketika mengalami kekeringan.
Memahami karakteristik gambut, upaya pencegahan kebakaran, serta pentingnya pemulihan ekosistem menjadi sejumlah topik yang dibahas dalam Diskusi Konservasi Mapala Connect 2026.
Kegiatan yang digelar pada 3–4 Oktober 2026 di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, tersebut mempertemukan mahasiswa pencinta alam dari berbagai perguruan tinggi di Riau untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan lingkungan.
Baca Juga: Skor Akhir Persib Bandung 0 Madura United 1, Dimitar Mitkov Pastikan Kemenangan di Menit Akhir
Penyuluh lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, Prayoto, memaparkan berbagai tantangan dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut.
Menurutnya, sebagian besar wilayah Riau memiliki karakteristik lahan gambut yang rentan mengalami kerusakan apabila tidak dikelola secara tepat.
"Tantangan dan hambatan karhutla, Provinsi Riau didominasi kurang lebih 50 persen lahan gambut, yang sebagian belum dilakukan tata kelola gambut, sehingga gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Masih ada perilaku masyarakat yang belum ramah lingkungan," terangnya.
Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan gambut, mulai dari menjaga kondisi tata air, meningkatkan pengawasan, hingga membangun kesadaran masyarakat terhadap aktivitas yang berisiko menimbulkan kebakaran.
Restorasi Hutan Tidak Sekadar Menanam Pohon
Selanjutnya, Biodiversity Conservation Manager Restorasi Ekosistem Riau (RER), Yoan Dinata, menjelaskan, bahwa pemulihan kawasan gambut membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




