JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pameran internasional GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Memasuki edisi ketiga, pameran teknologi pengecoran dan metalurgi ini menghadirkan lebih dari 260 eksibitor dari 19 negara di area seluas lebih dari 8.000 meter persegi.
Digelar hingga 12 September 2026, GIFA dan METEC Indonesia diselenggarakan Messe Düsseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia dan berlangsung berdampingan dengan Mining Indonesia ke-24 sebagai bagian dari IEE Series–Engineering Week 2026.
Pameran ini ditargetkan menarik lebih dari 6.000 pengunjung profesional. Kehadirannya menjadi ajang bagi produsen teknologi, pemasok bahan baku, pakar industri hingga fabrikator untuk bertemu dan mencari solusi bagi perkembangan manufaktur logam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Managing Director Messe Düsseldorf Asia, Lars Wismer, mengatakan Indonesia tengah berada dalam fase penting transformasi industri, terutama dalam memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah bahan baku.
Baca Juga: Sabu 65 Kg Jaringan Internasional Diamankan di Bengkalis
“Indonesia telah membuktikan bahwa mereka dapat membangun kapasitas dalam skala besar. Tantangan selanjutnya, dan peluang yang lebih besar, terdapat pada penguatan ekosistem hilir yang mengubah aluminium mentah menjadi produk bernilai tinggi dan kompetitif di tingkat internasional. GIFA dan METEC Indonesia 2026, bersama dengan Aluminium Pavilion yang baru, akan menyatukan industri pada titik kritis transformasi seraya menciptakan platform untuk berkolaborasi, berinovasi dan membuka kesempatan baru di seluruh rantai nilai aluminium,” ujar Lars Wismer.
Menurutnya, perkembangan industri logam kini tidak lagi hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku dapat diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi.
“Industri logam Indonesia sedang bergeser dari ‘seberapa banyak yang dapat kita produksi’ menjadi ‘apa yang dapat kita buat darinya’. Pergeseran itulah di mana GIFA dan METEC Indonesia berdiri. Dengan menyatukan perusahaan pengecoran, pengolahan aluminium, dan penyedia yang membawa teknologi tersebut dalam satu panggung pameran, kami memberikan pasar sebuah tempat untuk bersama-sama memikirkan bagaimana keunggulan bahan baku Indonesia menjadi keunggulan manufaktur yang sesungguhnya,” ungkap Mr Wismer.
Baca Juga: 21 Puskesmas Pekanbaru Diaktifkan, Pemko Perkuat Perlindungan Warga dari Kabut Asap
Selain perusahaan internasional dari Asia dan Eropa, sejumlah pelaku industri dalam negeri turut ambil bagian, di antaranya PT Wilisindomas Indahmakmur, PT CITEC Engineering Indonesia, PT Wintherm Bara Indonesia, PT Duta Laserindo Metal dan PT Presisi Digital Modern Teknologi.
Hadirkan Aluminium Pavilion
Salah satu sorotan baru pada GIFA-METEC Indonesia 2026 adalah Aluminium Pavilion. Area khusus ini menghadirkan teknologi yang mencakup rantai produksi aluminium, mulai dari peleburan, persiapan paduan, ekstrusi, rolling, produksi kawat, pemotongan presisi hingga daur ulang scrap metal.
Country General Manager PT Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, mengatakan kehadiran paviliun tersebut sejalan dengan berkembangnya industri aluminium nasional, terutama setelah pembangunan smelter dan peningkatan kapasitas hilirisasi.
“Dengan adanya kemajuan pembangunan smelter aluminium di Indonesia, perluasan kapasitas hilirisasi domestik merupakan langkah selanjutnya yang masuk akal. Aluminium Pavilion ini menyediakan akses langsung kepada teknologi yang dibutuhkan bagi para pelaku industri dalam negeri,” kata Lia.
Baca Juga: Perkara TPPO Pasutri Divonis Ringan, Kejari Bengkalis Siapkan Memori Banding
Pengembangan aluminium juga dinilai penting karena material tersebut banyak digunakan dalam kendaraan listrik (EV), konstruksi, serta infrastruktur energi terbarukan.
Dorong Berbagi Teknologi dan Keahlian
Selain pameran, GIFA dan METEC Indonesia 2026 menghadirkan rangkaian diskusi dan seminar industri. GAMMA bersama APLINDO akan menggelar seminar pada 10 September dengan tema “Accelerating Indonesia's Manufacturing Competitiveness Through Advanced Machinery, Automation, and Industrial Innovation”.
Pembahasan mencakup teknologi mesin, otomatisasi, inovasi industri, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta penerapan industri rendah karbon. Sebanyak 19 pakar industri, akademisi dan perwakilan teknis perusahaan juga dijadwalkan berbagi pengetahuan melalui rangkaian Tech Talk. Materinya mencakup teknologi pemanasan induksi, produksi baja berkelanjutan hingga teknologi fuel polishing, filtrasi dan pemisahan air untuk mendukung penggunaan bahan bakar campuran biodiesel B50 pada peralatan industri berat.
Lia menegaskan, GIFA dan METEC Indonesia tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem industri logam nasional.
“Pameran ini lebih dari sekadar ajang komersial. Antusiasme eksibitor internasional dalam berpartisipasi pada edisi ketiga ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat inovasi metalurgi dan pengecoran logam di kawasan Asia Tenggara. Kami tetap berkomitmen untuk terus mengembangkan platform ini sejalan dengan peta jalan industri Indonesia,” tutup Lia.
GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 berlangsung hingga Sabtu, 12 September 2026 di Hall B dan C JIExpo Kemayoran, Jakarta.***
Editor : Edwar Yaman