JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Sebagai universitas internasional pertama dengan kampus fisik di Indonesia, Monash University menjalin hubungan erat dengan institusi lokal, pemerintah, dan industri. Didirikan pada tahun 2020, Monash University, Indonesia terus memperluas jangkauan pendidikan dan risetnya.
Monash University bersama para pemimpin senior kesehatan Indonesia berhasil mengembangkan perangkat inovasi kesehatan digital terbaru. Perangkat ini bertujuan mendukung reformasi kesehatan digital dari tingkat dasar dengan membangun praktik kesehatan digital berbasis nilai di Indonesia.
Perangkat bernama Value-Based Digital Health Innovation Canvas (VDHIC) ini dikembangkan oleh sembilan penerima program fellowship asal Indonesia dengan bimbingan peneliti kesehatan digital dari Monash University. VDHIC dirancang untuk membantu mengubah tujuan kesehatan digital nasional Indonesia menjadi solusi praktis dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Inisiatif ini mendapat dukungan pendanaan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Pemerintah Australia melalui program Australia Awards Fellowships. Australia Awards adalah beasiswa dan program fellowship internasional bergengsi yang didanai oleh Pemerintah Australia.
Australia Awards Fellowships bertujuan membangun jejaring pengaruh dan kepemimpinan dengan memperkuat kemitraan antara organisasi Australia dan organisasi mitra di kawasan.
Program fellowship ini menargetkan pejabat senior serta pekerja profesional tingkat menengah yang memiliki posisi strategis untuk mendorong hasil pembangunan di bidang-bidang prioritas, sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan negara mitra melalui kepemimpinan mereka.
Perangkat inovasi kesehatan digital baru ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan sistem kesehatan dan lingkungan regulasi yang kompleks di Indonesia. VDHIC juga selaras dengan platform data kesehatan nasional SATUSEHAT, inisiatif regulatory sandbox (uji coba inovasi dengan pengawasan pemerintah), serta prioritas kesehatan nasional.
VDHIC menjadi pedoman bagi rumah sakit maupun penyedia layanan kesehatan untuk mengimplementasikan inisiatif kesehatan digital. Perangkat ini menitikberatkan pada lima tujuan utama: kesehatan populasi, pengalaman pasien, kepuasan penyedia layanan, efisiensi biaya, dan kesetaraan kesehatan.
Perangkat ini juga mengintegrasikan tata kelola regulasi, klinis, data, dan teknologi, sehingga mampu mendukung inovasi yang aman dan terukur.
Sebagai pemimpin kolaborasi, Profesor Juliana Sutanto, peneliti sistem informasi dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University, mengatakan bahwa VDHIC mendorong perubahan dari pelaporan berbasis kepatuhan menuju kesehatan digital yang menghasilkan dampak nyata.
"VDHIC membantu organisasi kesehatan, inovator, dan pembuat kebijakan di Indonesia untuk melampaui sistem kewajiban pelaporan data atau digitalisasi, menuju kesehatan digital berbasis nilai, di mana teknologi dan data menghadirkan manfaat nyata bagi pasien, tenaga medis, dan sistem kesehatan," ujar Profesor Sutanto di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
"Selain itu, perangkat ini juga menghadirkan kerangka acuan bersama yang menjembatani tujuan kebijakan, praktik klinis, dan implementasi teknis," ujarnya.
Dikembangkan melalui program Australia Awards Fellowships angkatan ke-20, perangkat baru ini menyajikan kerangka kerja yang jelas dan bertahap untuk memandu inovasi kesehatan digital, mulai dari mengidentifikasi masalah kesehatan hingga menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Sembilan penerima Australia Awards Fellowship terdiri dari anggota Kelompok Kerja Teknis Kementerian Kesehatan Indonesia, serta tenaga medis dan peneliti dari berbagai wilayah di seluruh negeri. Kelompok ini mengikuti program intensif bersama Monash University, yang mencakup kunjungan ke rumah sakit dan diskusi dengan para ahli kesehatan digital Australia.
Wilayah Indonesia Timur, yang memiliki kapasitas sistem kesehatan dan infrastruktur digital terbatas, menjadi fokus utama proyek ini untuk memastikan bahwa perangkat VDHIC mampu memenuhi beragam kebutuhan regional dan klinis.
Arthur Mawuntu, seorang neurologis asal Sulawesi Utara sekaligus penerima Australia Awards Fellowship, mengatakan bahwa kolaborasi ini membantu memastikan reformasi kesehatan digital nasional Indonesia mencerminkan kondisi dan kebutuhan di berbagai daerah.
"Bagi tenaga medis di Indonesia Timur, kesehatan digital harus mampu mengurangi beban dan meningkatkan mutu layanan bukan menambah kerumitan," ujar Dr Mawuntu.
"Perangkat ini mempertimbangkan tantangan konektivitas dan aspek kesetaraan, sekaligus selaras dengan platform nasional seperti SATUSEHAT," bebernya.
Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa perangkat ini akan menjadi acuan dalam pengembangan kebijakan kesehatan digital yang sedang berlangsung. Penasihat ahli teknologi kesehatan, Setiaji, menegaskan bahwa inisiatif ini selaras dan melengkapi pendekatan regulatory sandboxing yang diterapkan oleh Kementerian.
"Indonesia sedang membangun jalur inovasi kesehatan digital yang bertanggung jawab melalui inovasi, uji coba industri, dan regulatory sandboxing," ujar Setiaji.
"VDHIC memberikan panduan praktis untuk memastikan setiap inovasi selaras dengan tata kelola, keamanan, dan hasil yang berorientasi pada nilai," tambahnya.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Indonesia, Eko Sulistijo, menegaskan bahwa fondasi data yang kuat tetap menjadi kunci keberhasilan kesehatan digital. "Interoperabilitas, privasi, dan kualitas data merupakan landasan bagi efektivitas SATUSEHAT. Perangkat ini memperkuat keselarasan antara inovasi, standar data nasional, dan tujuan kebijakan jangka panjang," ujarnya.
Ahli Kesehatan Digital Profesor Chris Bain dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University mengatakan, bertemu dan berkolaborasi dengan rekan-rekan di Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. "Saya juga bersyukur karena upaya dan pemikiran kami tentang Kesehatan Digital Berbasis Nilai telah mendapat respons yang begitu positif dari mereka," ungkapnya.
Para penerima Fellowship telah mempresentasikan toolkit yang disempurnakan kepada para penasihat Monash University pada Februari 2026, dan akan menyerahkan laporan akhir kepada Kementerian Kesehatan Indonesia. VDHIC kemudian akan diintegrasikan ke dalam program sandbox Kementerian Kesehatan Indonesia.(ari)
Editor : Rinaldi