KEAHLIAN memimpin tim dalam suatu organisasi tidak lahir secara kebetulan, melainkan memerlukan proses pembelajaran dalam waktu yang relatif panjang melalui manajemen karier. Meskipun ada beberapa orang yang kariernya melejit tanpa melalui proses yang wajar—sering disebut sebagai pejabat karbitan—perlu disadari bahwa jika seseorang tampil sebagai pemimpin karbitan, sejatinya ia masih prematur dan belum layak mengemban amanah tersebut. Pemimpin seperti ini biasanya tidak akan nyaman bekerja serta selalu dihantui rasa takut dan ketidaknyamanan karena suatu saat kemampuannya akan teruji secara alami dalam menjalankan tugas.
Setiap organisasi, apa pun bentuknya, selalu berupaya mendapatkan sosok yang cerdas, berpikir jernih, berintegritas, serta terampil mengelola karyawan dan organisasi. Orang-orang seperti itulah yang menjadi sumber terbaik bagi organisasi untuk menghasilkan ide kreatif demi perbaikan kinerja yang berkelanjutan. Seorang pemimpin harus memiliki fondasi kokoh dalam bidang manajemen dan kepemimpinan sebagai pilar kompetensi yang terdiri atas pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), kemampuan (ability), dan sikap (attitude). Pertanyaannya, mengapa masih banyak pemimpin yang tidak mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara baik dan benar? Jawabannya adalah karena masih ada pengambil kebijakan yang mengangkat pemimpin karbitan, padahal posisi tersebut memegang peran krusial bagi pencapaian tujuan organisasi.
Pemimpin yang unggul adalah mereka yang mampu menerapkan ajaran keteladanan. Ia harus mampu menjadikan sifat dan perbuatannya sebagai pola anutan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Di depan, ia mampu menjadi teladan dalam membawa organisasi mencapai visinya. Di tengah, ia mampu menggerakkan serta membangun kerja sama yang harmonis dan sinergis. Di belakang, ia mampu memberikan dorongan. Inilah yang disebut dengan pemimpin sejati; sosok yang melayani, mengasuh, serta mengarahkan anggotanya untuk terus maju menuju cita-cita organisasi.
Pada era digitalisasi dan transformasi saat ini, dibutuhkan pemimpin yang mampu memberikan pengaruh, menginspirasi, mendorong inisiatif, serta mengembangkan tim. Mengutip ungkapan John Maxwell, “Kepemimpinan berarti pengaruh; segala sesuatu bangkit dan jatuh bersama dengan kepemimpinan.” Artinya, pemimpin yang baik mampu menggerakkan tim menuju sasaran yang telah disepakati bersama. Kemampuan memengaruhi ini harus dibarengi dengan perilaku yang memiliki daya tarik, layaknya magnet yang menarik logam tanpa harus dipaksa. Daya tarik tersebut dapat berupa visi yang jelas dan menginspirasi. Visi tanpa tindakan hanya sebuah mimpi, tindakan tanpa visi hanya menghabiskan waktu, namun visi dengan tindakan dapat mengubah dunia. Pemimpin yang bervisi akan mampu melakukan perubahan seiring tuntutan zaman yang berubah cepat dan sulit diantisipasi. Karena itu, sungguh bernilai seorang pemimpin yang cerdas, adaptif, dan mampu memberikan teladan.
Karakter teladan pemimpin dapat dipandang dari dua sudut pandang. Pertama, karakter alamiah yang meliputi kewibawaan, berjiwa besar, berhati lapang, tegas, cermat, jujur, bertanggung jawab, serta berani menegakkan kebenaran. Pemimpin juga harus memiliki pertimbangan yang objektif, tidak mudah terpengaruh, mampu membaca pikiran orang lain, serta bersikap sederhana namun bercita-cita tinggi. Ia tidak boleh lari dari masalah, melainkan harus terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan. Kedua, karakter yang dapat dikembangkan, meliputi wawasan luas, kemampuan koordinasi, dedikasi tinggi, serta kepedulian terhadap lingkungan. Pemimpin yang baik harus cepat tanggap, dipercaya, dan mampu mematuhi peraturan sekecil apa pun. Ia memimpin berdasarkan aturan, bukan berdasarkan kekuasaan semata. Ia mengambil keputusan melalui musyawarah dengan landasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, serta selalu waspada membela diri dari fitnah demi menegakkan kebenaran.
Sebagai kesimpulan, pemimpin yang mampu menjadi teladan adalah mereka yang memiliki karakter terpuji, selalu berupaya membahagiakan anggota, serta memperhatikan nasib dan masa depan bawahannya. Sikapnya menyenangkan, penuh humor, dan diiringi senyum ikhlas. Kehadiran pemimpin seperti ini akan membangkitkan kreativitas pegawai untuk bekerja lebih teliti, berani, dan profesional. Kejujuran tetap menjadi karakteristik utama dalam memilih pemimpin yang dikagumi. Jika pemimpin dinilai tidak jujur, maka karyawan cenderung akan mengikuti jejak rekam tersebut.
Harapan kita semua, jadilah pemimpin yang mampu menjadi titik temu; bersikap sebagai teman bagi anggota, mitra kerja, tumpuan organisasi, sekaligus motor penggerak. Pemimpin harus mampu menciptakan sinergi dan harmoni di tengah kepentingan anggota yang berbeda-beda, layaknya seorang dirigen dalam pertunjukan orkestra. Namun, perlu diperhatikan bahwa terlalu bersahabat dapat memengaruhi kontrol, sementara terlalu menyendiri dapat menimbulkan penolakan. Maka, pemimpin yang baik adalah yang mampu menemukan titik keseimbangan di antara keduanya.
Seorang pemimpin harus menunjukkan bahwa dirinya bekerja di jalur yang benar dan tidak melanggar aspek hukum. Semua harus berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) agar kinerja mudah diukur. Pemimpin yang bekerja di jalur yang tepat akan bekerja dengan tenaga, hati, dan jiwa. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan kekuasaan emosional tanpa pendekatan nurani tidak hanya akan gagal mendapatkan rasa hormat, tetapi juga akan meningkatkan penolakan. Pemimpin dituntut untuk menanamkan budaya kerja sama dalam tim yang solid. Satu hal yang harus dihindari adalah mengambil kredit atas hasil kerja karyawan demi citra pribadi. Langkah paling tepat adalah membiarkan karyawan mengetahui bahwa pekerjaan mereka dihargai, sehingga tercipta kompetisi positif di dalam organisasi. Semoga.***
Oleh: Machasin, Dosen Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Unri.