BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Di tengah berbagai krisis yang dihadapi masyarakat saat ini, membuat kondisi pasar di Pulau Bengkalis melesu dan cenderung fluktuatif. Bahkan pascasulitnya BBM, krisis air bersih dan juga kondisi listrik yang sering padam tak menentu, membuat harga pasar bergejolak.
Bahkan sama pekan ini, harga sejumlah bahan pangan terpantau mengalami fluktuatif pada, Jumat (10/4/2026). Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai merah keriting, sementara beberapa bahan lainnya juga mengalami penyesuaian harga di tingkat pasar.
Cabai rawit hijau tercatat naik dari Rp25 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting juga mengalami kenaikan dari Rp35 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram.
Baca Juga: Pemkab Inhu Bantu Biaya Domestik untuk 265 JCH, Teknik Pelepasan Masih Dibahas
Selain cabai, komoditas lain yang mengalami kenaikan adalah timun, dari Rp12 ribu menjadi Rp13 per kilogram, serta ayam kampung utuh yang naik dari Rp86 ribu menjadi Rp90 ribu per ekor. Disusul daging sapi segar Rp155 ribu per kg menjadi Rp160 ribu, daging kambing segar Rp145 ribu menjadi Rp150 ribu per kg.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami perubahan harga yang relatif kecil. Bawang bombai tercatat dari Rp30 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram. Kacang panjang justru mengalami penyesuaian harga dari Rp15 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram.
"Pasar saat ini sepi pembeli. Karena pengaruh pegawai tak gajian dan membuat ekonomi masyarakat dan pendapatan pedagang menurun. Bahkan saat ini sejumlah harga bahan pangan plumtuatif, sehari naik dan turun," ujar Yani, salah seorang pedagang cabai di Pasar Terubuk Bengkalis.
Baca Juga: Pemberlakuan WFH Pemkab Kepulaun Meranti Ditunda Jumat Pekan Depan
Ia mengaku, sudah beberapa pekan setelah lebaran ini pasar umumnya sepi. Bahkan bahan pangan yang masuk juga terbatas jumlahnya. Sehingga untuk menjaga pelanggan agar barang yang dibutuhkan tetap tersedia, makanya kepada pemasok barang juga dipesan jauh sebelumnya agar membawa barang yang paling dibutuhkan pelanggan.
"Tentu sayuran, cabai, bawang. Ini yang sangat dibutuhkan pelanggan. Jadi tak boleh putus, meski harganya mahal wajib tetap ada di pasaran," jelasnya.
Sedangkan, Weni salah seorang pembeli juga mengeluhkan harga barang pangan yang cenderung naik setiap hari. Padahal uang untuk berbelanja sudah disesuaikan kebutuhan dapur setiap hari.
"Jadi sekarang belinya hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja dan tak bisa dibeli untuk sepekan. Karena harga barang selalu naik dan juga selalu kosong. Makanya barang yang kita butuhkan untuk dimasak saja yang di beli," jelasnya.
Sedangkan Analis Perdagangan Ahli Pertama Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrpin)Kabupaten Bengkalis, Hindama Afada, menjelaskan kenaikan harga cabai dipengaruhi oleh gangguan distribusi dan faktor cuaca di daerah pemasok.
“Kenaikan harga cabai saat ini disebabkan adanya kendala distribusi dari daerah produksi. Di Aceh terjadi longsor yang menyebabkan akses jalan terputus, sementara di Medan curah hujan cukup tinggi sehingga hasil panen tidak maksimal,” jelas Hindama.
Baca Juga: 75 Persen Pegawai Disdikpora Kampar WFH, Pelayanan Publik Dipastikan Tetap Optimal
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada pasokan cabai ke Bengkalis yang menjadi terbatas, sehingga memicu kenaikan harga di pasaran.
Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga dan berupaya menjaga kestabilan pasokan bahan pangan agar tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan dalam waktu lama.
Editor : M. Erizal