Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pahlawan Olahraga

Rindra Yasin • Jumat, 26 Agustus 2016 | 10:11 WIB
RIAUPOS.CO - Ketika kontingen olimpiade Indonesia kembali ke Tanah Air disambut dengan meriah. Itulah pertanda bangsa yang besar. Bangsa yang selalu menghargai jasa pahlawannya. Pahlawan? Ya mereka telah membuat lagu Indonesia Raya bergema di pentas paling prestisius di dunia.

Mereka membuat mata dunia melihat ada negeri bernama Indonesia. Negeri yang mungkin bagi sebagian penduduknya justru malu menjadi warga Indonesia karena kebakaran hutan dan korupsi yang tak selesai-selesai.

Mereka para pahlawan olahraga itu telah berbuat apa yang tidak semua orang bisa lakukan untuk negaranya. Bahkan pemain nomor 1 dunia bulutangkis Lee Chong Wei gagal menorehkan sejarah pertama negeri itu bisa meraih medali emas dalam semua keikutsertaan mereka di olimpiade. Padahal tiga wakil Malaysia tampil di final ajang paling bergengsi itu.

 Inilah olimpiade. Pesta olahraga terbesar di dunia. Ajang promosi kelas wahid untuk mengetahui negara mana saja di dunia ini yang punya penduduk yang bisa dibanggakan.

Betapa sedihnya kita sebagai bangsa Indonesia menonton Olimpiade sebelum  tahun 1988.

Nama Indonesia tak pernah muncul sebagai salah satu peraih medali, artinya bendera Indonesia tidak pernah dikerek meskipun sebagai salah satu dari tiga peraih medali, apalagi bagaimana mungkin lagu Indonesia Raya dikumandangkan bila tak merebut medali emas. 

Sampai-sampai anak-anak Indonesia yang kuliah di luar negeri diledek apakah ada Indonesia di peta dunia?

Hal itu berubah sejak Olimpiade Seoul tahun 1988. Kita bangsa Indonesia hampir tak percaya ketika dalam daftar negara peraih medali tertulis nama Indonesia. Merebut medali perak pula! Cabang olahraga panahan yang merebut medali pertama dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Olimpiade, melalui trio Nurfitriana, Lilis Handayani dan Kusumawardani. Seperti pembuka jalan empat tahun kemudian tahun 1992 di Barcelona, Indonesia meraih dua medali emas, satu perak dan satu perunggu, semua dari cabang olahraga Bulutangkis, sebagai cabang olahraga baru olimpiade.

Kita tentu masih kenal si pembuat sejarah itu, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma. Pada Olimpiade 1996, 2000, 2004, 2008, 2012, 2016 Alhamdulillah nama Indonesia selalu terdaftar sebagai negara peraih medali. Meraih medali emas malah sejak 1992 menjadi tradisi pula, kecuali tahun 2012 di London Indonesia gagal meraih medali emas. Yang paling hangat tentu Olimpiade Rio 2016. Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir meraih medali emas ganda campuran Bulutangkis, Eko Yuli Irawan medali perak Angkat Besi Putra kelas 62 Kg, Sri Wahyun Agustiani medali perak Angkat Besi Putri kelas 48 Kg.

Capaian mereka menjadi angin sejuk bagi kita ternyata masih ada putra-putri terbaik bangsa yang mampu mengangkat merah putih di puncak panggung dunia. Bahwa anak-anak Indonesia dengan segala kemampuan mereka telah mem­persembahkan emas bagi negeri ini. Mereka mungkin saja telah melihat bagaimana perilaku yang memalukan bangsa ini di dalam maupun luar negeri. Namun tekad mereka mengharumkan bangsa tak pernah pupus. Pahlawan olahraga telah memberi kembali harga diri bangsa.

Bahwa kita Indonesia bukan sekadar cerita tentang korupsi dan kebakaran hutan. Kita Indonesia juga telah mencatatkan diri sebagai peraih prestasi emas di ajang paling bergengsi di dunia. Terimakasih para pahlawan olahraga.*** Editor : Rindra Yasin