Sejumlah permainan rakyat yang sudah menjadi tradisi seperti gasing dan jong serta layang-layang, belakangan mulai untuk ditinggalkan. Sementara, upaya nyata terus diperbuat guna memasyarakatkan sejumlah permainan rakyat ini.
Laporan SYAHRI RAMLAN, Bagansiapiapi.
PAGIi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, digelar festival permainan rakyat berupa gasing dan jong yang dipusatkan di Pantai Pak Mo atau dikenal dengan sebutan Seno yang berada di Jalan Mattaim, Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai. Suasana di pinggiran pantai ini terlihat ramai dikunjungi warga maupun pengunjung yang datang dari daerah-daerah lain.
Sedikitnya, ada 10 tim untuk mengikuti permainan gasing tersebut. Dan 78 orang untuk mengikuti lomba jong. Permainan layangan maupun gasing serta jong atau kapal layar mini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat pesisir. Di mana, layangan, gasing dan jong merupakan permainan tradisional masyarakat pesisir.
Amran (65) warga Teluk Makmur menjelaskan, festival yang dilaksanakan ini diharapkan dapat kembali mengenalkan permainan rakyat kepada generasi muda. Sehingga permainan masyarakat pesisir ini tetap eksis di tengah-tengah kemajuan zaman dan teknologi yang dirasakan cukup memberikan tantangan tersendiri.
‘’Dengan adanya festival ini, setidak masih ada beberapa orang yang tetap ingin melestarikan permainan tradisional ini, kata Amran.
Festival permainan rakyat berupa gasing dan jong yang dilaksanakan di pinggiran pantai Pak Mo Teluk Makmur ini dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dumai, khususnya di bidang kebudayaan. Sedangkan festival layang-layang, direncanakan dilaksanakan di Pantai Wisata Purnama pada akhir bulan Agustus ini.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemko Dumai, Syahrinaldi ketika membuka festival gasing dan jong di pantai Pak Mo Teluk Makmur menjelaskan, permainan unik yang harus dikembangkan dan dilestarikan sehingga tidak hilang ditelan oleh zaman. Selain permainan dapat dilestarikan, perlombaan ini dapat menarik pengunjung untuk datang ke Dumai.
‘’Permainan rakyat ini terus dilestarikan. Kegiatannya harus dilanjutkan secara kontinyu sehingga setiap tahunnya banyak peserta maupun pengunjung yang datang ke Dumai,’’ kata Syahrinaldi.(lim)
Editor : Rindra Yasin