Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kaidah Tangan Kanan

Rindra Yasin • Jumat, 7 September 2012 | 08:47 WIB
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Penerapan kaidah tangan kanan.

Dalam matematika dan fisika, kaidah tangan ka nan adalah jembatan keledai yang umum untuk memahami konvensi notasi vektor dalam bangun tiga dimensi.

Kaidah ini diciptakan untuk digunakan dalam elektromagnetisme oleh fisikawan Inggris, John Ambrose Fleming, pada akhir abad ke-19.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas”.

Penjelasan ikhwan Agus Mustofa (Ahli Teknik Nuklir lulusan UGM yang sedang mendalami tasawuf modern) di bawah ini, mungkin bisa membantu memberikan  pemahaman ilmiah kepada kita. Sesungguhnya setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik.

Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apapun. Maka doa yang kita ucapkan juga memiliki kandungan energi, apalagi doa-doa yang kita ambil dari firman-firman Allah SWT di dalam Alquran.

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang mengelilingi Kabah juga menghasilkan energi yang besar.  Orang berthawaf mengelilingi Kabah berlawanan arah jarum jam. Karena manusia sebenarnya mengandung muatan listrik,  sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf, ini seperti ada arus yang besar berputar-putar mengelilingi Kabah.

Di Kabah, khususnya di Hajar Aswad terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas, karena daklam hal ini Hajar Aswad berfungsi sebagai konduktor. Medan elektromagnetik ini yang akan membantu kekuatan doa orang-orang yang bermunajat di sekitar Kabah, khususnya yang berada di dekat Hajar Aswad alias Multazam.

Kalau kita amati, setiap saat Kabah dilingkari oleh jamaah yang sedang beribadah, mulai dari yang paling dekat sampai yang paling jauh.

Dalam pemahaman fisika, jika ada benda bermuatan listrik bergerak-gerak secara periodik dengan basis gerakan berputar maka akan terjadi medan elektromagnetik.

Dalam hal salat, gerakan yang dilakukan adalah gerakan yang berbasis pada gerakan berputar. Contohnya takbir, dengan mengangkat tangan sebenarnya kita sedang melakukan penggalan gerakan berputar 180 drajat.

Medan elektromagnetik itu bisa terbentuk meskipun jarak kita dengan Kabah sangat jauh, karena kecepatan gelombang elektromagnetik itu sangat tinggi. Apalagi mereka yang melakukan salat dekat Kabah, energi itu menjadi demikian dahsyatnya.

Dalam waktu bersamaan orang yang salat dekat dengan Kabah akan memperoleh akumulasi pancaran energi positif dari Kabah. Yang pertama disebabkan oleh energi Nabi Ibrahim yang membekas di seluruh petilasannya.

Yang kedua, berasal dari putaran orang berthawaf di Kabah. Dan yang ketiga, berasal dari aktivitas salat umat di seluruh dunia. Maka pantaslah Rasulullah menyebutkan pahala salat disekitar Kabah 100.000 kali lipat dibanding salat sendirian.

Hajar Aswad adalah batu hitam di pojok Kabah (yang konon jatuh dari langit, ada juga yang mengatakan berasal dari surga), yang secara ilmiah diduga merupakan sisa batu meteor yang berkadar logam sangat tinggi.

Hajar Aswad  ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem energi Kabah, maka batu yang memiliki konduktivitas elektromagnetik sangat tinggi itu menjadi sangat besar peranannya sebagai “pintu” masuk dan keluarnya energi Kabah. Energi Kabah mengalir deras dari Hajar Aswad ini “menyinari/meresonansi” orang-orang yang berada di  dekatnya.

Salah satu penyebab besarnya energi/gelombang elektromaknetik Kabah adalah karena orang bertawaf. Jutaan orang (yang di dalam tubuhnya mengandung kumpulan  muatan listrik yang besar dari milyaran bio-elektron) yang bertawaf  mengelilingi Kabah berlawanan arah jarum jam, menghasilkan energi yang sangat  besar.

Kita ingat “kaidah tangan kanan” dalam ilmu fisika “Jika sebatang  konduktor dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan arah jarum jam, maka di konduktor ini akan muncul medan gelombang elektromagnetik yang mengarah  keatas”.

Nah Hajar Aswad ini berfungsi sebagai “super konduktor” sehingga di  “Sistem Kabah berikut Hajar Aswad ini” terjadi medan gelombang elektromagnetik  yang mengarah ke atas.

Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh arah jempol.

Dengan pola ibadah thawaf di mana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya. Kenapa Salat harus menghadap kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap kiblat.

Kenapa Salat di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali dari di tempat sendiri.

Menurut http://saibah.co.id. Energi salat dan doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga salat dari seluruh dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung salat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India, Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya.

Pada saat Dzuhur di Jakarta, di London salat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan generator orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan jamaah umroh/ haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya

Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa energi yang terkumpul akan diputar dengan tawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas menuju langit. Jadi sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit.

Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju langit mana atau koordinat mana. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar salat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai ke hadirat-Nya.

Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong energi yang terfokus naik ke atas langit, selamanya sampai tidak ada manusia yang soalat dan tawaf (kiamat?).

Jika orang muslim sudah tidak mendirikan salat, kiamat akan cepat terjadi.  Anda pasti juga pernah mendengar, jika yang meninggalkan salat berarti telah merobohkan agama.***

Rony Ardiansyah, Peminat Sains Quran/Dosen Pascasarjana Teknik Sipil UIR. Editor : Rindra Yasin