Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rangsang di Tepi Selat yang Tak Pernah Tidur

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Nazaruddin Nasir, Pengamat energi bermastautin di Pekanbaru.
Nazaruddin Nasir, Pengamat energi bermastautin di Pekanbaru.

Advertisement

 Di peta dunia, Selat Melaka tampak seperti urat nadi perdagangan global. Jalur sempit yang memisahkan Sumatra dan Semenanjung Malaysia itu saban hari dilintasi ribuan kapal tanker, kapal kontai­ner, kapal curah, hingga kapal pengangkut energi dari Timur Tengah menuju Asia Timur. Ia salah satu jalur pelayaran tersibuk di muka bumi.

Namun bagi masyarakat Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti, lalu lintas laut itu bukan sekadar simbol ekonomi dunia. Ia juga membawa ancaman yang perlahan menggerus daratan  sedikit demi sedikit. Abrasi di Pulau Rangsang kini bukan lagi cerita akademik di ruang seminar kampus. Ia sudah menjadi kenyataan yang dilihat warga setiap hari. Pohon kelapa tumbang ke laut. Jalan kampung amblas. Makam tua mendekati bibir ombak. Bahkan ada rumah warga yang dahulu jauh dari pantai, kini menunggu giliran dihantam gelombang.

Advertisement

Ironisnya, kerusakan itu berlangsung perlahan, nyaris tanpa suara. Tidak dramatis seperti tsunami. Tidak menggelegar seperti badai besar. Tetapi justru karena terjadi diam-diam, banyak orang gagal memahami betapa serius ancamannya. Selama ini abrasi di Rangsang sering hanya dijelaskan secara sederhana: ombak besar, mangrove rusak, lalu pantai terkikis. Penjelasan itu tidak salah, tetapi belum lengkap. Ada faktor besar lain yang jarang dibicarakan serius, yakni pengaruh Selat Malaka sebagai jalur transportasi laut superpadat.

Dalam ilmu oseanografi pantai, setiap kapal besar sebenarnya adalah “mesin pembangkit gelombang”. Kapal tanker raksasa yang melintas membawa energi gelombang sangat besar. Di laut lepas, ener­gi itu mungkin cepat menyebar. Tetapi di Selat Malaka yang relatif sempit dan dangkal, gelombang tersebut terus merambat hingga menghantam pesisir pulau-pulau kecil di sekitarnya. Masalahnya, Pulau Rangsang bukan pulau karang yang keras. Struktur geologinya didominasi tanah gambut, lumpur lunak, dan sedimen aluvial. Dengan karakter seperti itu, pantai Rangsang ibarat tubuh renta yang terus menerima pukulan kecil tanpa henti.

Advertisement

Gelombang kapal mungkin terlihat sepele bila dilihat satu per satu. Tetapi bayangkan ribuan kapal melintas setiap hari, sepanjang tahun, tanpa jeda. Pantai menerima “ketukan” terus-menerus siang dan malam. Sedikit demi sedikit tanah menjadi retak, lumpur teraduk, lalu longsor ke laut.

Itulah yang disebut para ahli sebagai chronic coastal retreat-kemunduran garis pantai secara permanen dan sistematis. Belum lagi efek turbulensi baling-baling kapal besar yang mengganggu kestabilan sedimen dasar laut. Lumpur halus yang seharusnya mengendap di pesisir justru terangkat dan terseret arus. Akibatnya, pantai kehilangan material alami memperbaiki dirinya sendiri.

Padahal pantai berlumpur seperti Rangsang sangat bergantung pada suplai sedimen. Jika sedimen yang hilang lebih banyak daripada yang datang, maka abrasi akan terus menang. Di sinilah ironi besar itu muncul. Selat Melaka membawa keuntungan ekonomi dunia, tetapi pulau-pulau kecil di sekitarnya ikut membayar ongkos ekologis yang mahal. 

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kerusakan mangrove yang terjadi selama puluhan tahun. Dulu pesisir Meranti dikenal memiliki sabuk bakau yang sangat kuat. Mangrove itu bukan sekadar pohon liar pinggir laut. Ia adalah benteng alami yang memecah gelombang, menangkap lumpur, dan mengikat tanah gambut agar tidak mudah hanyut. 

Sejarah mencatat, pada era 1970 hingga 1980-an, penebangan bakau berlangsung masif. Kayu bakau dari pesisir timur Sumatra banyak diseludupkan ke Singapura untuk kebutuhan konstruksi pelabuhan, reklamasi, dan pembangunan kawasan industri. Ada ironi yang pahit di sana. Ketika gedung-gedung tinggi tumbuh megah di negeri seberang, sebagian benteng ekologis kita justru habis ditebang untuk menopang pembangunan itu.

Kini Akibatnya Mulai Kita Rasakan 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Guru Besar IPB Prof Bambang Hero Sebut Perusakan Mangrove Ancam Kedaulatan dan Keamanan Global

Guru Besar IPB Prof Bambang Hero Sebut Perusakan Mangrove Ancam Kedaulatan dan Keamanan Global

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lin IPB, Bambang Hero Saharjo menegaskan penebangan mangrove ilegal jadi ancaman terhadap keamanan global

Tangkap Dua Cukong, Polda Riau Amankan 100 Ton Arang Bakau Hasil Pembabatan Mangrove Wilayah Pesisir

Tangkap Dua Cukong, Polda Riau Amankan 100 Ton Arang Bakau Hasil Pembabatan Mangrove Wilayah Pesisir

100 ton arang bakau hasil pembabatan mangrove wilayah pesisir disita Polda Riau. Bersama barang bukti, polisi juga menangkap dua pelaku

Sebuah Catatan: Belajar dari Seorang Pemimpin

Sebuah Catatan: Belajar dari Seorang Pemimpin

tulisan opini di riau pos judul sebuah catatan: belajar dari seorang pemimpin oleh arsilia arsyadjuliandi tentang ketum dpp iwapi nita yudi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer