Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kurs Dolar AS Berpotensi Tembus Rp18.000, Subsidi BBM Membengkak, APBN Kian Tergerus

Tim Redaksi • Kamis, 14 Mei 2026 | 14:05 WIB
Ilustrasi kurs mata uang dolar terhadap rupiah
Ilustrasi kurs mata uang dolar terhadap rupiah

 JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum mereda. Sejumlah pengamat ekonomi bahkan memprediksi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal mencapai angka Rp18.000 dalam waktu dekat.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai bahwa tekanan eksternal dan persoalan fiskal domestik menjadi faktor yang mendorong rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik global menjadi pemicu utama derasnya penguatan dolar AS. Lonjakan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Kondisi itu berbahaya karena asumsi APBN masih menggunakan harga minyak 70 dolar AS per barel dan kurs Rp16.500 per dolar AS.

Baca Juga: Rayakan Harkitnas 2026, Bank Mandiri Salurkan Sembako untuk Ribuan Pekerja Informal Pekanbaru

 ‘’Ketika harga minyak naik dan rupiah melemah, kebutuhan dolar untuk impor BBM otomatis membengkak. Itu yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat,” jelasnya.

Ibrahim menilai, tekanan terhadap rupiah tidak cukup diselesaikan lewat kebijakan moneter. Menurut dia, persoalan utama justru berada di sisi fiskal pemerintah, terutama tetap berjalannya sejumlah proyek besar di tengah tekanan anggaran dan lonjakan kebutuhan subsidi energi. 

“Bank Indonesia sudah melakukan intervensi di pasar valas, obligasi, dan offshore NDF. Tapi kalau fiskalnya masih ekspansif, tekanan rupiah akan tetap besar,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang negara berkembang. “Kenaikan harga minyak sudah lebih dari 40 persen sejak akhir Februari,” kata Denny di Jakarta, kemarin (13/5).

Baca Juga: OJK Bakal Batasi Akun dan Pinjaman Paylater

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kini mendekati 4,5 persen, naik dari sekitar 4 persen pada akhir Februari. Kondisi itu mendorong penguatan indeks dolar AS dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang.

Di sisi domestik, permintaan dolar AS meningkat akibat musim repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji. Kondisi itu membuat tekanan terhadap rupiah makin besar dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, BI memastikan terus melakukan langkah stabilisasi. Bank sentral memperkuat implementasi tujuh langkah strategis guna menjaga nilai tukar tetap terkendali. 

‘’Bank Indonesia akan terus berada di pasar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Setelah pasar Jakarta tutup, kami standby di pasar Eropa dan Amerika untuk menjaga pergerakan rupiah, termasuk menjaga transaksi NDF offshore agar tetap stabil,” ujarnya.

Pemerintah Mulai Hitung Risiko

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung potensi pembengkakan subsidi BBM di tengah tekanan kurs dolar AS yang terus mencetak rekor baru.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pembahasan lintas kementerian sedang dilakukan untuk memitigasi dampak tekanan global terhadap sektor energi nasional.

“Pak Menteri bersama jajaran menteri sedang merapatkan hal tersebut. Kita tunggu saja,” ujar Laode di Jakarta, Rabu (13/5).

Rapat dilakukan menyusul kondisi fiskal yang mulai tertekan akibat kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak mentah dunia. Pada Selasa (12/5), rupiah sempat menyentuh Rp17.540 per dolar AS sebelum bergerak ke kisaran Rp17.493 pada perdagangan Rabu (13/5) pagi.

Di saat bersamaan, harga minyak mentah global masih bertahan di atas 100 dolas AS per barel. Harga minyak Brent tercatat 106,95 dolas AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai 101,52 dolas AS per barel.

Kondisi itu jauh melampaui asumsi dasar makro APBN 2026 yang menetapkan harga minyak mentah Indonesia di kisaran 70 dolas AS per barel. Situasi tersebut berpotensi memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah, terutama untuk BBM dan elpiji.

Tekanan terhadap APBN diperkirakan makin berat karena pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor minyak mentah maupun BBM. Apalagi, kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor di tengah produksi minyak domestik yang belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah hingga kini masih mempertahankan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tertentu agar tidak naik. Namun, tekanan kurs dan harga minyak dunia mulai memunculkan spekulasi penyesuaian harga energi apabila kondisi global terus memburuk.

Rebalancing MSCI dan Reformasi Pasar Modal

Hasil review indeks global Mei 2026 dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu koreksi sejumlah saham di pasar domestik. Sejumlah emiten tercatat keluar dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Global Small Cap Indexes.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai langkah tersebut merupakan konsekuensi jangka pendek dari reformasi integritas pasar modal yang tengah dijalankan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, perubahan komposisi indeks MSCI merupakan mekanisme review berkala berdasarkan parameter objektif seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, hingga dinamika harga saham.

‘’Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini,” kata Friderica, kemarin (13/5). Menurut Friderica, kondisi itu mencerminkan penyesuaian alokasi portofolio global dan dinamika pasar regional, bukan semata persoalan spesifik Indonesia.

Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan, hasil rebalancing MSCI merupakan dampak awal reformasi integritas pasar modal yang digulirkan sejak Februari 2026.

Salah satu fokus utama reformasi itu ialah meningkatkan transparansi kepemilikan saham dan validitas free float emiten. ‘’Ketika transparansi dibuka, index provider global bisa menghitung lebih akurat mana saham yang benar-benar free float dan mana yang sebelumnya hanya self-claim,” jelas Hasan.

Menurut dia, kondisi itulah yang menyebabkan sejumlah saham keluar dari indeks MSCI atau mengalami penurunan bobot. Sebab, setelah struktur kepemilikan dibuka lebih detail, sebagian saham dinilai tidak lagi memenuhi kriteria MSCI.

Meski demikian, Hasan menilai kondisi tersebut merupakan short term pain yang memang sudah diperhitungkan sejak awal reformasi dijalankan. ‘’Long term gain yang kami kejar adalah menghadirkan basis pasar modal yang lebih transparan, kredibel, dan investable bagi investor global,” tambahnya.

Di sisi lain, OJK melihat respons pasar terhadap pengumuman MSCI masih relatif terkendali. Hingga perdagangan pagi kemarin, IHSG terkoreksi sekitar 1-1,5 persen. Namun, tidak ada saham terdampak yang menyentuh auto rejection bawah (ARB). Frekuensi, volume, dan nilai transaksi juga dinilai masih normal. OJK memastikan belum melihat adanya panic selling dari investor.

Hasan menilai reformasi integritas pasar modal justru membuka peluang lebih besar bagi emiten domestik masuk ke indeks global pada periode berikutnya.

BEI Nilai Keputusan MSCI Kurangi Ketidakpastian Pasar

Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, keputusan MSCI justru mengurangi salah satu sumber ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar keuangan domestik.

“Pasar kita belakangan berada dalam kondisi ketidakpastian tinggi. Mulai dari gejolak geopolitik Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas, pergerakan mata uang, hingga pasar yang menunggu keputusan MSCI,” katanya.

Menurut Jeffrey, pengumuman MSCI yang dirilis kemarin memberikan kepastian baru bagi pelaku pasar. Karena itu, BEI memandang hasil review tersebut sebagai fondasi awal untuk memperkuat pertumbuhan pasar modal ke depan. 

“Dengan pengumuman MSCI hari ini, satu unsur ketidakpastian sudah berkurang. Itu positif bagi pasar dan menjadi basis untuk bertumbuh ke depan,” tambahnya.(mim/bry/ttg/oni/das)

Editor : Bayu Saputra
#dollar as #ekonomi #apbn #rupiah #kurs