Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Perlindungan untuk Ksatria Biru, “Avatar” Pengendali Api

M Amin • Kamis, 14 November 2024 | 23:43 WIB
Personel rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan DPKP Kota Pekanbaru, Firman Setiawan bersikap siaga di depan mobil rescue, Senin (11/11/2024).
Personel rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan DPKP Kota Pekanbaru, Firman Setiawan bersikap siaga di depan mobil rescue, Senin (11/11/2024).

Para ksatria biru, sebutan untuk pemadam kebakaran, tak hanya mampu mengendalikan api dan air. Mereka juga terlatih dan mampu menjinakkan hewan liar seperti ular, biawak, lebah, atau tawon. Bisa juga diandalkan untuk mengatasi anak yang terjebak atau cincin yang tak bisa dikeluarkan dari jari. Kemampuan mereka bak kisah Avatar, sang pengendali empat elemen. Tapi dalam pertarungan melawan api atau hewan liar, tak sedikit yang terluka, bahkan gugur di medan juang. Mereka perlu perlindungan, termasuk dari BPJS Ketenagakerjaan. Bagaimana kisah mereka?

Laporan MUHAMMAD AMIN, Pekanbaru

BEBERAPA petugas piket para ksatria biru terlihat bercengkerama di lantai dasar markas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru, Senin (11/11) pagi jelang siang. Tawa dan canda mereka terdengar renyah. Mereka harus melepas ketegangan di sela-sela panggilan tugas yang tak kenal waktu. Kendati dalam keadaan santai, mereka tetap bersiaga. Sebab, laporan kebakaran atau kejadian yang perlu penyelamatan (rescue) bisa terjadi kapan saja. Semuanya dengan risiko mempertaruhkan keselamatan, bahkan nyawa.

Dua orang di antaranya bahkan baru saja terkena musibah saat bertugas. Satu saat penyelamatan (rescue), satu lagi saat pemadaman api. Luka mereka berdua masih membekas.

“Kejadiannya sekitar sebulan lalu,” ujar anggota rescue DPKP Kota Pekanbaru Firman Setiawan.

Sosok pria muda yang tinggi tegap ini memang diandalkan dalam penyelamatan. Tapi musibah dan nahas tak memiliki kalender. Saat berusaha mengevakuasi kawanan tawon vespa (affinis) di kawasan Rumbai, galah besi yang digunakan Firman jatuh dan menimpa keningnya. Keningnya pun harus dijahit dan bekasnya masih tampak jelas hingga saat ini. Saat itu, Firman sempat diserang kawanan tawon vespa sehingga galah besi yang digunakannya itu jatuh dan menimpanya.

Musibah lebih berat menimpa petugas piket lainnya, Habib Gautama. Habib tertusuk paku saat melakukan pemadaman api di Jalan Mutiara RT 3/RW 8, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Senapelan pada 5 November 2024 lalu. Dia terperosok di antara reruntuhan rumah kayu berpanggung yang terbakar. Kakinya tertembus paku ukuran 3,5 inci, masuk sekitar 1 inci di telapaknya. Kendati memakai alat pelindung diri (APD) lengkap, tapi paku tajam berkarat itu tetap tembus ke savety boot yang dipakai Habib. Ketebalan sepatu boot khusus damkar 1 cm ternyata tak cukup untuk melindunginya di hari nahas itu.

“Masih terasa sakit saat pakai sepatu,” ujar Habib soal lukanya.

Personel fire fighter DPKP Kota Pekanbaru, Habib Gautama terbaring dalam perawatan usai tertusuk paku saat melakukan pemadaman kebakaran, Selasa (5/11/2024).
Personel fire fighter DPKP Kota Pekanbaru, Habib Gautama terbaring dalam perawatan usai tertusuk paku saat melakukan pemadaman kebakaran, Selasa (5/11/2024).

Habib memang sudah masuk kantor dan piket dalam beberapa hari belakangan usai musibah yang dialaminya sepekan lalu. Dia masih makan obat dan rawat jalan. Saat ada kejadian, termasuk dua kebakaran hotel dalam sepekan ini di Pekanbaru, Habib belum turun ke lapangan. Saat ini, dia bahkan hanya mengenakan sandal ke kantor, dan hanya menyaksikan rekan-rekannya bergerak untuk berjibaku melawan api ketika alarm peringatan kebakaran berbunyi.

Tragedi Mortir dan “Bola Api”

Lebih dari sekadar luka, kematian juga menimpa para ksatria biru saat berjibaku melawan api. Musibah ini menimpa Ryan Mortir, seorang petugas penyelamatan (rescue) DPKP Pekanbaru pada 21 November 2022 silam. Mortir menjadi martir di hari tugasnya. Mortir terjatuh ketika berusaha naik ke atap untuk membuka jalan bagi penyiraman air.

“Nyawanya tak tertolong saat kami temukan. Masih bersuara ketika itu, tapi dinyatakan meninggal saat di rumah sakit,” ujar Wakil Komandan Peleton (Wadanton) Rescue DPKP Kota Pekanbaru Rachmat, Selasa (12/11).

Dihubungi terpisah karena sedang tidak piket, Rachmat yang menyaksikan langsung kejadian dua tahun lalu itu masih ingat persis peristiwa mencekam tersebut. Tim rescue yang dipimpinnya saat itu sebenarnya sedang bertugas mengevakuasi biawak besar di Jalan Mutiara. Usai menyelesaikan tugas itu, mereka mendapatkan panggilan informasi kebakaran di Jalan Lili, yang berdekatan dengan lokasi rescue. Mobil rescue pun diarahkan ke lokasi yang terbakar.

Kendati tidak memiliki air, tapi mobil rescue dilengkapi peralatan untuk membuka jalan dan rumah yang terkunci. Paket pemadaman memang selalu diikuti beberapa mobil pemadaman dan sekurangnya satu mobil rescue. Tim rescue bertugas membuka jalan, mengamankan lokasi dan termasuk membongkar pintu rumah, bahkan atap rumah yang terbakar.

Saat tim rescue ini sudah sampai ke lokasi, tim damkar yang membawa air belum datang. Ketika itu, tim rescue yang dipimpin Rachmat berusaha mengidentifikasi situasi. Mereka melihat api yang membakar penyimpanan tiner itu sudah mulai pindah ke rumah lainnya. Mereka kemudian berusaha masuk ke rumah yang di dalamnya sudah penuh api agar pemadaman mudah dilakukan dan api tidak menyebar ke rumah lain di sekitarnya.

“Ternyata rumah ini memiliki gembok hingga tiga lapis. Satu gembok pagar hingga ke atap, lalu ada dua gembok pintu. Jadi cukup susah,” ujar Rachmat.

Disebabkan lewat pintu tidak bisa cepat, maka mereka berusaha membuka ruang untuk pemadaman dari atap. Tiga satria biru naik ke atap. Dari tiga anggota, nasib nahas menimpa Ryan Mortir. Atap asbes yang rapuh saat dipijaknya pecah dan dia jatuh ke tengah kobaran api. Saat itu, ada tiga handy talky (HT) yang digunakan tim rescue. Satu dipegang Rachmat selaku pimpinan rescue di lapangan, satu dipegang Ryan Mortir, dan satu anggota lainnya.

“Saat saya panggil Ryan, dia tidak menjawab. Lalu ada jawaban dari anggota lainnya, Ryan terjatuh dari atap,” ujar Rachmat mengenang.

Anggota tim rescue lainnya yang kemudian berhasil membongkar tiga lapis pintu menemukan Ryan Mortir dalam kondisi kritis. Lehernya terluka parah karena tersangkut kayu kuda-kuda atap. Saat ditemukan, menurut Rachmat, Ryan Mortir masih bersuara. Tapi pelan-pelan suaranya meredup, dan rekan-rekan yang mengevakuasinya ke Rumah Sakit Ibnu Sina harus menahan pilu karena Ryan Mortir tak tertolong.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Seksi (Kasi) Evakuasi, Penyelamatan dan Perlindungan/Rescue DPKP Kota Pekanbaru, Hendro Putra Gautama menambahkan, tugas tim rescue yang dilakukan Ryan Mortir memang penuh risiko. Sebab, tim ini harus lebih dahulu membuka ruang untuk penyelamatan korban, jika ada yang terjebak di lokasi kebakaran. Selain itu, api yang terjebak dalam ruangan tertutup hampa udara akan sangat berbahaya.

“Bisa menjadi bola api yang menyambar. Saya pernah mengalaminya beberapa kali. Masih beruntung tidak apa-apa,” ujar Hendro.

Api yang terkurung di ruang tertutup, ujar Hendro, makin lama akan makin memiliki potensi berkembang besar untuk mencari udara. Jika ruang kosong tertutup itu dibuka mendadak secara cepat, maka apinya akan langsung terlontar bak bola api. Hendro mengalami lontaran bola api ini beberapa kali, namun masih selamat karena hanya menyambar pakaian antiapi isolasi thermal berbahan aramid yang dipakainya. Tugas tim rescue adalah membuka ruang ini. Risikonya memang tinggi. Tapi untuk meminimalisir risiko, biasanya membuka ruang dilakukan tidak sekonyong-konyong yang bisa membuat lontaran bola api.

“Kami usahakan keluarkan udara dulu dari lubang kecil. Cuma kalau ada korban di dalam, tentunya pintu harus didobrak dan risiko ada lontaran bola api harus kami hadapi,” ujar Hendro.

Terdapat beberapa peristiwa yang hampir saja mengancam nyawa para satria biru ini yang masih diingat Hendro. Misalnya kebakaran rumah akibat meledaknya gas di Jalan Cenderawasih, Tangkerang, yang di dalamnya ada seorang nenek. Atau kebakaran di tempat hiburan Sahabat di Jalan Sudirman ujung. Pada dua momen itu, bola api meluncur ke arahnya begitu pintu dibuka.

“Kami harus membuka pintu karena memang masih ada orang di dalam. Tapi ketika di Sahabat itu, korban tidak tertolong. Tidak sempat. Bola apinya saja menyambar demikian besar ke arah kami yang di luar. Tentu di dalam lebih gawat,” ujar Hendro.

Risiko itu diakui Hendro harus mereka ambil karena sudah merupakan panggilan tugas. Tak peduli keselamatan dan nyawa terancam.

“Kami memiliki semboyan, ‘pantang pulang sebelum padam, walau nyawa taruhannya’,” tukas Hendro.

Foto petugas rescue DPKP Ryan Mortir, yang gugur dalam tugas pemadaman api pada 21 November 2022 lalu.
Foto petugas rescue DPKP Ryan Mortir, yang gugur dalam tugas pemadaman api pada 21 November 2022 lalu.

Pengendali Api, Air, Ular, hingga Tawon

Tim rescue DPKP memang memiliki kemampuan lebih. Tak hanya beraksi saat terjadi kebakaran, tim rescue yang terdiri dari enam orang per regu juga dibekali kemampuan penyelamatan bukan api. Hendro sendiri lebih lama bertugas sebagai fire fighter atau tim pemadaman. Dia baru diangkat sebagai Pelaksana Harian Kasi Evakuasi Penyelamatan dan Perlindungan/Rescue dalam beberapa bulan ini. Pengalamannya sebagai fire fighter sudah 23 tahun sejak 2001, sehingga banyak kejadian pahit yang sudah dialaminya.

“Dulu satu tim saja. Sekarang diatur ada juga untuk rescue,” ujar Hendro.

Tugas rescue ini beragam, mulai dari membantu tim fire fighter saat kebakaran, hingga evakuasi yang bukan kebakaran. Tidak semua tugas rescue bisa dikerjakan fire fighter. Tapi sebaliknya, semua tugas fire fighter harus dapat dilakukan tim rescue, termasuk pemadaman api.

Dalam hal ini, tim fire fighter hanya menguasai teknik memadamkan api. Mereka harus paham sifat dan karakteristik api dan air atau bahan lain yang memadamkannya. Soal air, misalnya, tekanan air harus dipahami saat melakukan penyemprotan. Tekanan pada nozzle pemadam kebakaran standar berada pada 7 bar dan itu terhitung sangat besar. Perlu dua orang dewasa untuk mengoperasikannya. Jika salah antisipasi, maka nozzle dan selang pemadam kebakaran itu dapat liar dan menghantam siapa saja di dekatnya.

Mereka juga harus paham fisika dasar, termasuk arah angin dan udara. Sebab, arah angin menentukan arah pemadaman. Begitu juga ruang tertutup hampa udara berbeda penanganannya dengan ruang terbuka. Pemahaman dan kemampuan mereka harus mumpuni soal api, air, dan udara. Soal kemampuan mereka yang seperti kisah Avatar, penguasa empat elemen, api, air, udara, dan tanah, Hendro tersenyum lebar.

“Jangan lupa, tim rescue juga harus menguasai teknik menjinakkan hewan liar,” ujar Hendro.

Tugas mereka termasuk mengevakuasi ular yang masuk ke rumah atau lingkungan warga, evakuasi tawon vespa yang terkenal ganas bahkan bisa menyebabkan kematian, evakuasi lebah, juga biawak. Mereka juga bisa diminta menyelamatkan anak yang terkurung di kamar, terjepit di dalam ban, di mesin cuci, hingga membuka cincin di jari yang tak bisa dilepas. Bahkan juga membuka borgol atau kunci yang tidak disengaja.

“Semua itu ada latihannya dan sudah kami terapkan dalam beberapa tahun belakangan,” ujarnya.

Pelatihan menaklukkan hewan liar ini dilakukan di Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Sejumlah pakar reptil dan penakluk ular seperti Panji “Petualang“ jadi referensi mereka. Tidak semua anggota rescue ikut dalam pelatihan ini, melainkan hanya para “pentolan” saja seperti kabid, kasi, dan danton atau wadanton. Mereka melatih ulang para petugas rescue di daerah dan mewariskan keterampilan menaklukkan ular atau hewan liar lainnya.

Di Pekanbaru, beberapa kasus ular masuk rumah terjadi. Ada ular jenis piton, pernah juga kobra. Kejadian di Pekanbaru cukup sering. Pernah juga kobra masuk ke kawasan perumahan dalam jumlah besar akibat habitatnya terganggu. Misalnya pada September 2023, warga Perumahan Citraland di Jalan Soekarno-Hatta melaporkan puluhan ular kobra yang masuk kawasan perumahan itu. Ular itu sudah masuk ke dalam rumah, mulai bertengger di atap kanopi, hingga kamar mandi warga. Yang paling dikhawatirkan dan membuat heboh ketika itu, posisi kobra ditemukan tak jauh dari waterpark, tempat banyak anak-anak mandi dan bermain air. Bahkan sempat ada korban yang dipatuk kobra, kendati nyawanya masih tertolong. Tim rescue DPKP pun berhasil menjinakkan dan mengevakuasi puluhan kobra itu.

Pada Mei 2024, dua kejadian kobra masuk rumah terjadi. Kobra sepanjang 1,5 meter ditemukan di dalam bak kamar mandi rumah warga di Jalan Hangtuah, Kecamatan Sail pada 2 Mei 2024. Kemungkinan, kobra ini masuk lewat pipa saluran air. Masih di bulan Mei, kobra sepanjang 1 meter ditemukan warga bernama Alfi di rumahnya di Jalan Purwodadi. Kobra ini juga berhasil dievakuasi tim rescue DPKP.

“Kalau kobra ini harus danton, wadanton atau danru yang turun langsung menangkap karena mereka yang berlatih langsung. Sebab, ini berbahaya. Bisa kobra dapat menyebabkan kematian,” ujar Hendro.

Tim rescue memang dilengkapi peralatan penanganan hewan ini, termasuk besi bercapit yang memudahkan untuk menangkap ular. Hewan liar ini biasanya diserahkan ke BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Riau untuk dievakuasi lagi ke habitat lainnya yang jauh dari manusia.

Selain kobra, pernah juga piton yang masuk ke rumah warga. Tak jarang ukurannya sudah sangat besar. Kejadian terbaru adalah masuknya piton sepanjang empat meter ke rumah Edi Saputro di Jalan Sentosa, Perum Alifa Blok I Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani. Piton ini masuk ke rumah Edi pada Senin 11 November 2024. Piton kemudian bergerak ke selokan di depan rumah yang bersangkutan dan berhasil ditangkap, lalu dievakuasi.

“Kalau piton, bisa anggota rescue yang menangani bersama-sama. Tentu dengan pengawasan dari danru atau wadanton,” ujar Hendro.

Selain menangani ular, anggota rescue juga banyak mendapatkan laporan soal potensi bahaya dari hewan liar lainnya. Laporan tawon vespa yang bersarang di rumah warga juga cukup banyak. Tawon vespa terbilang ganas dan perlu penanganan hati-hati. Serangan tawon jenis ini bisa menyebabkan kematian. Tak jarang ada korban, salah satunya menimpa anggota rescue DPKP, Firman Setiawan. Laporan lebah dan biawak masuk rumah juga sangat sering ditangani tim rescue. Korban gugur anggota rescue dua tahun lalu, Ryan Mortir, terjadi setelah dia bersama timnya melakukan evakuasi biawak.

Selain itu, ada juga laporan kejadian lainnya yang masih jadi lingkup kerja tim rescue DPKP. Ada yang anaknya terkurung di kamar, kamar mandi, atau mobil. Ada anak yang terjepit di tembok, mesin cuci, atau ruang sempit. Ada juga kejadian orang terborgol tidak sengaja. Pernah juga ada warga yang tak bisa melepaskan cincin. Ada  juga kejadian saat tim rescue mengevakuasi ternak yang masuk ke sumur atau lubang yang dalam.

“Tim rescue punya alatnya dan kami siap membantu,” ujarnya.

Petugas rescue DPKP Pekanbaru melakukan evakuasi terhadap seekor piton yang masuk ke rumah warga, Senin (11/11/2024).
Petugas rescue DPKP Pekanbaru melakukan evakuasi terhadap seekor piton yang masuk ke rumah warga, Senin (11/11/2024).

Dinamika THL Damkar

Kendati bekerja maksimal, penuh risiko, bahkan bertaruh nyawa, apresiasi yang diterima personel DPKP sering kali bertolak belakang dari ekspektasi. Baik penghasilan mereka atau tanggapan masyarakat di lapangan, kerap kali tidak sesuai harapan.

Sering kali mereka mendapatkan perlakuan buruk karena dianggap terlambat datang atau tidak bisa menyelamatkan korban kebakaran. Perlakuan buruk itu tak hanya dengan kata-kata, tak jarang dengan tangan. Di tengah kobaran api, kerap kali emosi warga yang jadi korban kebakaran juga turut tersulut, meledak, dan berkobar-kobar. Amarah itu sering dialamatkan kepada petugas damkar di lapangan.

Di sisi lain, mereka juga kurang mendapatkan apresiasi soal pendapatan. Seorang petugas damkar yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan, penghasilan bulanan mereka lebih rendah dari buruh, pekerja bangunan, bahkan di bawah upah minimum regional (UMR). UMR Provinsi Riau 2024 sejumlah Rp3.294.625. Sementara upah minimum kota (UMK) Pekanbaru 2024 lebih tinggi, yakni Rp3.451.584. Honor mereka di bawah itu.

“Untung saja kalau ada kejadian masih dicover BPJS Ketenagakerjaan. Bisa agak lega juga,” ujar petugas itu.

Semua petugas damkar, baik di bidang rescue maupun fire fighter adalah tenaga harian lepas (THL). Mereka diberi honorarium sesuai dengan kemampuan Pemko Pekanbaru. Tim yang turun ke lapangan pada DPKP Kota Pekanbaru memang dibagi dua seksi, yakni tim penyelamatan (rescue) dan tim pemadaman (fire fighter). Keduanya di bawah seorang kabid, yakni Kabid Pengendalian Operasi Pemadaman dan Penyelamatan. Masing-masing memiliki pimpinan setingkat kepala seksi (kasi), yakni kasi pemadaman dan investigasi serta kasi evakuasi, penyelamatan, dan perlindungan/rescue. Di bawahnya ada danton/wadanton, lalu danru (komandan regu). Satu mobil pemadam kebakaran (PMK) yang dipimpin danru biasanya beranggotakan enam orang. Personelnya, selain danru meliputi satu supir dan empat juru padam pada mobil fire fighter dan empat juru penyelamatan pada mobil rescue. Saat ini, DPKP Kota Pekanbaru memiliki tiga peleton, yakni Peleton Yudha, Peleton Brama, dan Peleton Jaya. DPKP Kota Pekanbaru memiliki 24 mobil pemadam kebakaran (PMK) yang tersebar di markas utama di Jalan Cempaka dan sembilan pos. Sembilan pos itu tersebar di Pos Jalan Kopan, Pos Kantor Camat Bukit Raya, Pos Kantor Camat Tenayan Raya dan Perkantoran Pemko, Pos Jalan Handayani, Pos Simpang Baru-Tampan, Pos Palas, Pos Rumbai, dan Pos AKAP.

“Tujuan penyebaran pos ini adalah agar kami bisa bergerak cepat. Jadi kami jamin, 15 menit setelah ada laporan terkonfirmasi, maka kami tiba di lokasi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru, Lili Suryani.

Dipaparkan Lili, para personel DPKP Pekanbaru berjumlah total 288 orang yang semuanya THL. Mereka terdiri dari 237 personel pemadaman (fire fighter) dan 40 personel penyelamatan (rescue). Sisanya, tujuh orang cleaning service (CS), tiga orang mekanik, dan satu orang petugas IT (information technology).

“Semuanya THL. Hanya danton ke atas yang PNS. Sedangkan wadanton itu PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja),” ujar Lili.

Lili menyebutkan, tugas DPKP berbagi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Satpol PP. DPKP menangani kebakaran dan penyelamatan, BPBD khusus kebencanaan dan Satpol PP penertiban. Kerap kali ketiganya turun ke lapangan atas suatu kejadian.

“Misalnya ada bencana yang sifatnya insidentil, yakni pohon tumbang, maka itu wewenang BPBD. Kami mem-back up karena kemungkinan ada rescue yang jadi tugas kami,” ujar Lili, yang juga masih menjabat Sekretaris DPKP Pekanbaru.

Sebelumnya, tugas dan fungsi (tusi) kedua lembaga ini hampir sama. Pada 2017, barulah dipisahkan antara DPKP dan BPBD. Jika ada kebakaran hutan atau lahan (karhutla), yang sifatnya bencana, maka jadi tugas BPBD. Sedangkan jika rumah atau bangunan yang terbakar, maka jadi tugas DPKP. Momen 2017 itu juga menjadikan bidang DPKP meluas, termasuk mengurus penyelamatan (rescue).

Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Risiko tinggi memang dihadapi personel pemadam kebakaran (damkar) di lapangan. Dan anggota fire fighter atau rescue bukanlah superhero yang tahan api atau selalu lolos dari insiden. Saat hari buruk itu tiba, maka mereka bisa celaka.

“Untungnya personel kami sudah dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Lili.

Dengan adanya perlindungan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, pihaknya bisa sedikit lega. Sudah ada beberapa manfaat yang didapatkan personelnya di lapangan. Musibah terbesar pernah terjadi pada Ryan Mortir yang gugur saat tugas. Gugurnya Ryan menjadi kehilangan besar bagi seluruh insan ksatria biru di Pekanbaru, bahkan di Indonesia.

“Ada penghormatan khusus dari seluruh personel ksatria biru di Indonesia. Ada upacara khusus mengenang mendiang Ryan Mortir,” ujar Lili.

Dari BPJS Ketenagakerjaan, keluarga Ryan Mortir juga mendapatkan santunan sebesar Rp100 juta, bahkan lebih. Selain itu, ada juga bantuan-bantuan lainnya kepada keluarga. Personel lain yang mendapat bantuan terbaru adalah Habib Gautama yang terkena paku pada telapak kakinya dan Firman Setiawan yang juga mengalami kecelakaan kerja dengan luka di keningnya.

“Mereka berdua diobati dengan biaya dari BPJS Ketenagakerjaan hingga sembuh,” ujar Lili.

Selain itu, ada juga dua personel DPKP yang meninggal karena sakit jantung dan darah tinggi yang mendapatkan manfaat dari program BPJS Ketenagakerjaan. Keduanya adalah Eko Margono dan Maulana Ali. Sakit hingga wafatnya kedua mendiang ini disinyalir akibat akumulasi dari pekerjaan, sehingga mereka dinilai bisa mendapatkan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan.

“Keduanya memiliki anak dan anak-anak mereka ini ditanggung biaya pendidikannya sampai usia kuliah,” ujar Lili yang pernah juga menjadi Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru ini.

Dengan sederet pengetahuan dan pengalamannya selama di Disnaker, dia bisa dengan cepat menyelesaikan masalah jaminan sosial ketenagakerjaan ini. Tak hanya untuk personel yang menyangkut kesehatan mereka, tapi juga untuk ahli waris ketika yang bersangkutan gugur di medan tugas, bahkan saat meninggal bukan di saat bertugas. Sebab, tanggungan BPJS Ketenagakerjaan juga pernah diterima manfaatnya oleh personel yang mengalami kecelakaan lalu lintas saat berangkat kerja. THL ini masih dalam perjalanan ke tempat kerjanya, namun juga bisa ditanggung biaya perawatannya hingga sembuh.

Dengan adanya kerja sama BPJS Ketenagakerjaan ini, Lili berharap anggotanya lebih tenang dalam bekerja. Apalagi, semua iurannya ditanggung Pemko Pekanbaru. Personel tinggal menjalankan tugas dan otomatis tercover jaminan sosialnya.

“Jaminan BPJS Ketenagakerjaan ini kami harapkan bisa menjadi setawar sedingin bagi personel kami,” ujar Lili.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbarriau Kepri,  Eko Yuyulianda mengatakan, terdaftarnya pekerja petugas damkar ke dalam  program BPJS Ketenagakerjaan menjadi sebuah keharusan. Sebab, kemungkinan terjadinya risiko pekerjaan yang dapat menimpa para petugas tersebut dalam melaksanakan tugasnya sangat besar.

“Risiko tersebut bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga dengan adanya perlindungan dari jaminan sosial ketenagakerjaan, para petugas damkar tersebut dapat bekerja tanpa rasa cemas, karena segala risiko tersebut telah dialihkan dan menjadi tanggung jawab BPJS Ketenagakerjaan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini jumlah petugas pemadam kebakaran di Pekanbaru yang telah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan mencapai 287 peserta. Adapun perlindungan yang diberikan kepada para petugas damkar yaitu jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM). Dengan begitu, jika petugas damkar  mengalami risiko saat menjalankan aktivitas pekerjaannya, maka seluruh biaya pengobatan dan perawatan medis akan ditanggung oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan sampai dinyatakan sembuh. Apabila dalam masa pengobatan, peserta tidak bisa bekerja untuk sementara waktu, maka BPJS Ketenagakerjaan akan memberikan santunan sementara tidak mampu bekerja (STMB). Alokasinya sebesar 100 persen upah yang dilaporkan selama 12 bulan pertama dan 50 persen untuk bulan selanjutnya, yang dibayarkan hingga sembuh.

Selain manfaat tersebut, jika peserta  meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja, maka akan diberikan santunan sebesar Rp42 juta kepada ahli waris. Apabila meninggal dunia karena kecelakaan kerja atau gugur dalam bertugas, maka ahli waris berhak mendapatkan santunan JKK sebesar 48 kali upah terakhir yang dilaporkan. Selain itu, dua orang anak dari peserta itu juga akan mendapatkan beasiswa dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, maksimal sebesar Rp174 juta.

"Tentu dengan adanya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman para petugas damkar  dalam menjalankan fungsi dan tugasnya yang sangat mulia. Selain itu, keluarga juga akan merasa tenang dan terjamin apabila terjadi risiko yang dialami oleh peserta yang merupakan tulang punggung keluarga. Ini manfaat yang juga diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hal ini merupakan komitmen pemerintah dalam melindungi seluruh pekerja yang ada di Indonesia, termasuk para petugas damkar.

"Tentu dengan adanya program perlindungan bagi petugas damkar  ini, akan semakin mewujudkan perlindungan sosial bagi seluruh pekerja di Indonesia,” tutup Eko.***

 

Editor : RP Edwar Yaman
#perlindungan #avatar #biru #satria #pengendali api #bpjs ketenagakerjaan