Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Sawit Membakar Langitnya Sendiri  

R
Penulis: Redaksi❯
DARMA F SITOMPUL. (JPG)
DARMA F SITOMPUL. (JPG)

Advertisement

Setiap tahun kita mengulang drama yang sama: kebakaran lahan, rapat darurat, water bombing, lalu hujan turun dan semua lupa. Sampai kemarau berikutnya datang lagi. Jika sebuah kesa­lahan diulang setiap tahun, namanya bukan lagi kelalaian, tapi kebiasaan. Setiap musim kemarau, langit Riau, terkhusus Bengkalis kembali bercerita dengan bahasa yang sama: kelabu. 

Matahari tidak lagi terbit dengan gagah, ia hanya mengintip malu-malu di balik selimut asap. Anak-anak sekolah disibukkan dengan istilah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau pun jika masuk setengah hari dengan istilah PTT (Pembelajaran tatap muka), penerbangan ditunda, dan aplikasi pemantau kualitas udara menjadi le­bih sering dibuka oleh kawan-kawan yang bekerja di dapur MBG daripada media sosial. Kita sudah hafal skenarionya, karena ini bukan kejadian, ini sudah menjadi siklus. Siklus Hidup di Riau.

Kebakaran lahan, terutama di lahan gambut yang kini banyak beralih fungsi menjadi kebun sawit, adalah luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Api memang terlihat menyala di permukaan, tetapi bara sesungguhnya ada di bawah — di dalam gambut yang kering, di dalam tata kelola yang rapuh, dan di dalam kesadaran kita yang mudah lupa ketika hujan turun.

Pemerintah sudah punya semua regulasinya. Ada Peraturan Pemerintah Nomor  71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, ada kewajiban tinggi muka air gambut minimal 40 cm. Aturannya bagus di atas kertas. Masalahnya ada di pengawasan.

Kita sering bertanya, siapa yang membakar? Pertanyaan itu penting, tapi tidak cukup. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: mengapa lahan ini begitu mudah terbakar?

Advertisement

Sawit adalah primadona ekonomi Riau. Tidak bisa dipungkiri, ia menghidupi ribuan keluarga di Bengkalis. Namun di balik hijaunya yang terlihat subur dari atas, ada gambut yang sedang sekarat. Gambut adalah spons raksasa. Ketika masih basah, ia adalah penjaga air terbaik. Ketika kanal-kanal drainase dibuka terlalu dalam untuk membuat lahan sawit tidak tergenang, spons itu diperas habis. 

Airnya hilang, ia menjadi kering, rapuh, dan sangat mudah terbakar. Sekali api menyentuh, ia tidak hanya membakar di atas, ia menjalar di bawah tanah, bisa berminggu-minggu, tak terlihat, hanya berasap. Inilah mengapa asap tak kunjung reda.

Maka, menyalahkan petani kecil yang membakar untuk membuka lahan saja tidak adil. Ya, praktik tebas bakar masih ada karena dianggap paling murah. Tapi ada rantai yang lebih besar. Ada lahan-lahan konsesi yang tidak terawat, dibiarkan semak, lalu terbakar dan statusnya menjadi abu-abu. Ada kanal yang tak pernah disekat kembali. Ada sistem pengawasan yang hanya siaga saat api sudah besar, bukan saat lahan mulai mengering.

Kita terlalu sibuk memadamkan, dan lupa mencegah.  Padamkan api dengan helikopter itu penting dan heroik, para petugas di lapangan adalah pahlawan. Tapi itu seperti mengepel lantai tanpa memperbaiki atap yang bocor. Selama gambutnya kering, api akan selalu kembali.

Asap ini bukan sekadar masalah lingkungan. Ini adalah masalah keadilan. Siapa yang paling menderita karena asap? Bukan mereka yang duduk di ruangan ber-AC di kota besar. Yang menderita adalah ibu-ibu yang anaknya ISPA berulang, nelayan yang tak bisa melaut karena jarak pandang, guru honorer yang harus tetap mengajar di kelas penuh asap, dan atlet-atlet muda kita di KONI yang harus menghentikan latihan karena kualitas udara berbahaya serta anak-anak penerima MBG yang jadi terhambat untuk menerima MBG yang berfungsi untuk mencegah stunting dan kualitas gizi tubuh mereka.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Mahasiswa Riau Kembali Desak Pemerintah Atasi Karhutla 

Mahasiswa Riau Kembali Desak Pemerintah Atasi Karhutla 

Puluhan massa dari BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Riau

KLH/BPLH Dorong Kolaborasi Tata Kelola Air dan Berbagi Air untuk Perkuat Pencegahan Karhutla di Lahan Gambut Riau

KLH/BPLH Dorong Kolaborasi Tata Kelola Air dan Berbagi Air untuk Perkuat Pencegahan Karhutla di Lahan Gambut Riau

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Jumhur Hidayat menegaskan pencegahan karhutla memerlukan pendekatan kolaboratif.

Menembus Pekat Asap: Bencana Ekologis atau Kejahatan Sistemis?

Menembus Pekat Asap: Bencana Ekologis atau Kejahatan Sistemis?

Karhutla di Riau dan solusi Islam dalam mengatasi kerusakan lingkungan serta kabut asap.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer