Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Komisi VIII Minta Kemensos Transparan 

j
Penulis: jpg❯
I Ketut Kariyasa Adnyana. (JPG)
I Ketut Kariyasa Adnyana. (JPG)

Advertisement

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Polemik anggaran sepatu siswa Sekolah Rakyat yang ramai dibicarakan di media sosial dinilai perlu dijawab dengan keterbukaan data, bukan saling tuding. Sorotan publik muncul setelah beredar informasi bahwa anggaran sepasang sepatu dalam program tersebut mencapai Rp700 ribu.

Anggota Komisi VIII DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana menilai, perhatian masyarakat terhadap program pemerintah merupakan hal yang wajar, terlebih menyangkut penggunaan anggaran negara untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia menegaskan setiap penggunaan anggaran sosial harus dapat dipertanggungjawabkan. 

Advertisement

“Polemik ini harus dijawab dengan transparansi. Kalau benar Rp700 ribu itu adalah pagu, bukan harga realisasi, maka Kemensos harus menjelaskan secara rinci: spesifikasinya apa, mekanisme pengadaannya bagaimana, dan berapa harga akhirnya. Publik berhak tahu,” kata Ketut, Kamis (7/5).

Ketut menegaskan, Komisi VIII DPR RI akan menjalankan fungsi pengawasan terhadap program-program mitra kerja, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos). Menurut dia, penjelasan pemerintah harus disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

Advertisement

“Jangan sampai program baik untuk anak-anak miskin justru rusak karena komunikasi yang tidak jelas. Tetapi sebaliknya, jangan pula kritik publik dianggap gangguan. Kritik itu bagian dari pengawasan rakyat,” tegasnya.

Ia juga meminta Kemensos membuka informasi terkait jenis sepatu yang diadakan, standar kualitas, Harga Perkiraan Sendiri (HPS), proses lelang, hingga realisasi anggaran. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai apakah harga yang muncul sudah wajar dan sesuai kebutuhan.

“Ini bukan semata-mata soal mahal atau murah. Yang harus dilihat adalah kewajaran harga, kesesuaian spesifikasi, kualitas barang, serta apakah proses pengadaannya bersih dari intervensi dan permainan,” ujarnya.

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu turut mendukung langkah lembaga pengawas, seperti KPK, BPK, dan BPKP, untuk memastikan tidak ada potensi penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa pada program Sekolah Rakyat.

“Kalau ada indikasi penyimpangan, harus diproses tegas. Tapi kalau tidak ada, pemerintah juga wajib menjelaskan dengan baik agar tidak berkembang menjadi fitnah atau disinformasi,” bebernya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Sekda Riau Diperiksa soal Pergeseran Anggaran hingga Pengangkatan Tim Ahli Gubernur

Sekda Riau Diperiksa soal Pergeseran Anggaran hingga Pengangkatan Tim Ahli Gubernur

Sekdaprov Riau Syahrial Abdi paparkan kondisi APBD Riau tahun 2025 yang mencapai Rp9,5 T saat bersaksi di sidang Gubri nonaktif Abdul Wahid

JPU Dalami Pergeseran Anggaran Rp271 Miliar ke PUPR Sidang Wahid Dilanjutkan Hari Ini

JPU Dalami Pergeseran Anggaran Rp271 Miliar ke PUPR Sidang Wahid Dilanjutkan Hari Ini

Sidang Abdul Wahid ungkap pergeseran anggaran Rp271 miliar ke PUPR, JPU KPK dalami dugaan fee proyek dan korupsi.

Mantan Pj Sekda Riau Sebut Abdul Wahid Tak Pernah Atur Pergeseran Anggaran

Mantan Pj Sekda Riau Sebut Abdul Wahid Tak Pernah Atur Pergeseran Anggaran

Mantan Pj Sekda Riau Taufiq Oesman Hamid bersaksi pada sidang perkara korupsi dengan terdakwa Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer