Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mindo Tak Ditahan

Redaksi • Rabu, 3 Agustus 2011 | 07:48 WIB
JAKARTA (RP) - Penyidik Bareskrim Polri batal melakukan penahanan terhadap AKBP Mindo Tampubolon, tersangka dalang pembunuhan istrinya.

Sehari setelah diumumkan ditahan oleh Kadivhumas Irjen Anton Bachrul Alam, Mindo ternyata bisa melenggang keluar.

 Padahal, pasal yang disangkakan sangat berat, yakni, dalang pembunuhan atau intellectual dader dengan pasal 340 KUHP. Sebagai contoh, mantan Ketua KPK Antasari Azhar juga dikenakan pasal ini dan langsung ditahan sejak awal.

Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan meski tak ditahan, Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Mindo Tampubolon, tetap berstatus tersangka atas kasus pembunuhan istrinya, Putri Mega Umboh (25).

Mindo dikenakan wajib lapor dua kali sepekan ke Bareskrim Mabes Polri. ‘’Mindo sementara belum ditahan, masih wajib lapor. Kasusnya masih didalami. Sudah jadi tersangka.Kita perlu buktikan dulu,’’ katanya.

Anton menjelaskan, penyidik Kepri telah menyerahkan penanganan Mindo kepada Bareskrim Polri. “Memang dari Bareskrim turun ke Kepri, dari Propam untuk menanyai kasusnya,” ujarnya.

Anton pun belum merubah pernyataannya bahwa Mindo diduga menjadi aktor pelaku pembunuhan terhadap istrinya sendiri, Putri. Namun, dugaan ini perlu dibuktikan lagi.

Anton mengatakan, bahwa dugaan Mindo sebagai aktor pembunuhan istrinya ini adalah berdasarkan pengakuan pembantunya dan sejumlah saksi. ‘’Keterangan ini berasal dari pembantunya dari saksi-saksi yang ada di rumah itu,’’ kata mantan Kapolda Jatim itu.

Anton menambahkan jenazah Putri yang telah dimakamkan di Lampung, juga terpaksa diangkat kembali untuk dilakukan autopsi ulang, karena dugaan keterlibatan Mindo dalam pembunuhan ini.

 “Perlu diotopsi ulang karena ada dugaan Mindo terlibat. Semula keluarga korban tidak mau. Tapi, akhirnya mau juga,” katanya.

Mabes Polri juga telah mendengar kejanggalan demi kejanggalan penanganan kasus pembunuhan ini. Termasuk dugaan penyiksaan yang dialami para tersangka saat pemeriksaan di Polda Kepri. Karenanya, Mabes Polri telah menurunkan tim Provos untuk menelusuri dugaan penyiksaan oleh aparat kepolisian ini.

Anton menegaskan, Mabes Polri akan memberi tindakan tegas jika hasil penelusuran diketahui adanya kesengajaan penyiksaan para tersangka kasus Putri tersebut.

 “Mengenai penganiayaan terhadap satpam, kalau ada yang menyiksa, sedang kami proses. Makanya sudah ada tim provos yang ke sana. Tunggu laporan dari sana,’’ katanya.

Seperti diberitakan, jenazah Putri Mega Umboh ditemukan dengan kondisi mengenaskan di hutan telaga Punggur, Batam, Kepri, 26 Juni 2011.

Putri diduga tewas di tangan sejumlah tersangka, Rosma alias Ros (pembantu korban), Gugun Gunawan alias Ujang (kekasih Ros), dan sejumlah sekuriti di Perumahan Anggrek Mas 3, Batam.

Para sekuriti yang menjadi tersangka justru menyangkal terlibat dalam pembunuhan tersebut dan mereka justru mengaku mengalami penyiksaan di dalam tahanan Polda Kepri.

Dan akhirnya kepolisian melepaskan tersangka dari pihak sekuriti tersebut. Dalam perjalanan kasus ini, penyidik Polda Kepri menemukan fakta baru setelah membuat BAP kedua terhadap seluruh tersangka.

Kepada penyidik, Ujang dan Ros selaku pelaku utama mengaku ada perencanaan dari orang yang mengorder pembunuhan sebelum eksekusi bahwa Hotel Bali ditetapkan sebagai tempat persembunyian.

Selain itu, hutan Punggur Batam dipilih sebagai lokasi pembuangan mayat Putri, yang jaraknya dekat dengan Polsek Nongsa.

Kuasa hukum Mindo, Hotma Sitompul menilai penyidikan kliennya janggal.

 “Mindo ini disangka melakukan penculikan, pembunuhan dan perampokan, tapi kan sebelumnya sudah ada yang mengaku, yaitu si pembantu dan kekasihnya. Namun mereka sekarang mengelak dan menuduh si Mindo. Yang anehnya kenapa langsung percaya,” tutur Hotma kepada wartawan di kantornya kemarin.

Hotma dan tim hari ini akan berangkat ke Kepulauan Riau untuk menanyakan hal itu. Hotma ngotot menyebut ada sesuatu di balik penetapan kliennya sebagai tersangka pembunuhan istrinya sendiri ini. ‘’Saya akan bertemu Kapoldanya dan bertemu Direktur Kriminal Umum Kombes Wibowo untuk meminta dia mengundurkan diri dari penyidikan ini,’’ katanya.

Dikenal Pintar, Jadi Model Sejak SMP
Putri merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Kombes Pol James Umboh Messe dan Getwin. Kepergian mendiang yang meninggalkan seorang putri, Kesya, yang baru berumur 3 tahun menyisakan luka mendalam. ‘’Saya akan rawat cucu saya,’’ kata ibu Putri, Getwin.

Menurut Nadia, pembantu rumah tangga dari keluarga James yang merupakan Karo Rena Polda Bali, Putri dikenal baik di kalangan keluarga.

Bahkan sejak sekolah, istri Kompol Mindo Tampubolon ini, merupakan mantan model sejak SMP hingga SMA. Putri lulusan SMA Xaverius Pahoman, Tanjungkarang.

Setelah tamat, Putri melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jakarta. Kemudian, pada tahun 2006, ia menikah dengan Mindo yang ia kenal di Pekanbaru. Setelah menikah, Putri ikut suaminya ke Batam dan sudah lima tahun tinggal di Batam.


Keluarga Minta Asas Praduga Tak Bersalah
Status tersangka sudah ditetapkan penyidik Bareskrim Mabes Polri terhadap AKBP Mindo Tampubolon, Kasubdit II Direktorat Kriminal Khusus Polda Kepulauan Riau, Senin (1/8), atas dugaan terlibat pembunuhan berencana istrinya sendiri Putri Mega Umboh pada 26 Juni 2011 lalu. Namun
pihak keluarga tak percaya begitu saja.

Menurut abang kelima korban, Sahat Parulian Tampubolon (46), keluarga dan dirinya tak menyangka sama sekali jika adiknya itu melakukan perbuatan keji.

Mindo dikenal sebagai sosok yang humoris baik dan sopan. Bahkan tak pernah melakukan tindakan kriminal dan juga kejahatan. Dari kecil pun dia tak pernah melakukan tindakan negatif sampai sekarang ini.

‘’Sebagai abang kandung, saya tahu persis perangai adik saya. Jika ada masalah sekecil apapun pasti dia membicarakan dengan pihak keluarga, terutama saya sering jadi tempat curhat-nya,’’ kata ayah dua anak ini.

Musibah yang dialami Mindo, lanjutnya, membuat pihak keluarga tertekan dan kecewa, apalagi disampaikan dalam pemberitaan media massa. Apa yang dituduhkan pada Mindo belum tentu benar.

‘’Apa betul Mindo melakukan perbuatan sekeji itu. Seharusnya dalam hal ini aparat kepolisian dan juga media melakukan asas praduga tak bersalah,’’ katanya mempertanyakan.

Mindo, jelasnya, dididik dan dibesarkan dengan belaian kasih sayang. Tak pernah orangtua melakukan tindakan kasar apalagi mengajarkan perbuatan kejahatan. Dari sepuluh anggota keluarga, semuanya tak pernah melakukan tindakan kejahatan. Sejak musibah menimpa adiknya itu, keluarga masih tak percaya karena ia tahu persis watak adiknya.

Dalam keluarga, ungkapnya, Mindo memiliki karakter yang beda dari anggota keluarga lainnya. Itu dilihat dari sikapnya, yang supel, sopan, mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapa saja. ‘’Jika anggota keluarga kumpul, tak ada Mindo terasa kurang, karena ia suka humor yang membuat orang tertawa,’’ katanya.

Dikatakannya, Mindo ini anak ke-8 dari sepuluh bersaudara. Lahir di Pekanbaru tahun 1971. Menimba ilmu SD dan SMP Kalam Kudus. Kemudian SMA pindah ke Bandung, dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di Bandung. Dalam pendidikan ini, Mindo beberapa kali meraih prestasi juara kelas yang membanggakan keluarga.

Dalam kehidupan sehari-hari, Mindo dikenal penurut dan patuh, baik pada kedua orangtua maupun abang dan kakaknya. Begitu juga dalam bersikap, ia dikenal konsisten dan jujur, bahkan berenang dan fitnes merupakan hobinya.

Keinginan jadi anggota polisi yang dilakukan Mindo, sebut Sahat berawal iseng-iseng belaka. Di mana waktu kuliah, dan memberitahukan pada keluarga dia ingin masuk tes polisi. Keluarga mendukung dan merestui keinginannya itu. Sewaktu ikut tes, dua kali gagal, dan waktu tes ketiga kali baru lulus.

‘’Awal penempatan tugas pertama kalau tak salah di Irian Jaya dan apa Timor-timor (sekarang Timor Leste, red), saya lupa. Namun yang pasti tugas pertama itu ia memperoleh prestasi nomor satu menerima penghargaan bintang jasa,’’ katanya.

Setelah itu, dia dipindah ke Pekanbaru, dengan menempati salah satu posisi di Polda Riau pada tahun 2000. Dari sini karir Mindo mulai berkibar. Berselang enam bulan setelah itu, dia pindah ke Tanjung Balai Karimun dengan jabatan Kapolsek Tanjung Balai Karimun. Kemudian tahun 2003, balik lagi ke Pekanbaru dan ditempatkan di Ditlantas Polresta Pekanbaru.

‘’Di sini dia hanya setahun, tepat tahun 2004 kemudian pindah lagi ke Tanjung Balai Karimun sebagai Kasatlantas,’’ katanya.

Dua tahun kemudian, dia pindah ke Polresta Batam sebagai Kasat PJR, kemudian pindah ke Kepri sebagai pengamanan alat vital, Densus 88 sampai jadi Wakapolres Natuna tahun 2010. Dan terakhir Kasubdit II Direktorat Kriminal Khusus Polda Kepulauan Riau.

Selama berkarier di kepolisian, jelas Sahat, komunikasi bersama Mindo tetap berjalan. Bahkan pertemuan terakhir dengannya tiga bulan yang lalu, saat mengunjungi adiknya itu. Waktu itu sang adik mengatakan, ‘’Bang biar saya jemput, abang tunggu saja di bandara,’’ katanya.

Tiap kali ketemu, sang adik tak lupa untuk mencium dan memeluknya. Hal itu lazim dilakukan sesama anggota keluarga. Dan yang tak pernah lupa adalah kata-kata humor yang disampaikan Mindo.

‘’Sebagai saudara kandung, musibah yang menimpa Mindo sangat tidak masuk akal, karena kami tahu dari kecil sampai besar bagaimana perilakunya. Atas musibah ini pihak keluarga juga akan melakukan pembelaan atas Mindo yang diduga membunuh istrinya itu,’’ jelasnya.

Sulit Ditemui
Sebelumnya orangtua Mindo, Dr Ray Firman Tampubolon atau yang juga dikenal dengan sebutan Raja na Pogos, sulit ditemui wartawan. Untuk memberi kesempatan pada pihak keluarga menyampaikan pemberitahuannya, Senin (1/8) Riau Pos berusaha untuk mewawancarai Ray Firman.

Senin (1/8) Riau Pos datang ke rumah Ray Firman sekitar pukul 20.30 WIB. Ketika sampai, seorang petugas keamanan bernama Arifin langsung mendatangi Riau Pos.

Kedatangan Riau Pos ini adalah yang kedua kalinya untuk coba mewawancarai perwakilan keluarga AKBP Mindo. Ketika tiba, Arifin mengatakan bahwa Ricky Tampubolon, abang AKBP Mindo pergi ke Jakarta. ‘’Pak Ricky pergi ke Jakarta. Tadi pagi berangkatnya, sekeluarga dia pergi,’’ ujar Arifin.

Riau Pos bertanya ke Arifin apakah Ray Firman bisa diwawancara.

‘’Bapak di dalam. Coba saya tanya dulu, karena beliau baru pulang makan malam,’’ jelas Arifin sambil memberi isyarat ke seorang perempuan yang sedang duduk di sebelah pos satpam tempat Arifin berjaga untuk menanyakan ke dalam. Perempuan itu kelihatannya adalah salah seorang pembantu yang bekerja di rumah mewah bertingkat dua yang terletak di Jalan Sisingamangaraja itu.

Sembari menunggu, Riau Pos sempat berbincang dengan Arifin. Satpam yang sudah tujuh tahun bekerja untuk keluarga ini mengatakan, Ray Firman baru saja tiba dari Batam tadi sore.

‘’Sekitar pukul 06.00 WIB lah bapak sampai,’’ terangnya.

Selang 20 menit setelah perempuan tadi masuk, ia keluar dan memberi isyarat ke Arifin. Setelah mereka berbincang sebentar, Arifin lalu mendatangi Riau Pos dan mengatakan Ray Firman belum bisa wawancara saat ini. ‘’Bapak sedang istirahat, besok saja mungkin,’’ ujarnya.

Tak mau menyerah, Selasa (2/8) Riau Pos kembali coba menemui dan mewawancarai Ray Firman. Sekitar pukul 10.30 WIB Riau Pos tiba di rumahnya. Satpam yang berjaga di sana, Jetro mengatakan Ray Firman sudah pergi ke gereja.

Ray Firman merupakan pendeta pembina Gereja Bethel Indonesia, di Jalan Tuanku Tambusai (Rayon XI). Karena faktor usia, tampuk kepemimpinan dilanjutkan ke anaknya, Pendeta Ricky Nelson Tampubolon, abang AKBP Mindo. ‘’Biasanya hingga siang di sana,’’ ujar Jetro.

Siang sekitar pukul 13.00 WIB, Riau Pos mendatangi Gereja Bethel tempat Ray Firman berada. Setiba di sana, Satpam yang berjaga mengatakan sekitar pukul 11.00 WIB dia sudah kembali ke rumah.

‘’Biasanya dari jam segini (13.00 WIB), sampai pukul 17.00 WIB, beliau istirahat di rumah. Tidur. Saya saja kalau berjaga di sana tak boleh membangunkan pada jam segitu. Biarpun itu tamu penting yang datang,’’ jelasnya.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Riau Pos kembali lagi mendatangi rumah di bilangan Jalan Sisingamangaraja itu. Setiba di sana, Jetro, satpam yang berjaga mengatakan Ray Firman sedang istirahat.

‘’Belum bisa ditemui. Jangankan bapak, ibu itu saja yang saudaranya sudah dari tadi menunggu untuk bisa ketemu Pak Raja (Ray Firman, red),’’ jelas Jetro sambil menunjuk seorang ibu yang berumur sekitar 50 tahunan yang sedang duduk di sebelah pos Satpam.

Jetro mengatakan, sebaiknya jika ingin wawancara, langsung saja menghubungi orang di gereja. ‘’Karena kadang bapak kalau mau ketemu dengan keluarganya saja di gereja ketemunya,’’ tuturnya.(.(rdl/jpnn/aal/*1/fas) Editor : RP Redaksi