Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Seni Mural, Pilihan Gambar Dinding Kekinian

Agustiar • Minggu, 28 Januari 2024 | 20:45 WIB

Grafis
Grafis

Kini mural banyak terlihat di sejumlah titik di Pekanbaru. Ada di tempat terbuka, dan banyak juga di kafe-kafe, restoran, dan taman public. Yang mendominasi ialah kafe kopi. Jenis muralnya pun bermacam-macam, tergantung selera pemilik tempat. Jika tempatnya warung kopi, maka dominan tentang kopi. Ada juga yang mengambil tema soal penghijauan dan lingkungan.

Laporan AGUSTIAR, Pekanbaru

Mural sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah, yakni 3.500 tahun silam. Ada sebuah lukisan di gua di selatan Prancis yang diduga menjadi asal-muasal mural. Beberapa peradaban lain seperti Mesir juga memiliki banyak lukisan dinding ini. Berdasarkan catatan sejarah, Prancis merupakan negara yang paling banyak memiliki mural. Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas dinding, tembok, atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Dan kini, mural mulai menjadi pilihan bagi banyak kalangan untuk menghiasi dinding.

Mulai banyak terlihat mural di dinding kafe, restoran, rumah pribadi, tempat umum atau fasilitas publik, selain di sekolah-sekolah, dinding atau tembok kosong, di taman taman, lapangan olahraga indoor, dan banyak lagi. Mereka memilih untuk membuat gambar-gambar sesuai dengan selera dan tema-tema tertentu.

Baca Juga: Pembangunan Sejumlah Pelabuhan di Meranti Jadi Atensi

Salah seorang muralis (pelaku seni mural), Arnindo ST mengatakan, di Pekanbaru sendiri mural belum begitu popular di tahun 2000 namun telah ada. Misalnya ada saat itu gedung millenium yang di Jalan Tuanku Tambusai.

‘’Di tahun itu pun sebenarnya lebih populernya adalah graffiti. Tapi biasanya bukan seniman, melainkan dari klub motor atau anak sekolah untuk memunculkan asistensinya,’’ kata Nindo kepada Riau Pos, Sabtu (27/1).

Nindo begitu sapaan akrabnya, mengatakan, menjadi muralis ini awalnya hanya sebatas coba-coba. ‘’Basicly aku orangnya suka menggambar, apapun aku gambar di buku tulis, buku pelajaran, meja sekolah, dinding kamar dan lainnya,’’ ujarnya lagi.

Masuk 2004, Nindo sedikit bercerita, waktu masih SMP kelas 3 dia kagum dengan orang yang bisa bikin gambar besar. Dia berpikir bagaimana dia bisa mengatur skala, grafiknya, memainkan cat semprotnya.

‘’Di situlah aku mencoba mendalami graffiti yang pelakunya sering disebut bomber. Dari situ awalnya terjun ke dunia StreetArt, main di jalan. Kalau commisionwork graffiti itu dulu seperti distro dan bengkel. Nah, di 2012 Kota Pekanbaru lagi ramai-ramainya tumbuh kafe dan coffeeshop tu. Barulah beralih menjadi muralis atau mural artist sampai sekarang,’’ katanya bercerita saat mulai memilih menjadi muralis (sebutan bagi pelaku mural).

Kepada Riau Pos, Nino juga mencoba memberikan perbedaan antara mural, graffiti, street art, dan seni urban. Ditegaskanya, bahwa street art ini adalah induk. Disebut seni urban karena seni ini mencirikan perkembangan daerah yang berbeda secara sistem yang menjadikan kultur perbedaan terhadap perkotaan dan perdesaan. Propaganda atau merespon konflik dan permasalahan dengan seni ini.

Baca Juga: Sempat Terjebak Lumpur, Ajak Warga Tanam Mangrove untuk Peduli Lingkungan

Jadi, street art ini punya anak namanya graffiti, mural, poster, dan sebagainya. Secara singkat, ujarnya perbedaanya ada pada alat dan isinya. Graffiti ini menggunakan cat semprot, gambar yang kebanyakan adalah font dan memainkan garis dan graphic warna.

“Mural itu menggunakan kuas, menggunakan cat,kapur,arang danlainnya. Gambar bebas yang dihasilkan mempunyai makna, kritikan,’’ ujarnya.

Disampaikannya, dengan berdiri di dunia mural ini, di situlah dirinya melihat perkembangan Kota Pekanbaru, pola pikir kian maju. ‘’Dulu kita gambar di jalanan itu banyak cacian makian. Sekarang coba kita lihat di mana-mana ada mural, ada graffiti. Alhamdulillah yang dulu bisa disebut berdarah-darah. Mural sekarang sangat diterima dan dicari masyarakat. Baik itu pribadi, perusahaan maupun pemerintahan. Sekarang juga sudah ‘meracuni’ seni mural ini ke kabupaten/kota yang ada di Riau,’’ jelasnya.

Baca Juga: Ikhtiar dari Limbah POME

Sebagai muralis, Nindo mengatakan, mural tak ubahnya interior karena banyak yang melihat mural ini sebagai pengganti lukisan atau wallpaper. Banyak kebutuhannya di interior namun eksterior juga. Saat ini juga disampaikan Nindo, proyek yang berkesan itu waktu mengerjakan Bandara Sultan Syarif Kasim, terowongan pejalan kaki Mal SKA – Livingworld dan rest area Tol Pekanbaru-Bangkinang, pekerjaan di akhir tahun 2023 ini.

Dulu itu, dikatakannya, dia punya komunitas Graffiti. Namanya Loserkids dan sampai sekarang komunitas mural itu tidak ada di Pekanbaru.

‘’Tapi komunitas gambar banyak. 2015 aku sempat mendirikan komunitas gambar namanya Peviart (Pekanbaru Visual Art) kerja sama dengan PT Sampoerna Wilayah Riau. Cukup dikenal di Sumbar, Kepri dan Medan di zaman itu karena setiap event sampoerna selalu mengisi slot sebagai tenant, peserta, ataupun talent,’’ ungkapnya.

Memang untuk menjadi muralis ini, tidak semudah yang dibayangkan. Perlu ada hobi pendukung dan benar-benar harus kreatif dengan selalu memiliki ide. Bagi Nindo sendiri, menjadi seorang muralis berawal dari hobi, dan sekarang menjadi kebanggaan.

Baca Juga: Sisir Nelayan Tradisional di Perbatasan NKRI-Malaysia

‘’Sepertinya bangga menjadikannya profesi. Aku pendidikan dasar kan seorang sarjana Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota. Jika berkenalan dengan orang baru selalu menyebutkan diriku ini muralis bukan seorang konsultan perencaaan kota,’’ ungkap muralis yang sudah banyak mendapat penghargaan ini.

Saat ditanya apakah semua tempat/ruangan bisa dimural kan, kata Nindo semua tempat bisa dimuralkan, tergantung si pemural ini bisa mengkonsep ruangan itu seperti apa. Karena banyak filosofi yang harus diketahui untuk membuat konsep mural. Sejak meneguhkan profesi sebagai muralis ini, Nindo mengaku dirinya banyak dikenal orang. Hasil karyanya sudah menyebar di ibukota Negara Indonesia, Jakarta, Kepri, Sumbar, kabupaten/kota di Riau dan terbanyak di Pekanbaru.***

Editor : RP Arif Oktafian
#dinding #mural #seni #gambar