Memasuki hari kelima, pascajatuhnya penumpang Feri MV CAS rute Muar, Malaysia menuju Bengkalis, petugas Basarnas gabungan masih berjibaku melakukan pencarian di perairan Selat Melaka, Kamis (27/6).
Laporan ABU KASIM, Bengkalis
SIANG itu cuaca di perairan Selat Melaka sangat bersahabat. Namun terik matahari yang sangat menyengat dikulit tak membuat tim SAR gabungan yang terdiri dari Satpolairud Polres Bengkalis, Basarnas, Dit Polairud Polda Riau, TNI Angkatan Laut dan BPBDN menghentikan pencarian penumpang MV CAS Juli Afriko (29) warga Desa Teluk Papal, Bengkalis yang terjatuh.
Selama proses pencarian, tim SAR gabungan mendapatkan informasi yang simpang siur di lapangan. Namun karena petugas masih berada di perairan Selat Melaka, maka informasi itu terbantahkan bahwa korban memang belum ditemukan.
“Kami masih melakukan pencarian di tengah laut di perairan Selat Melaka. Bahkan kami memperluas lokasi pencarian menjadi 316 NM persegi,” ujar Nakhoda RB 218 Pekanbaru Kapten Leni Tadika yang dikonfirnasi melalui pesan singkat WhatsApp, Kamis (27/6).
Ia mengaku, sampai saat ini kondisi cuaca di perairan Selat Melaka sangat cerah dan gelombang juga tidak terlalu tinggi, makanya lokasi pencarian korban diperluas. Ini agar korban segera ditemukan.
“Kami hanya melakukan pencarian pada siang hari saja, karena kalau malam hari sangat berisiko. Makanya setelah melakukan patroli pencarian mulai dari pagi sampai sore langsung kembali ke posko di Pelabuhan Internasional Selatbaru,” ujarnya.
Di sisi lain, cerita memilukan yang dialami penumpang Feri MV CAS. Bahkan salah seorang saksi Syaiful Izan, penumpang kapal yang melihat langsung korban yang terpental ke laut.
“Awalnya saya kira sampah yang jatuh dari atas dek kapal. Namun setelah beberapa menit terlihat kepalanya dan saya langsung masuk ke kapal memberitahu kepada petugas ABK,” ucap Syaiful Izan usai memberikan keterangan di ruang penyidik Satpolairud Polres Bengkalis.
Ia mengaku, awalnya sempat melihat korban yang duduk satu kursi dengannya di bagian belakang ruang penumpang, yang waktu itu bersebelahan dan dibatasi tas korban.
Dari awal perjalanan kapal dari Pelabuhan Muar, Malaysia petugas kapal juga sudah mengumumkan agar seluruh penumpang dilarang keluar atau duduk di dek bagian atas kapal. Bahkan saat sudah memasuki perairan Selat Melaka, tepatnya sudah masuk ke perairan Indonesia petugas juga kembali mengumumkan agar penumpang tidak keluar dari dalam kapal.
“Namun mungkin karena jenuh di ruang ber AC dan ingin bersantai sambil merokok, akhirnya saya juga keluar dibagian belakang kapal, tapi tidak naik ke atas dek kapal,” ucapnya.
Selang beberapa menit menikmati sebatang rokok, korban sempat menaiki tangga ke arah dek atas kapal. Pada saat itu dirinya tidak menaruh curiga, karena korban ke atas dek.
“Brak...ada bunyi seperti ada barang atau kotak yang terjatuh ke laut dan saya awalnya tak peduli. Tapi beberapa detik terlihat kepala dan menjerit mintak tolong. Tolong...tolong. Mendengar itu saya langsung masuk ke dalam kapal memberitahukan kepada ABK agar menyelamatkan korban,” ucapnya.
Setelah itu, barulah kapal putar balik untuk menyelamatkan korban. Di mana pada saat itu, ABK MV CAS sempat melemparkan pelampung penyelamat. Namun karena kondisi gelombang cukup kuat, dan kapal tak berani mendekati korban.
“Saya lihat sempat dilemparkan pelampung penyelamat. Tapi tak berhasil diselamatkan. Karena nakhoda kapal khawatir kalau terlalu dekat akan membuat korban masuk ke bagian kipas kapal,” ujarnya.
Sedangkan penumpang yang lain bernama Toha, warga Bantan Rawang Desa Teluk Papal yang awalnya sempat duduk bersebelahan dengan korban juga mengaku kecewa dengan petugas ABK serta nakhoda kapal. Karena petugas ABK hanya melempar pelampung penyelamat.
“Saya rasa kalau ada satu orang ABK terjun ke laut dengan badannya diikat tali untuk penyelamatan maka saya yakin korban bisa selamat. Namun korban hanya terombang-ambing di tengah gelombang laut yang kuat,” ucap Toha.
Sedangkan Abu Samah, salah seorang tokoh masyarakat Desa Teluk Papal yang juga mengenal korban, karena rumah korban juga tak jauh dari tempat tinggalnya, meminta pihak kapal bertanggung jawab dengan musibah yang menimpa warganya tersebut.
“Kami mengharapkan ada perhatian dari pihak kapal untuk memberikan informasi maupun bantuan kepada keluarganya, sehingga disaat petugas sedang melakukan pencarian dan pada waktu bersamaan pihak kapal juga menjumpai pihak keluarganya,” harap Abu Samah.
Terhadap proses penyelidikan kasus terjatuhnya penumpang Feri MV CAS, Kasat Polair Polres Bengkalis AKP Ronni TM Sitinjak SE yang dikonfirmasi melalui telepon genggamnya mengaku masih berada di tengah laut untuk mencari korban.
“Saya masih di tengah laut bersama tim SAR gabungan. Jadi kalau mau jelas silahkan ke kantor saja,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Penjabat sementara (PS) Kasubnit Tindak Satpolairud, Bripka Ricon Silalahi yang dijumpai di ruang kerjanya menyebutkan, sampai saat ini sudah ada sembilan saksi yang dimintai keterangan, yakni satu penumpang dan delapan adalah nakhoda serta krunya.
“Sudah sembilan orang yang kita mintai keterangannya. Namun sampai saat ini kami belum bisa menyimpulkan penyebab sebenarnya kecelakaan tersebut,” ujarnya.
Dijelaskannya, dari keterangan Kapten Kapal MV CAS Efendi menyebutkan, setelah mendapatkan laporan dari ABK, pihaknya langsung putar haluan untuk menyelamatkan korban.
“Namun karena gelombang besar serta tiupan angin kencang membuat penyelamatan gagal. Karena kru kapal sudah melemparkan pelampung penyelamat, namun karena gelombang besar, jadi kapal tak berani mendekat ke arah lorban. Karena dikhawatirkan masuk ke bagian kipas kapal dan akhirnya korban menghilang di dalam air laut,” ucap Ricon menceritakan hasil keterangan dari makhoda kapal.(***)
Editor : RP Arif Oktafian