BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Tidak hanya mahal, namun pasokan cabai merah keriting asal Bukittinggi, Sumbar dan Sumatera Utara (Sumut) nyaris putus di Pulau Bengkalis. Kondisi itu membuat harganya melambung tinggi mencapai Rp110 ribu per kilogram (kg).
Dari pantauan di Pasar Terubuk Bengkalis, di seluruh pedagang yang menjual sayuran dan cabai, tidak terlihat onggokan cabai merah keriting asal Sumbar dan Sumut. Hanya terlihat cabai rawit serta cabai kerting hijau yang harganya juga selangit mencapai Rp90 ribu per kg.
Setelah masuk ke dalam Pasar Terubuk bagian dalam, barulah ada satu lapak pedagang yang menjual cabai merah keriting, dengan jumlah terbatas. Pedagang mengaku pasokannya berkurang dari Sumbar, makanya stok cabai merah keriting yang dijualnya sedikit.
"Sudahlah mahal, pasokkannya juga putus. Mungkin dan diambil sama pembeli yang dari luar pasar. Makanya tak ada di Pasar Terubuk," ujar Umi, salah seorang pedagang cabai merah keriting di pasar tradisional tersebut, Rabu (22/10).
Ia mengaku, sudah dua hari ini cabai tak masuk Pulau Bengkalis. Informasi yang didapat, karena di daerah asalnya memang produknya berkurang. Makanya sampai di pulau ini pun sedikit jumlahnya.
Sedangkan Yani, pedagang yang lain juga menyebutkan, pagi-pagi lagi cabai merah keriting sempat datang. Yang dijualnya cabai asal Sumut, dengan harga berkisar dari Rp85 sampai dengan Rp95 ribu per kg.
Baca Juga: Lennart Karl Pecahkan Rekor Pencetak Gol Termunda Bayern Munchen saat Lakoni Debut di Liga Champions
"Sekarang baru pukul 07.45 WIB sudah habis cabainya. Tinggal cabai hijau keriting dengan harga Rp80 ribu per kg dan cabai rawit Rp65 ribu per kg," ujarnya.
Sedangkan salah seorang pembeli di Pasar Terubuk Bengkalis bernama Weni mengaku terkejut dengan kelangkaan cabai merah keriting asal Bukittinggi. Kalau ada pun stoknya sedikit dan harganya sangat mahal.
"Ya, mahal. Saya beli sedikit saja dan kami mengurangi konsumsi cabai di rumah. Jadi bisa menghemat," ucapnya.
Baca Juga: Cegah Dana BOS 'Bocor', Kejari Kuansing Bekali 100 Kepala Sekolah Penyuluhan Hukum
Ia berharap, agar kondisi ini dapat berlalu dan pemerintah dapat menstabilkan harga bahan pokok di pasaran. Karena jika tidak, masyarakat yang daya belinya lemah, akan membuat semakin susah.
"Ya, harus ada solusinya. Karena saat ini keuangan keluarga sangat susah. Gaji kadang tersendat-sendat dan ini membuat kami susah untuk mengatur pengeluaran rumah tangga," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pedagang dan Perindustrian (Kadisdagprin) Bengkalis Zulfan menyebutkan, memang kondisi pasokan cabai dari luar berkurang. Bahkan kondisi seperti ini dialami di seluruh Riau dan secara nasional.
"Tapi kami tetap melakukan monitoring dilapangan, agar pasokkan cabai dari luar tetap masuk ke Pulau Bengkalis," ujarnya.(ksm)
Editor : Edwar Yaman