Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Omzet Turun, Keluhkan Sepinya Pembeli

Prapti Dwi Lestari • Selasa, 3 Maret 2026 | 11:03 WIB

Suasana Bazar Ramadan di depan Masjid Al-Fithrah  di Jalan HR Soebrantas, baru-baru ini.
Suasana Bazar Ramadan di depan Masjid Al-Fithrah di Jalan HR Soebrantas, baru-baru ini.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Deretan tenda dan meja yang dipenuhi aneka takjil memang masih berdiri rapi, tetapi lalu lalang pembeli tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Beberapa pedagang terlihat duduk menunggu sambil sesekali merapikan dagangan, berharap ada pembeli yang mampir sebelum azan Magrib berkumandang.

Salah satu pemilik lapak, Epi (43) tampak sibuk menata dagangan berupa gorengan dan kue basah. Ia bukan pedagang baru di lokasi tersebut. Sejak beberapa tahun terakhir, setiap Ramadan ia selalu membuka lapak di bazar depan masjid itu. Karena itulah, ia cukup merasakan perbedaan suasana tahun ini dibanding Ramadan sebelumnya. 

“Sejak awal Ramadan, jumlah pembeli memang tidak sebanyak biasanya. Jika dulu menjelang pukul 17.00 WIB pembeli sudah berdesakan memilih menu berbuka, kini lebih sering menunggu dengan waktu yang terasa berjalan lambat,” ujarnya.

Epi mengaku omzet tahun ini mengalami penurunan yang cukup terasa. Dalam sehari, pendapatannya kadang hanya sekitar Rp200 ribu, bahkan tidak jarang ia harus menerima kenyataan tidak balik modal setelah menghitung biaya bahan dan kebutuhan lainnya. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu, ketika penjualan cenderung lebih stabil dan dagangannya relatif cepat habis sebelum waktu berbuka.

“Sekarang pembeli tidak menentu. Kadang ramai, tapi lebih sering sepi,” ujarnya.

Jika ada dagangan yang tersisa, ia memilih membagikannya kepada masyarakat sekitar dan juga ke masjid agar tidak terbuang percuma.

Keluhan serupa juga disampaikan Hanum (52), pedagang aneka takjil yang lapaknya tak jauh dari Epi. Di atas mejanya tersaji beragam pilihan menu berbuka, mulai dari kolak, es buah, hingga jajanan tradisional.

Hanum mengatakan, omzet Ramadan tahun ini memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menduga ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari situasi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil hingga semakin banyaknya titik bazar Ramadan di berbagai sudut kota sehingga pembeli terbagi ke banyak lokasi. “Persaingan kini terasa lebih ketat karena hampir setiap kawasan memiliki takjil sendiri. Jika dulu pembeli terpusat di beberapa bazar besar, sekarang pilihan semakin banyak dan jaraknya pun lebih dekat dengan permukiman warga,” ujarnya. 

Namun, ia tidak larut dalam keluhan. Hanum memilih menghadapi situasi ini dengan tetap berikhtiar, menjaga kualitas rasa, dan berdoa agar dagangannya tetap diminati. Sama seperti Epi, jika takjilnya tidak habis terjual, ia akan membagikannya ke masjid sebagai bentuk sedekah di bulan suci.

Dari sisi pembeli, perubahan pola belanja juga turut memengaruhi suasana bazar. Putri (24), salah seorang warga yang ditemui saat membeli takjil, mengaku tidak setiap hari datang ke bazar Ramadan. Ia mengatakan intensitas belanjanya tahun ini cenderung bergantung pada suasana hati dan kebutuhan. “Kadang beli, kadang masak sendiri di rumah,” katanya.

Menurutnya, memasak sendiri sering kali dianggap lebih hemat dan praktis, terutama jika bahan makanan sudah tersedia.(gem)

Laporan PRAPTI DWI LESTARI, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#Pedagang Keluhkan Pelanggan Sepi #bulan puasa #takjil #sepi pembeli #omzet turun