PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Perkembangan teknologi turut mempengaruhi banyak hal. Termasuk game konsol. Meski game PC dan mobile sudah sangat menjamur, namun memainkan permainan dari piranti game konsol tetap masih banyak diminati. Lantas apa alasannya?
Penggemar game asal Pekanbaru Irvan (28) mengatakan, salah satu keunggulan dari game konsol ialah antiribet. Berbeda dari game PC yang membutuhkan biaya cukup besar, game konsol lebih praktis. Apalagi jika punya uang lebih, saat ini sudah banyak tersedia game konsol portabel.
“Kalau kita dulu kenal game konsol dari zaman gamebot yang masih monokrom ada permainan tetris. Kemudian ada juga nintendo, sega sampai ke play station 1. Nah itu semua masuk ke game konsol. Sekarang kan sudah berkembang sampaikan ke play station 5, x box dan lainnya,” ungkap Irvan.
Baca Juga: Empat Tips Menghasikan Uang dengan Mudah dari Bermain Game
Bila dibanding dengan PC, lanjutnya, game konsol juga tidak kalah menarik. Secara harga, game yang ada di PC dan konsol seperti play station memiliki grafik yang hampir
sama. Bila di konsol permainan dilangsungkan dengan menggunakan joy stick, di PC menggunakan key board.
“Kalau key board kan generasi-generasi hampir tua kayak kita agak susah ya mainnya. Meski sebetulnya kalau game PC bisa juga pakai joy stick. Tapi menurut saya tetap ga berasa main game kalau di PC,” sambungnya.
Perbedaan yang sangat terasa diakui Irvan bila game dimainkan oleh dua orang. Seperti jenis game bola (Fifa dan sejenisnya, red), pertarungan hingga arcade. Maka tidak heran sampai saat ini rental play station masih ramai pengunjung ketimbang warnet yang menyajikan game PC.
“Sampai sekarang rental PS masih ramai ketimbang warnet yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Karena memang dalam beberapa jenis game, lebih enak pakai konsol,” paparnya.
Dari sisi ekonomis, penggemar game lainnya, Febrian menyebut bahwa konsol game adalah pilihan yang tepat. Apalagi pada saat pembelian pertama, biasanya konsol sudah terisi berbagai macam game sesuai dengan kapasitas memori yang ada pada piranti. Berbeda dengan PC. Di mana untuk setiap game harus dibeli dengan harga yang bervariasi.
“Apalagi kalau misal kita beli seken. Kita lebih waswas beli PC seken yang tujuannya untuk game, ketimbang beli konsol seperti play station, x box dan semacamnya. Karena PC tingkat kerusakannya cukup rumit. Seperti mother board cepat panas bila tidak pakai kipas yang bagus dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Ia mencontohkan harga PC dengan spek gaming minimal di angka Rp8 juta. Sedangkan untuk harga play station 4 dengan grafik yang sudah sangat bagus, mulai dari Rp2 juta hingga Rp4 jutaan. Sehingga ia sendiri lebih memilih game konsol ketimbang game PC.
“Namun balik lagi, kekurangan game konsol itu dia sangat jarang ada permainan jenis multiplayer online battle arena (MOBA). Karena game jenis itu lebih banyak di PC dan mobile,” terangnya.
PC Rasa Konsol
Bagi penyuka game PC namun ingin memainkan lebih praktis, saat ini sudah tersedia banyak piranti keras yang menyediakan game konsol portabel. Beberapa di antaranya ialah Asus ROG Ally, Lenovo Legion dan Steam Deck. Tampilan awal dari perangkat ini, secara garis besar sama dengan PC.
Namun modelnya dibuat serupa joy stick dengan layar berukuran sedang di tengahnya. Penggemar game asal Pekanbaru, Febrian menceritakan bahwa sejak beberapa tahun belakangan, berbagai perusahaan PC mulai mengeluarkan game konsol portabel. Namun jika ingin memiliki perangkat tersebut, tentunya harus mengeluarkan kocek yang cukup dalam. Berkisar antara Rp10 juta-Rp15 juta.
“Tapi ini benar-benar seperti PC. Sudah banyak yang jual. Gamenya pun persis sama. Didalamnya juga bisa di install aplikasi game berbayar seperti steam dan lainnya,” ungkap Febrian.
Meski berukuran 8-11 inchi, game konsol portabel ini memiliki sensai bermain mirip seperti konsol. Namun dengan jenis game yang lebih beragam. Mulai dari MOBA, Battle Grounds, sport, arcade hingga RPG.
“Yang bikin dia banyak diminati karena memang sangat bagus dibawa ke mana-mana. Dan yang paling penting bisa masuk semua game,” pungkasnya.(nda)
Editor : RP Bayu Saputra