JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tekanan terhadap pasar keuangan domestik belum mereda. Nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp18.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum sepenuhnya pulih dari tekanan jual. Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, stabilitas nilai tukar merupakan salah satu mandat utama bank sentral. Sebab, kestabilan menjadi prasyarat penting untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, mendorong pertumbuhan sektor riil, sekaligus membuka lapangan kerja.
“Iklim ekonomi kondusif artinya harus ada stabilitas. Kalau tidak stabil, tidak akan mungkin kondusif. Sehingga, stabilitas itu menjadi pegangan utama kita. Kita juga punya nilai fundamental dan selalu berusaha menjaga rupiah berada dalam rentang angka fundamental tersebut,” ujar Destry di Jakarta, Rabu (4/11).
Baca Juga: BNI Naikkan Target Pertumbuhan Kredit
Menurut dia, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik domestik maupun global, termasuk perubahan sentimen pasar. Intervensi diperlukan ketika pergerakan nilai tukar menyimpang dari kondisi fundamental akibat tekanan sentimen yang muncul secara tiba-tiba.
BI tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing. Bank sentral juga mengoptimalkan berbagai instrumen, mulai transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga non-deliverable forward (NDF). Selain itu, kebijakan suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pemberian insentif untuk menekan biaya lindung nilai () turut menjadi bagian dari strategi stabilisasi.
“Kebijakan BI dalam rangka menjaga stabilitas rupiah itu semacam . Kapan kita fokus pada satu ataupun instrumen yang satu, dan kapan kita fokus kepada langkah-langkah yang lain. Sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif,” paparnya.
Perubahan Sentimen Investor Global
Tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Kemarin (4/11), rupiah melemah 0,1 persen menjadi Rp 18.140 per dolar AS dibandingkan posisi akhir Oktober. Pelemahan tersebut dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta perubahan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.
Baca Juga: Inflasi Pekanbaru di Bawah Nasional, Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Indonesia
Tekanan terhadap rupiah tersebut berjalan beriringan dengan ketidakpastian di pasar saham. IHSG sempat tertekan hingga mendekati level 4.800 sebelum berupaya bangkit. Namun, penguatan indeks belum cukup kuat untuk menandai pembalikan tren karena pelaku pasar masih mencermati evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.
Tekanan Harga Energi
Pada perdagangan kemarin (4/11), IHSG ditutup menguat 0,32 persen ke level 4.919,77. Sebelumnya, pada sesi pertama, indeks sempat melemah hingga menyentuh 4.860,94.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, tekanan yang membawa IHSG ke area 4.800 mencerminkan penyesuaian persepsi risiko investor terhadap pasar modal Indonesia. Perubahan sentimen tersebut tidak terlepas dari langkah MSCI yang membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status Indonesia dari kategori menjadi .
“Sejak saat itu, investor, terutama investor institusi asing, mulai menilai ulang risiko pasar Indonesia. Karena itu, pergerakan ke 4.800 lebih tepat dibaca sebagai penyesuaian persepsi risiko,” ujar Yusuf.
Baca Juga: Lima Model Wuling Kini Kantongi TKDN 60 Persen, Perkuat Industri Otomotif Lokal
Menurut dia, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari global, pelemahan harga komoditas, terutama energi, menekan saham-saham berbasis sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satu penopang indeks.
Sementara itu, dari dalam negeri, ketidakpastian proses evaluasi MSCI masih menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut diperberat oleh rupiah yang bertahan di atas Rp 18.000 per dolar AS serta sikap investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting. ”Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memilih menunggu kepastian yang lebih besar,” katanya.(mim/dio/gem)
Laporan JPG, Jakarta
Editor : Bayu Saputra