BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -- Ribuan pelanggan air bersih yang dikelola Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, mengeluhkan air bersih yang tak lancar masuk ke rumah mereka. Pasalnya harga berlangganan air bersih cukup tinggi, sementara airnya tidak mengalir dengan lancar ke rumah pelanggannya.
"Sudah lebih sebukan ini air bersih dari Perumda Tirta Terubuk Bengkalis tak mengalir dengan lancar ke rumah. Sementara kami tak punya cadangan untuk digunakan," jelas Arif, salah seorang pelanggan air bersih yang tinggal di Desa Air Putih, Bengkalis, Selasa (31/3/2026).
Ia mengaku, air mengalir ke rumahnya hanya waktu subuh saja. Itupun durasi mengalirnya cukup pendek atau sekitar 1 jam dan jam 6 pagi sudah berhenti. Sementara kebutuhan air di rumahnya sangat banyak. Baik untuk mencuci, masak dan MCK.
"Mau mengambil air sumur kualitasnya tak layak. Karena selain warna merah juga baunya cukup menyengat. Jadi benar-benar tak bisa digunakan. Terkadang harus membeli air bersih kemasan galon dengan harganya cukup mahal," keluhnya.
Sedangkan pantauan di lapangan, sejumlah keran air yang berada di depan rumah pelanggan banyak yang tak mengalir. Ini diakibatkan keringnya waduk air baku di Wonosari Bengkalis.
Bahkan akibat kemarau yang cukup panjang, mengakibatkan cadangan air baku di waduk Perumda Tirta Terubuk Bengkalis mengalami kekeringan dan bagian dasar waduk sudah terlihat tanah yang sudah kering dan mengeras karena tidak ada airnya.
Bahkan selain volume air yang menyusut sangat signifikan, membuat tingkat kekeruhan air juga melonjak tajam, hingga mencapai 1600 Nephelometric Turbidity Unit (NTU), jauh di atas ambang normal maksimal 100 NTU.
Terhadap kondisi itu, Direktur Utama Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, Abel Iqbal, menjelaskan bahwa kondisi ini sangat menyulitkan pihaknya, dalam proses pengolahan air bersih. Karena kemarau panjang membuat ketersediaan air baku berkurang.
"Kondisi kekeruhan air saat ini mencapai 1600 NTU. Dengan tingkat seperti ini, pengolahan menggunakan nano filter tidak bisa dilakukan karena berisiko merusak peralatan," jelas Abel Iqbal.
Ia mengatakan, dalam situasi tersebut pihaknya terpaksa menggunakan metode pengolahan konvensional. Namun, metode ini juga menghadapi tantangan besar karena tingginya tingkat kekeruhan air baku.
Menurutnya, untuk mengolah air dengan kondisi seperti ini, kebutuhan bahan kimia meningkat drastis. Dalam satu hari, kami membutuhkan sekitar 1,2 ton alum dan 800 kilogram soda, padahal dalam kondisi normal hanya sekitar 500 kilogram alum dan 300 kilogram soda.
"Meski biaya operasional meningkat signifikan, Perumda Tirta Terubuk tetap berupaya maksimal agar distribusi air kepada masyarakat tetap berjalan, meskipun kualitasnya tidak sebaik saat menggunakan teknologi nano filter," jelasnya.
Ia mengaku, tetap beroperasi semaksimal mungkin agar masyarakat masih bisa menikmati air, walaupun kualitasnya menurun. Kami mohon maaf kepada pelanggan jika air yang diterima tidak seperti biasanya.
Ia juga menyebutkan, bahwa kondisi waduk di Bengkalis saat ini sangat memprihatinkan. Dua waduk utama, baik yang dibangun melalui APBD maupun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), mengalami kekeringan dan minim pasokan air.
"Air yang masuk ke waduk sangat sedikit karena parit-parit sudah menyusut akibat tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir," jelas Abel.
Editor : Rinaldi