JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah terdampak risiko fiskal, karena kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah telah isyaratkan anggaran negara masih aman, walaupun harga minyak tinggi harus diwaspadai.
Hal itu menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (11/9). Rupiah ditutup melemah 36 poin ke Rp 17.547 per dolar AS pada Kamis (10/9).
"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor. Kenaikan harga minyak meningkatkan alokasi anggaran subsidi dan kompensasi energi, baik BBM maupun LPG," ucapnya.
Baca Juga: Sebagian Besar Wilayah Riau Diguyur Hujan, Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik
Dia menjelaskan apabila penerimaan negara tidak mampu menutupi kenaikan belanja subsidi energi, risiko defisit anggaran melebar di atas target makin besar. Kenaikan harga minyak juga dapat tekan nilai tukar rupiah.
"Apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, itu dapat melemahkan nilai tukar mata uang domestik. Jika pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM domestik untuk kurangi beban APBN, itu akan picu inflasi dan tekan daya beli masyarakat," ungkapnya.
Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal juga memberi pengaruh pada nilai tukar rupiah. Seperti data ekonomi Amerika Serikat. Data itu penting bagi pelaku pasar untuk menilai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan.
Baca Juga: Golkar Minta Anggaran Tepat Sasaran
Para pedagang bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI). "Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya pekan depan untuk meredam tekanan harga," ujarnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memerkirakan peluang sekitar 60 persen kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan. Prediksi ini membuat pelaku pasar waspada.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi