JAKARTA (RIAUPOS.CO) - GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi ekspor minyak kelapa sawit (CPO) tahun ini turun sekitar 4–5 persen. Penurunan itu disebabkan adanya stagnasi produksi di Indonesia. Di sisi lain, permintaan domestik terus meningkat.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono menjelaskan, peningkatan produksi kelapa sawit Indonesia tahun ini diprediksi tidak lebih dari 5 persen. Sedangkan kebutuhan dalam negeri naik karena beberapa hal. Di antaranya, mandatori biodiesel B35 diperpanjang yang bisa mencapai 25 juta ton. Selain itu, konsumsi pada produk oleokimia (oleochemical) naik. ‘’Dengan perhitungan tersebut, ekspor kelapa sawit pada 2024 akan berkurang 4,13 persen atau hanya sekitar 29 juta ton,’’ ujar Eddy.
Eddy mengatakan, konsumsi dalam negeri terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Salah satu pendorongnya adalah program mandatori biofuel 35 persen. Sedangkan konsumsi makanan dan minyak goreng relatif stabil dalam tiga tahun terakhir. Hanya pada 2022 sempat terjadi lonjakan demand karena kelangkaan di pasaran pada awal tahun.