
Mengawali artikel ini penulis mengajak pembaca untuk mencermati beberapa pertanyaan berikut : Dari mana budaya suatu organisasi berasal? Bagaimana cara karyawan mempelajari budaya tersebut? Dan mengapa budaya organisasi perlu dilakukan perubahan? Budaya bersumber dari visi dan misi para pendiri organisasi.
Mereka menetapkan budaya awal dengan membayangkan citra yang akan melekat atau diraih organisasi. Budaya ini untuk selanjutnya menjadi adat istiadat, tradisi, pola pikir, pola kerja bagi seluruh karyawan yang terlibat dalam organisasi untuk bertindak dan berprilaku.
Singkatnya, budaya organisasi merupakan “kepribadian perusahaan” atau cara orang-orang berperilaku dan berinteraksi setiap hari, yang bertindak sebagai perekat sosial menyatukan organisasi, serta menjadi kompas bagi karyawan dalam berperilaku dan mengambil keputusan.
Sudahkah kita sebagai bagian dari organisasi mampu memaknai, memahami dan melaksanakan budaya organisasi dengan benar sesuai dengan harapan para pendiri? Jika belum mampu mengimplementasikan budaya organisasi ditempat anda bekerja, berarti anda termasuk bagian dari orang-orang yang berdosa terhadap organisasi.
Para pendiri menginisiasi terbentuknya budaya organisasi berdasar pada keyakinan dan nilai yang dianut. Misalnya budaya hemat bermula dari gaya hidup sederhana pendirinya, budaya disiplin menggambarkan perlunya menghargai waktu dalam menata kehidupan. Karena itu mereka akan merekrut orang-orang yang berpikiran sama untuk bekerja bersama dan sama-sama bekerja.
Lebih lanjut terbentuknya budaya organisasi, berdasar pengalaman belajar dari pemilik organisasi. Mereka mempunyai keyakinan bahwa pengalaman belajar dan mencari solusi saat menghadapi krisis sebagai pengalaman yang telah mereka lalui. Pengalaman cara mereka menangani masalah tersebut akan menjadi “resep” tetap dan dijadikan filosofi dalam menata organisasi.
Disamping hal tersebut, terbentuknya budaya organisasi bersumber dari interaksi antar anggota. Norma-norma yang berkembang dalam berkomunikasi secara efektif dan cara tim menyelesaikan konflik sebagai bagian dari filosofi organisasi. Inilah sebagai cikal bakal lahirnya budaya organisasi yang dibentuk dari pemikiran pendirinya.
Setelah budaya terbentuk, organisasi memiliki tugas untuk “mempertahanan diri” agar nilai-nilai tersebut tidak luntur. Kekuatan utama untuk menjaga pertahanan diri di antaranya: mengidentifikasi dan mempekerjakan individu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk bekerjasama dengan seluruh anggota organisasi.
Selanjutnya Manajemen Puncak sebagai penggagas kultur organisasi, harus menjadi teladan bagi semua anggotanya. Mampukah pemimpin menetapkan norma-norma yang meresap ke bawah, sehingga melahirkan sebuah komitmen untuk dilaksanakan secara bersama sama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




