Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Islam Agama Fitrah

Rindra Yasin • Jumat, 13 Februari 2015 | 09:39 WIB
DALAM hadis sahih yang cukup dikenal, Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak (manusia) lahir dalam kondisi fitrah. Maka kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Mutafaqun ’Alaihi). Fitrah dalam hadis ini mengacu kepada sebutan agama, yakni Islam.

Menurut Ibnu Mansur dalam kamus Lisanul Arab, fitrah berarti al khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala. Keadaan asal manusia diciptakan itu dalam kondisi suci atau bertauhid kepada Allah Ta’ala. Kondisi bertauhid itu juga dimaknai dengan Islam.

Di dalam surat Al A’raaf ayat 172 Allah Ta’ala berfirman: Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan dari keturunan anak-anak Adam dari sulbi (tulang rusuk) mereka dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. Ayat ini menurut Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa Allah mengeluarkan anak keturunan Adam dari sulbi mereka dalam kedaan bersaksi bahwa Allah adalah Rabb dan pemilik mereka, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia.

Dari keterangan dalil di atas jelaslah bahwa manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala dalam kondisi fitrah, maksudnya bertauhid, atau sebagai seorang Muslim. Maka agama Islam disebut sebagai agama fitrah (asal kejadian) manusia. Hal ini dipertegas, dijelaskan, dan diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (Islam). Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (QS Ar Rum: 30).

Dengan demikian, setiap manusia meskipun ia terlahir dari rahim seorang ibu yang musyrik atau kafir, ia tetap dianggap fitrah. Sebab itu, setiap anak yang lahir lalu meninggal dunia mereka dianggap sebagai ahli surga. Karena anak-anak belum dibebani tanggung jawab (taklifi) untuk menjalani syariat agama.

Hal ini juga didasarkan kepada beberapa dalil di antaranya, hadis riwayat Bukhari yang menjelaskan Rasulullah SAW melihat Ibrahim al Khalil di surga, dan di sekitarnya terdapat anak-anak. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak-anak kaum musyrikin?” Beliau menjawab, “Begitu juga anak-anak kaum musyrikin, mereka di surga” (HR Bukhari).

Islam adalah agama fitrah manusia. Meskipun para nabi dan rasul banyak, tetapi agama mereka satu yakni Islam, pokok aqidah dan misi dakwahya sama yaitu mengajak beribadah dan mentauhidkan-Nya (lihat QS An Nahl: 36). Hal ini juga berdasarkan hadis yang menyebutkan: Para nabi itu adalah saudara seayah, ibu mereka banyak, dan agama mereka satu (HR Bukhari, Muslim). Ibnu Hajar As Qalani, dalam Fathul Bari menjelaskan, maksud ibu mereka banyak adalah cabang syariatnya berbeda-beda, agama dan pokok aqidahnya satu atau sama yaitu tauhid.

Seperti diketahui, bahwa pengamalan syariat antara satu nabi dengan nabi lainnya berbeda. Namun tatkala Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, maka syariat nabi-nabi sebelumnya tidak berlaku lagi, kecuali yang memang dijelaskan Rasulullah SAW. Seperti sunnahnya mengamalkan puasa Nabi Daud AS atas justifikasi Rasulullah SAW.

Dengan demikian, Islam adalah agama fitrah yang diakui oleh Allah (lihat QS Ali Imran: 19). Mencari agama selain Islam tidak diterima-Nya (lihat QS Ali Imran: 85). Ketika Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir (lihat QS Al Ahzab: 40), maka syariat Islam telah sempurna (lihat QS Al Maidah: 3). Tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan tidak ada lagi penambahan dan pengurangan syariat.

Dari sahabat Abu Dzarr RA, Rasulullah SAW telah bersabda: Tidaklah tertinggal suatu pun yang akan menyebabkan masuk surga dan menjauhkan (kalian) dari neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian (HR. Thabrani). Rasulullah juga mengingatkan: Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka (HR Muslim).
Lalu apa yang menyebabkan larinya fitrah Islam itu pada sebagian manusia? Ada dua hal, yang pertama adalah orang tua. Menurut hadis mutafaqun ‘alaihi di atas orang tualah yang menyebabkan seorang anak yang kondisi lahirnya dalam keadaan fitrah (Islam) kemudian menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau kafir.

Kedua, setan. Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (aqidah lurus), lalu datanglah setan-setan kepada mereka menyimpangkan mereka dari agamanya dan mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan (HR Muslim).

Maka tidak benar anggapan sebagian umat Islam selama ini bahwa agama samawi (langit), atau agama dari Allah itu ada tiga, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani. Berdasarkan dalil dan penjelasan di atas, agama di sisi Allah hanyalah Islam. Termasuk agama Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, dan Nabi Isa As, dan nabi-nabi sebelumnya adalah Islam dan mereka disebut muslimun (lihat QS Al Baqarah: 130-133). Rasulullah SAW juga bersabda, “Seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh baginya melainkan harus mengikuti risalahku” (HR Ahmad). Wallahu A’lam.***


Lidus Yardi
Sekretaris Majelis Tablig PD Muhammadiyah Kuansing Editor : Rindra Yasin