Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Hidayah itu Mahal

Redaksi • Jumat, 21 November 2025 | 10:50 WIB
Khairunnas Rajab, Guru Besar Psikologi Islam UIN Suska Riau
Khairunnas Rajab, Guru Besar Psikologi Islam UIN Suska Riau

​HIDAYAH adalah istilah yang selalu muncul dalam pembahasan setiap Muslim, sebab ia merupakan inti dari seluruh perjalanan spiritual, psikologis, dan etis seorang hamba. Hidayah secara terminologi bermakna petunjuk Ilahi yang tidak hanya memberi arah, tetapi juga mengaktifkan potensi batin manusia untuk mengenali kebenaran, merasakan kehadirannya, dan terdorong untuk mengamalkannya. Dalam perspektif ilmu kalam, hidayah adalah intervensi lembut (luthf ilahi) yang menyinergikan akal, hati, dan kehendak sehingga manusia mampu bergerak dari kebingungan menuju kepastian, dari gelapnya syahwat menuju kesadaran moral, dan dari keraguan menuju keteguhan iman.

​Hidayah adalah masdar dari kata “hada–yahdi” yang secara bahasa bermakna menunjukkan, mengarahkan, atau membimbing menuju suatu tujuan dengan kelembutan (ad-dalalatu ma‘a at-tatlif). Kata hudan yang memiliki arti “petunjuk” oleh para mufasir dijelaskan sebagai bimbingan menuju kebenaran yang mengantarkan hati kepada iman, meneguhkan akal pada pembedaan antara yang hak dan yang batil, serta mengarahkan perilaku manusia untuk berjalan pada jalan yang diridai Allah.

​Hidayah atau petunjuk hanya diperoleh orang pilihan, yakni mereka yang hatinya disiapkan oleh Allah untuk menerima cahaya kebenaran. Para ulama menegaskan bahwa hidayah tidak semata-mata merupakan hasil kecerdasan, pengalaman, atau kemampuan rasional manusia, tetapi merupakan ni‘mat istifa’; anugerah pemilihan Ilahi yang diberikan kepada hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan akal yang lapang terhadap kebenaran.

​Nabi Nuh yang dikisahkan memiliki umur dakwah sepanjang sembilan ratus lima puluh tahun, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 14, justru hanya didampingi oleh pengikut yang sangat sedikit. Para mufasir menjelaskan bahwa jumlah orang beriman pada masa beliau tidak pernah mencapai seratus orang, bahkan sebagian riwayat kuat menyebut bahwa hanya sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh orang saja yang akhirnya menaiki bahtera bersama beliau. Fenomena ini menjadi simbol bahwa keluasan umur dan intensitas dakwah tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya penerimaan manusia terhadap kebenaran; sebab hidayah merupakan anugerah khusus yang dianugerahkan kepada hati-hati yang dipilih dan dibeningkan oleh Allah.

​Ironisnya, Nabi Nuh tidak berhasil mengajak anak dan istrinya ke jalan hidayah. Dua figur yang paling dekat secara biologis itu justru menjadi simbol bahwa kedekatan nasab tidak menjamin kedekatan hati kepada kebenaran. Al-Qur’an mengabadikan kisah istri dan putra beliau sebagai contoh bahwa hidayah tidak diwariskan melalui hubungan keluarga, melainkan melalui kesiapan batin dan kebeningan jiwa. Penolakan mereka mempertegas bahwa petunjuk Ilahi adalah anugerah khusus yang tidak tunduk pada logika hubungan darah, sehingga Nabi Nuh, meskipun seorang rasul yang diberi umur panjang dan kesabaran luar biasa, tetap tidak mampu menembus tabir hati mereka yang memilih untuk menolak kebenaran.

​Nabi Ibrahim juga tidak dapat mengajak ayahnya, Azar, untuk menerima kebenaran dan meninggalkan penyembahan berhala. Meskipun Ibrahim dikenal sebagai figur yang lembut tutur kata, cerdas dalam berdialog, dan penuh adab ketika menyampaikan dakwahnya, hati ayahnya tetap tertutup oleh kesombongan intelektual dan keterikatan budaya kaumnya. Penolakan ayahnya menunjukkan bahwa hidayah tidak ditentukan oleh kualitas argumen, kedalaman kasih sayang, ataupun hubungan keluarga, melainkan oleh kesiapan hati untuk menerima cahaya kebenaran. Karena itu, meskipun Ibrahim adalah khalilullah dan sosok yang mencapai puncak tauhid, beliau tetap tidak mampu membuka pintu hati ayahnya yang memilih berjalan di jalan kesesatan.

​Muhammad SAW yang teramat disayang dan terus membantu perjuangannya, yaitu pamannya sendiri Abu Thalib bin Abdul Muthalib, juga tidak mampu beliau ajak untuk menerima hidayah. Abu Thalib adalah sosok yang membentengi Nabi sejak awal dakwah, melindungi beliau dari ancaman kaum Quraisy, bahkan rela menanggung tekanan sosial demi keselamatan keponakannya. Namun, kebaikan akhlak dan kedekatan emosional itu tidak berbanding lurus dengan keterbukaan hatinya terhadap iman. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidayah berada sepenuhnya dalam genggaman Allah, sehingga Nabi saw., meskipun sangat ingin melihat pamannya beriman, tetap tidak dapat menembus dinding batin yang memilih bertahan pada tradisi nenek moyang. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa kasih sayang dan kedekatan personal tidak otomatis menjadi jalan menuju kebenaran jika hati tidak dibukakan oleh Allah.

​Hidayah secara psikologis hadir sebagai sistem internal yang bekerja di dalam diri manusia untuk mengarahkan persepsi, menyaring dorongan, dan menuntun pilihan moral menuju nilai-nilai kebenaran. Sistem ini tidak hanya terbatas pada respons kognitif, melainkan merupakan konfigurasi batin yang melibatkan aspek afektif, intuitif, dan spiritual sekaligus. Dalam perspektif psikologi Islam, hidayah beroperasi sebagai mekanisme pembimbing yang memadukan kejernihan akal, ketenangan hati, dan kematangan kehendak sehingga seseorang mampu melihat kebenaran apa adanya dan terdorong untuk mengikutinya. Dengan demikian, hidayah tampil sebagai kompas batin yang menjaga manusia agar tidak tersesat oleh bias ego, tekanan sosial, atau kecenderungan nafsu yang menyesatkan.

​Keegoan, keangkuhan, dan kerasnya hati terbukti membuat harga hidayah begitu mahal. Ketiga sifat itu berfungsi sebagai penghalang batin yang menutup pintu penerimaan terhadap kebenaran, sebab ego yang menggelembung membuat seseorang sulit mengakui kelemahan dirinya, keangkuhan menjeratnya dalam ilusi superioritas, dan hati yang mengeras memutus sensitivitas spiritual yang menjadi syarat hadirnya cahaya Ilahi. Dalam banyak kisah kenabian, penghalang-penghalang ini menjadi penyebab utama mengapa seseorang yang cerdas, berpengalaman, atau bahkan dekat dengan para nabi sekalipun tetap gagal menerima petunjuk. Hal ini menegaskan bahwa hidayah tidak pernah ditolak oleh akal yang sehat, melainkan oleh hati yang tertutup oleh sifat-sifat destruktif tersebut.

​Hidayah bukan reflektif melainkan transformasional, sebab ia tidak berhenti pada kemampuan seseorang untuk memikirkan atau menimbang kebenaran, tetapi bergerak lebih dalam hingga mengubah struktur batin dan orientasi moralnya. Hidayah bekerja tidak hanya terbatas pada proses analitis, tetapi melalui perubahan kesadaran yang menjadikan hati lebih peka, jiwa lebih tenang, dan kehendak lebih tunduk kepada nilai-nilai Ilahi. Karena sifatnya yang transformasional inilah hidayah mampu menggerakkan manusia dari sekadar mengetahui kebenaran menuju menghayati dan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

​Hidayah mengikis keegoan, keangkuhan, dan kerasnya hati dengan cara menurunkan lapisan-lapisan gelap yang menutupi kejernihan nurani. Ketika hidayah memasuki ruang batin seseorang, ia bekerja sebagai kekuatan pembersih yang melembutkan sikap, meruntuhkan ilusi superioritas, dan membuka kembali sensitivitas spiritual yang selama ini tertutup oleh dorongan nafsu dan kepentingan diri. Dalam proses itu, hidayah tidak hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menata ulang struktur nilai dalam diri sehingga seseorang mampu melihat kebenaran tanpa distorsi kepentingan pribadi. Oleh karena itu, hadirnya hidayah sering kali ditandai dengan meredanya kesombongan, melemahnya penolakan batin, serta munculnya kerendahan hati yang memungkinkan seseorang menerima kebenaran dengan lapang dada. Allahu a’lam bissawab.***

 

Khairunnas Rajab, Guru Besar Psikologi Islam UIN Suska Riau

Editor : Rindra Yasin
#Guru Besar Psikologi #khairunnas rajab #uin suska #Hidayah #mahal