Seperti rutinitas kebanyakan pegawai setelah pulang kantor, Dian memilih singgah sejenak di warung kopi. Usai seharian bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), segelas kopi panas jadi penutup hari yang pas.
Di warung langganannya, Dian larut dalam canda bersama teman-teman yang biasa nongkrong di sana. Gelak tawa pecah, kopi pun dingin tak terasa. Hingga tanpa disadari, azan magrib hampir berkumandang.
”Lah, pulang yok. Waktu Maghrib lagi ni,” ajak Dian sambil berdiri tergesa.
Namun langkah mereka mendadak terhenti begitu sampai di luar warung. Area parkir motor sudah digenangi air pasang rob.
”Alamaaaak….!!! Banjir. Tadi datang kering, sekarang motor macam parkir di kolam,” ucap Dian sambil menggaruk kepala.
Seorang temannya hanya terkekeh. ”Kalau gini ceritanya, bukan parkir motor namanya, tapi kandang ikan,” celetuknya disambut tawa yang lain. Karena tak ada pilihan, mereka membuka sepatu dan menggulung celana. Dian sempat ragu melangkah.
”Pelan-pelan, jangan sampai ada ikan nyubit kaki,” katanya berseloroh.
Air pasang yang mencapai betis orang dewasa itu membuat mereka berjalan perlahan. Salah seorang teman Dian terpeleset sedikit hingga hampir jatuh.
”Santai, Bro, ini bukan lomba renang,” teriak Dian, yang justru makin memancing tawa.