JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas Antam kembali mencetak rekor tertinggi, Jumat (23/1). Dipantau dari laman Logam Mulia, emas Antam naik signifikan sebesar Rp90.000 per gram menjadi Rp2.880.000 per gram.
Sementara untuk harga buyback emas Antam dibanderol Rp2.715.000 per gram atau turun Rp80.000 per gram. Harga buyback ini adalah jika Anda ingin menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp2.715.000 per gram.
Untuk diketahui sebelumnya rekor tertinggi harga emas Antam dicetak pada perdagangan Rabu (21/1). Harga emas Antam di angka Rp 2.772.000 per gram. Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017 untuk semua jenis emas mulai dari gramasi 1 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram).
Penjualan kembali emas batangan ke PT Aneka Tambang (Antam) Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh)
Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.
PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22.
Sebelumnya, harga emas menembus angka 4.900 dolar AS per gram untuk pertama kalinya pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta). Lonjakan harga emas didorong oleh ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah, dan ekspektasi penurunan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, harga perak dan platinum mencapai rekor tertinggi baru. Dikutip dari CNBC, Jumat (23/1), harga emas di pasar spot melonjak ke rekor tertinggi 4.917,65 dolar AS per gram. Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup 1,6 persen lebih tinggi menjadi 4.913,4 dolar AS per gram.
Dolar AS melemah 0,4 persen, membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih menarik bagi pembeli luar negeri. “Ketegangan geopolitik, dolar yang umumnya lemah, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini, semuanya merupakan faktor yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tren de-dolarisasi makro dan masih berdampak pada permintaan (emas),” kata Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior di Zaner Metals, Peter Grant.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, yang kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan Cina.
Namun rincian dari kesepakatan apa pun masih belum jelas dan Denmark bersikeras bahwa kedaulatannya atas pulau itu tidak dapat didiskusikan. Dari segi data, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat pada bulan November dan Oktober, yang mengindikasikan pertumbuhan kuat selama tiga kuartal berturut-turut.
Pasar memperkirakan bank sentral AS akan menerapkan dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. “Kemunduran jangka pendek akan dilihat sebagai peluang pembelian (emas). Kami telah melihat level 5.000 dolar AS per gram di dekatnya dan di luar itu proyeksi Fibonacci 5.187,79 dolar AS per gram terlihat masuk akal,” tambah Grant.
Di tempat lain, harga perak spot melonjak ke rekor tertinggi 96,58 per gram. “Perak memiliki narasi fundamental yang jauh lebih menarik daripada emas. Mungkin perak bukan aset cadangan seperti emas, tetapi tetap mendapat manfaat dari aliran dana aman dan pelemahan dolar,” kata Nikos Tzabouras, analis pasar senior di Tradu.(ara/opi/int/das)
Editor : Bayu Saputra