JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pemantauan hilal atau rukyatulhilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah akan digelar Kementerian Agama (Kemenag) pada 17 Februari 2026. Pemantauan akan dilakukan di 96 titik yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Riau yakni di Kota Dumai.
Hasil rukyatulhilal tersebut akan dibahas dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H yang digelar pada hari yang sama di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta.
Dari 96 titik pemantauan hilal tersebut, di Riau hanya satu titik yakni di Dumai, tepatnya di rooftop Hotel Sonaview. Dari ketinggian gedung tersebut, para ahli falak akan menanti senja, sembari mengamati ufuk barat untuk memastikan hadir atau tidaknya hilal penanda bulan suci.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Riau melalui Kepala Bidang Urusan Agama Islam Muhammad Fakhri mengungkapkan, pemilihan rooftop Hotel Sonaview atas pertimbangan aspek teknis. Mulai dari kemudahan akses hingga ketinggian lokasi yang memenuhi standar pemantauan.
“Posisinya cukup strategis. Arah pandangan ke matahari terbenam relatif terbuka dan minim gangguan, sehingga mendukung proses rukyatulhilal,” ujar Fakhri, Jumat (6/2) pekan lalu.
Selain di Riau, 95 titik pemantauan hilal berada di Aceh (1), Sumatera Utara (1), Sumatera Barat (15), Riau (1), Kepulauan Riau (5), Jambi (1), Sumatera Selatan, Bangka Belitung (1), Bengkulu (1), Lampung (1), DKI Jakarta (6), Jawa Barat (1), Banten (1), dan Jawa Tengah (15), Yogyakarta (4), Jawa Timur 9, Kalimantan Barat (1), Kalimantan Tengah (1), dan Kalimantan Timur (2).
Selanjutnya, di Kalimantan Selatan (1), Kalimantan Utara (1), Bali (1), NTB (1), NTT (2), Sulawesi Selatan (2), Sulawesi Barat (3), Sulawesi Tenggara (1), Sulawesi Utara (1), Gorontalo (1), Sulawesi Tengah (7), Maluku (7), Maluku Utara (2), Papua (1), dan Papua Barat (1).
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan, sidang isbat merupakan forum penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, dan kebersamaan umat.
“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatulhilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (12/2).
Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Sementara itu, sudut elongasi berkisar antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
Data tersebut menunjukkan bahwa hilal secara teoritis belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan, termasuk kriteria MABIMS. Untuk melengkapi data hisab, Kemenag tetap melaksanakan rukyatulhilal di 96 lokasi.
Pengamatan dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi serta Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, dan instansi terkait lainnya. “Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat,” tegas Abu Rokhmad.
Ia menambahkan, keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan secara resmi melalui konferensi pers setelah sidang isbat selesai.
“Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir akan disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia,” ujarnya.
Sidang isbat akan dihadiri sejumlah pihak, antara lain duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, pakar falak dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pimpinan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.
Muhammadiyah Riau Siapkan Berbagai Kegiatan
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2). Penetapan ini berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, Nomor: 2/MLM/I.0/E/2025, tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Wakil Ketua PW Muhammadiyah Riau Dr H Imron Rosyadi mengatakan, dalam penetapan awal Ramadan tersebut hisab Muhammdiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yaitu perhitungan astronomis yang menetapkan awal bulan Hijriah saat matahari terbenam lebih dulu dari pada bulan, selama hilal sudah di atas ufuk.
“Dapat kami sampaikan berdasarkan keputusan PP Muhammadiyah ditetapkan bahwa awal puasa atau 1 Ramadan ditetapkan pada Rabu 18 Februari 2026. Kemudian Idulfitri atau 1 Syawal ditetapkan pada Jumat 20 Maret 2026,” katanya.
Dengan sudah adanya keputusan dari PP Muhammdiyah tersebut, pihaknya meminta kepada seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah untuk dapat mengikutinya. Namun demikian, jika nantinya ada perbedaan dalam penetapan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk dapat saling menghormati.
“Harapan kami tidak ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadan tahun ini. Kalau memang ada perbedaan, kami minta masyarakat saling menghormati,” imbaunya.
Untuk menyemarakkan Ramadan tahun ini, PW Muhammdiyah Riau bersama dengan Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) juga telah menyiapkan berbagai kegiatan. Mulai dari Lomba Kreativitas Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) Antar Unit Kerja di Umri. Lomba Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) Mahasiswa Tingkat Internasional.
“Kemudian juga Tasmik Akbar Mahasiswa Tahfiz Universitas Muhammadiyah Riau. Tablig akbar dan penyerahan 1.500 santunan duafa/kaum miskin. Termasuk juga kegiatan tarawih dan pengajian sebelum Salat Zuhur yang terbuka untuk umum,” paparnya.(ilo/sol/jpg)
Editor : Arif Oktafian