BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Festival Lampu Colok menjadi tradisi masyarakat Melayu setiap menyambut malam 27 Ramadan atau Malam 7 Likur. Di Riau, tradisi ini terpelihara dan digelar di daerah pesisir seperti Bengkalis dan Kepulauan Meranti.
Di Bengkalis, acara dipusatkan di Jalan Utama Dusun Kampung Parit, Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis. Sedangkan, di Kepulauan Meranti dipusatkan Desa Insit, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Pembukaan yang digelar Senin (16/3) menyedot perhatian warga setempat.
Di Bengkalis, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan peresmian lampu colok sudah terlihat sejak waktu berbuka puasa. Masyarakat yang mengendarai sepeda motor membuat kemacetan lokasi pembukaan.
Ketua Menara 2 Lampu Colok Desa Pangkalan Batang Barat Syahrul mengatakan, pemuda di daerahnya telah mempersiapkan pembangunan menara lampu colok sejak beberapa waktu terakhir.
Apalagi ada keputusan untuk kembali melombakan tradisi ini memberikan semangat baru bagi para panitia dan masyarakat. “Kami bersyukur, kalau Disparbudpora Bengkalis kembali melombakan (lampu colok) tahun ini.. Dari awal pemuda memang sudah menargetkan untuk ikut lomba dan mempersiapkan pembangunan menara lampu colok,” ujar Syahrul.
Menurutnya, tradisi lampu colok merupakan warisan budaya yang selalu dinantikan masyarakat setiap menjelang akhir Ramadan. Selain menghadirkan pemandangan indah pada malam hari, kegiatan tersebut juga mempererat kebersamaan warga kampung.
Ia menyebutkan, pembangunan menara lampu colok biasanya dilakukan secara gotong royong oleh pemuda dan masyarakat setempat. Dana pembangunan berasal dari berbagai sumber, seperti bantuan desa, pengajuan proposal kepada sejumlah pihak, serta sumbangan masyarakat.
Syahrul menjelaskan, biaya pembangunan satu menara lampu colok bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung desain dan bahan yang digunakan. “Kalau untuk satu menara, paling kecil sekitar Rp20 juta. Itu pun kalau ada bahan yang masih bisa dipakai dari tahun sebelumnya akan kita pakai untuk menghemat biaya,” jelas Syahrul.
Meski membutuhkan biaya cukup besar, antusiasme masyarakat untuk mendukung tradisi lampu colok tetap tinggi. Banyak warga yang ikut menyumbang serta membantu proses pembangunan menara.
Ia mengatakan, masyarakat sering menanyakan kepada panitia apabila pembangunan lampu colok belum dimulai seperti biasanya. “Ya, terkadang masyarakat bertanya kenapa belum dibuat. Artinya mereka memang menunggu tradisi ini setiap Ramadan tibu,” jelasnya.
Untuk tahun ini, menara lampu colok yang dibangun di Pangkalan Batang Barat mengusung desain berbentuk masjid. Proses pengerjaan saat ini telah mencapai sekitar 90 persen dan tinggal tahap penyelesaian sebelum ditegakkan.
Acara dibuka Bupati Bengkalis Kasmarni dan dihadiri Dandim 0303/Bengkalis Letkol Inf Haris Nur Priatno, Danposal POS Bengkalis Lettu Laut Irwan (PM) Nirwan Hastya, Direktur Kepatuhan Bank Riau Kepri Syariah Fajar Restu Febriansyah, Kapolres Bengkalis diwakili Kasatbinmas Polres Bengkalis AKP Kasmandar Subekti, dan Ketua Baznas Bengkalis Ismail.
Bupati Kasmarni menyampaikan, rasa syukur kepada Allah SWT karena masyarakat Bengkalis masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan bersama-sama meramaikan Festival Lampu Colok, yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Melayu. Bupati menegaskan, bahwa Festival Lampu Colok merupakan warisan budaya yang memiliki nilai kebersamaan yang sangat kuat bagi masyarakat.
“Melalui festival ini, kita tidak hanya menampilkan keindahan cahaya lampu colok, tetapi juga mempertegas identitas budaya daerah kita, khususnya Kabupaten Bengkalis, yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda,” jelas Kasmarni.
Kasmarni juga berharap, melalui kegiatan tersebut dapat semakin mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya.
Di Kepulauan Meranti, lampu-lampu hias yang dibangun di sepanjang ruas jalan menuju Masjid Istiqomah Insit kerap menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya memikat warga lokal, instalasi cahaya itu juga mampu mengundang ratusan pengunjung setiap malam selama Ramadan. Bahkan, karya pemuda setempat beberapa kali masuk nominasi dan pernah meraih juara pertama dalam kategori lampu hias.
Wakil Bupati Kepulauan Meranti Muzamil secara resmi membuka Festival Lampu Colok di Desa Insit, Senin (16/3). Kegiatan berlangsung meriah dengan nuansa religius yang kental. Muzamil menegaskan bahwa Festival Lampu Colok merupakan warisan budaya Melayu yang sarat makna dan harus terus dilestarikan.
Ia menyebut, tradisi tersebut tidak sekadar menampilkan cahaya, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat. “Ini adalah warisan datuk nenek kita. Bukan sekadar hiasan, tetapi juga bagian dari syiar agama dan identitas daerah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mendorong agar festival ini terus dikembangkan menjadi agenda wisata unggulan daerah. Dengan pengemasan yang lebih baik dan terencana, festival ini diyakini mampu menarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah. “Kita ingin festival ini ke depan semakin besar dan dikenal luas, seperti event daerah lain yang sudah masuk kalender nasional,” sebutnya.
Mengusung tema Pelita Warisan Menjaga Marwah Negeri, festival tahun ini menjadi simbol komitmen masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman. Di akhir kegiatan, Wakil Bupati juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mengutamakan keselamatan selama perayaan Idulfitri.
Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Meranti, mengatakan penunjukan Desa Insit sebagai lokasi pembukaan bukan tanpa alasan. Selain kesiapan masyarakat, daerah tersebut dinilai konsisten menghadirkan karya terbaik setiap tahun. “Untuk tahun ini, Desa Insit kita tetapkan sebagai tuan rumah pembukaan Festival Lampu Colok dan Lampu Hias,” ujarnya beberapa hari sebelum ini.(ksm/wir)
Editor : Arif Oktafian