Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ramadan dan Semangat Menjaga Marwah Negeri

Desriandi Candra • Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:38 WIB

H Suhardiman Amby
H Suhardiman Amby

RAMADAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan mendidik jiwa agar memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap negeri. Dalam tradisi Melayu, menjaga marwah negeri adalah kewajiban moral setiap pemimpin dan masyarakat.

Orang Melayu sejak dahulu berpegang pada petuah, “hilang adat karena lalai, hilang marwah karena khianat”.

Ramadan mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang amanah, karena puasa melatih kejujuran yang tidak terlihat oleh manusia, tetapi diketahui oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa inilah yang menjadi dasar kepemimpinan yang menjaga marwah negeri. Melalui aktualisasi dalam keseharian karakter pemimpin, yakni;

1. Pemimpin Melayu Menjaga Amanah

Dalam budaya Melayu Kuantan Singingi, pemimpin dipandang sebagai penjaga marwah masyarakat. Petuah Melayu mengatakan, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, bukan untuk bermegah, tetapi untuk mengayomi semua tanpa pandang dan banding.

Ramadan mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, tetapi amanah dan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban.”(HR Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Adat, Menjaga Jati Diri Negeri

Di Kuantan Singingi dikenal falsafah Melayu, “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah.” Ini berarti nilai adat dan agama berjalan seiring. Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat nilai itu agar masyarakat tetap berpegang pada akhlak, adat istiadat, sopan santun, dan persatuan. Jika nilai ini hilang, maka marwah negeri ikut tergerus.

3. Semangat Kebersamaan dan Gotong Royong

Tradisi masyarakat Kuantan Singingi selalu menekankan kebersamaan dalam membangun negeri.Petuah Melayu mengatakan, ‘’berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’’.

Ramadan memperkuat semangat ini melalui berbagi kepada fakir miskin, mempererat silaturahmi, dan saling menolong dalam kebaikan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan”. (QS Al-Maidah: 2)

4. Menjaga Nama Baik Negeri

Dalam adat Melayu, marwah negeri lebih tinggi dari kepentingan pribadi. Petuah lama mengatakan, “biar mati anak, jangan mati adat”. Maknanya bukan harfiah, tetapi menegaskan bahwa kehormatan nilai dan prinsip tidak boleh dik orbankan.

Ramadan mengajarkan kita menjaga kejujuran, menahan diri dari fitnah, dan menjauhi korupsi dan pengkhianatan. Karena marwah negeri terletak pada akhlak pemimpinnya dan masyarakatnya. Ramadan adalah lembaga yang mendidik kita menjadi manusia yang jujur, amanah, dan peduli terhadap negeri.

Jika nilai Ramadan hidup dalam diri kita, maka akan lahir generasi yang mampu menjaga marwah negeri. Petuah Melayu mengingatkan, “kalau pemimpin lurus jalannya, negeri aman sentosa rasanya. Kalau pemimpin kuat imannya, terjaga marwah tanah pusaka’’.

Semoga Ramadan ini menjadikan kita semua penjaga marwah negeri, penguat adat, dan pengamal nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.***

 

Oleh : Bupati Kuantan Singingi, H Suhardiman Amby

Editor : Bayu Saputra
#petuah ramadhan riau pos #ramadhan #h suhardiman amby #bupati kuansing