Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa dan Manajemen Nafsu

R
Penulis: Redaksi❯

Rektor Universitas Lancang Kuning, Dr Junaidi.
Rektor Universitas Lancang Kuning, Dr Junaidi.


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SEGALA puji bagi Allah SWT. Salah satu hakikat puasa adalah pengelolaan atau manajemen nafsu. Ketika kita sedang menjalankan puasa, kita sebenarnya sedang melatih diri untuk mengendalikan nafsu. Allah SWT telah menganugerahkan manusia dengan nafsu. Anugerah ini tentu harus disyukuri karena dengan nafsu manusia bergerak dan menjalani kehidupannya di dunia. Manusia tidak bisa menghilangkan nafsunya, tetapi manusia bisa mengelolanya. Nafsu bukan untuk “dimatikan” tetapi nafsu harus dikelola secara penuh kesadaran oleh manusia. Pada bulan Ramadan kita dilarang makan dan minum pada siang hari tetapi dibolehkan makan dan minum pada malam hari. Meskipun pada siang hari ada makanan di hadapan, kita dilarang memakannya karena Allah SWT sedang melatih nafsu kita.


Advertisement

Agar kita bisa mengelola nafsu yang ada dalam diri manusia, kita bisa mengenali jenis nafsu berdasarkan tingkatnya. Iman Al Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din menjelaskan ada tiga tingkat nafsu, yakni nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainnah. Nafsu ammarah adalah nafsu yang menggerakkan manusia untuk melakukan keburukan, kejahatan dan tindakan yang dilarang Allah SWT. Nafsu ammarah bersifat keduniawian sehingga tidak mempedulikan hukum halal dan haram. Orang yang berada pada tingkat nafsu ammarah bertindak sesuka hati mereka dan mereka biasa melakukan maksiat tanpa ada rasa berdosa atau bersalah. Mereka tak peduli lagi dengan azab yang diterima karena perbuatan keji dilakukannya. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS Yusuf: 53). Nafsu ammarah bersifat destruktif bagi manusia baik kehidupan di dunia maupu di akhirat. Nafsu ammarah harus ditinggalkan agar kita mendapat rida dari Allah SWT. Bila kita mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan sesuai ketentuan Allah SWT maka kita akan bisa meniggalkan nafsu ammarah.

Nafsu lawwamah mendorog manusia untuk mengingat, memperbaiki dan menyesali perbuatan buruk atau tercela yang telah dilakukannya. Orang yang berada pada nafsu lawwamah berupaya melakukan introspeksi terhadap perbuatan buruk atau maksiat yang telah dilakukannya. Ia menyesali perbuatan keji yang dilakukannya dan ia berupaya terus untuk memperbaiki diri untuk mencapaikan kebaikan. Ketika kita berada dalam kendali nafsu lawwamah, kita harus terus berupaya keras untuk memperbaiki diri karena godaan dan tantangan untuk melakukan kebaikan terus datang. Setan terus berupaya untuk mempengaruhi jiwa kita untuk berbuat keburukan. Namun dengan keimanan yang kuat, kita akan mampu untuk memperbaiki diri dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Dengan niat yang kuat dan istiqomah beramal soleh, maka kita akan menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah SWT.

Nafsu muthmainnah adalah jenis nafsu paling tinggi karena nafsu ini bisa membawa manusia ke jalan yang kebaikan dan tunduk kepada Allah SWT. Semua perbuatan dan tindakan yang dilakukannya didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Nafsu muthmainnah menggerakkan kita untuk selalu menjaga keimanan. Nafsu muthmainnah merupakan energi positif yang harus terus dikelola agar perbuatan kita selalu diridai Allah SWT. Orang yang memiliki nafsu muthamainnah memiliki jiwa yang tenang karena ia selalu bersyukur dan mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Bila ia memperoleh ujian dari Allah SWT maka ia akan menghadapinya dengan penuh ketabahan dan keikhlasan. Orang yang telah mencapai tingkatan nafsu muthmainnah tidak tergoda atau takluk pada kehidupan duniawi. Ia memandang dunia hanya sebagai tahapan perjalanan sementara dari kehidupan ini. Baginya, hakekat kehidupan adalah pengabdian kepada Allah SWT.

Advertisement

Ketiga nafsu yang terdapat dalam diri manusia tersebut bisa mengalami perubahan atau naik turun karena manusia terus berhadapan dengan godaan. Oleh karena itu, kita harus memiliki kemampuan untuk mengelolanya. Imam Al Ghazali memberikan nasihat kepada kita untuk melakukan manajemen nafsu dengan cara menjaga kebutuhan biologis, menyucikan diri (riyadah), berpuasa (saumu), menumbuhkan sikap khauf (takut akan dosa) dan raja’ (berharap surga), serta mengingat Allah (zikrullah). Semoga kita senantisa mampu mengelola nafsu untuk mendapatkan rida Allah SWT.***

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Rumah dan Kantor Kadishub Siak Nonaktif Digeledah

Rumah dan Kantor Kadishub Siak Nonaktif Digeledah

Polres Siak menggeledah rumah dan kantor Kadishub nonaktif Junaidi usai OTT dugaan pemerasan proyek. Sejumlah dokumen dan barang bukti disit

Uang OTT Kadishub Siak Sebesar Rp15 Juta 

Uang OTT Kadishub Siak Sebesar Rp15 Juta 

Kadishub Siak ditetapkan tersangka usai OTT terkait dugaan pemerasan proyek. Polisi menyita uang Rp15 juta sebagai barang bukti.

Enam Mahasiswa Internasional Tampil di Acara Wisuda Unilak, Bawa Lagu Lancang Kuning

Enam Mahasiswa Internasional Tampil di Acara Wisuda Unilak, Bawa Lagu Lancang Kuning

Enam mahasiswa internasional tampil di acara wisuda Universitas Lancang Kuning (Unilak) dengan membawakan lagu Lancang Kuning dengan lancar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer