Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Peraih Emas PON Aceh-Sumut 2024 Halimah Tu Sadiah Meninggal Dunia, Sosok Inspiratif, Penuh Semangat, dan Berdedikasi Tinggi

Dofi Iskandar • Selasa, 7 Januari 2025 | 09:23 WIB

Keluarga saat melepaskan kepergian Halimah Tu Sadiah dari rumah duka di Jalan Pala Sari, Umban Sari Kecamatan Rumbai, Senin (6/1/2025).
Keluarga saat melepaskan kepergian Halimah Tu Sadiah dari rumah duka di Jalan Pala Sari, Umban Sari Kecamatan Rumbai, Senin (6/1/2025).

Innalillahi waiina ilaihi rojiun. Dunia olahraga Riau berduka. Atlet peraih medali emas cabang olahraga ski air di PON Aceh-Sumut 2024, Halimah Tu Sadiah meninggal dunia, Ahad (5/1) sekitar pukul 19.45 WIB dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Umban Sari Atas, Rumbai, Pekanbaru, Senin (6/1) siang.

Laporan DOFI ISKANDAR, Pekanbaru

Halimah meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda. Meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, rekan sesama atlet, dan seluruh komunitas olahraga di Tanah Air. Kabar duka ini diumumkan oleh Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Ski Air dan Wakebord Indonesia (PSAWI) Riau.

Halimah lahir dari pasangan Desmawati dan Ferizal Hansen. Namun kedua orang tuanya berpisah. Sang ayah Ferizal menikah lagi dan tinggal di Pekanbaru di Jalan Pala Sari, Umban Sari, Kecamatan Rumbai. Sedangkan ibunya, Desmawati tinggal di Bandung.

Halimah lahir di Sumatera Barat pada 22 Agustus 2002 dan tinggal di Pekanbaru sejak SMP hingga kuliah di Pekanbaru, tepatnya di Universitas Lancang Kuning Rumbai. Mahasiswa Semester V ini merupakan anak pertama dari empat bersaudara. 

Halimah meninggal Ahad (5/1) di RS Ibnu Sina Pekanbaru setelah mengalami sakit. Ibu sambungnya Ersa mengatakan, almarhumah merupakan sosok anak yang baik, dan penurut kepada orang tua. Sebelum meninggal dunia, Halimah sempat dirawat di RS Ibnu Sina Pekanbaru selama empat hari sejak, Rabu (1/1).

“Awalnya itu (di rumah) mengeluhkan sakit kepala, jadi minta obat sakit kepala. Kemudian, belum sempat minum obat, dia muntah. Kami kasi minum air panas dan kami pijit. Kemudian muntah terus. Kami kira asam lambung. Habis itu kambuh lagi seperti kejang-kejang gitu dan dibawa ke rumah sakit,” ujar Ersa.

Selanjutnya, dibawa ke Rumah Sakit Ibnu Sina sekitar pukul 14.30 WIB pada hari yang sama untuk mendapatkan perawatan. Pihaknya RS Ibnu Sina mengatakan, tensi Halimah tinggi. Setelah menjalani perawatan selama empat hari, pada Ahad (5/1) sekitar pukul 19.45 WIB, Halimah meninggal dunia.

“Pas diperiksa tensinya tinggi, gula darahnya tinggi. Selama ini tidak pernah mengalami seperti itu, hanya sakit biasa saja. Demam sebentar dan sakit kepala terus sembuh. Dia jarang sakit,” katanya.

Ia mengungkapkan, kesehariannya itu cuma ke kampus setelah itu pulang dan istirahat di rumah. “Iya kalau bermain sama teman-temannya pun jarang dan pas kepengin saja. Nggak ada yang seperti umum gadis sekarang sering keluar. Almarhumah merupakan anak yang baik,” ujarnya. 

Sementara itu, ibu kandungnya, Desmawati mengatakan, merawat almarhumah dari bayi sampai kelas 2 SMP. “Silaturahmi terus jalan. Kalau ada acara dan libur dia datang ke saya. Terakhir saya jumpa pas di Sunter di Jakarta pada Oktober 2024 saat mengikuti kejuaraan Ski Air di sana. Saya yang dampingi di sana,” ujar Desmawati.

Desmawati mengungkapkan begitu mendapat kabar Halimah sakit, dirinya langsung berangkat ke Pekanbaru 2 Januari. “Saya kebetulan lagi di Bandung. Begitu mendengar kabar dari bapaknya, saya langsung ke sini. Saya berpikiran yang penting anak saya, tetapi Allah berkehendak lain. Dan saya merasa bangga almarhumah bisa menjadi atlet berprestasi,” ujarnya. 

Sementara itu, Pengprov PSAWI Riau mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam pernyataannya, mereka menyampaikan bahwa Halimah tidak hanya seorang atlet berprestasi, tetapi juga sosok yang inspiratif, penuh semangat, dan dedikasi tinggi terhadap olahraga.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia olahraga Riau dan Indonesia secara keseluruhan. “Hal ini adalah pukulan berat bagi kami semua. Halimah bukan hanya atlet hebat, tetapi juga pribadi yang sangat ramah dan selalu mendukung sesama rekan atlet. Prestasinya di PON XXI Aceh-Sumut lalu adalah bukti dari kerja keras dan dedikasinya,” ujar Kabid Pembinaan Prestasi (Binpres) Ski Air Riau Mantrab Binhar, Senin (6/1).

Menurut Mantrab, Halimah telah menjadi motivator bagi banyak atlet muda di Riau.  «Kehilangan ini sangat mendalam. Namun kami bertekad untuk meneruskan perjuangan Halimah dan terus membina atlet muda agar dapat mengikuti jejaknya dalam berprestasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Riau, Iskandar Hoesin menyampaikan turut berduka cita dan merasa kehilangan. “Kami turut berduka cita. Semoga almarhumah diterima di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggal diberi kesabaran dan ketabahan,” ujarnya.

KONI Riau juga akan memberikan santunan kepada keluarga korban.

“Selain memberikan santunan, tentunya almarhumah juga akan mendapatkan bonus karena almarhumah juga sebagai atlet peraih medali emas di PON Aceh-Sumut,” ujarnya.

Rasa kehilangan juga disampaikan oleh rekan-rekan sesama atlet dan pengurus olahraga lainnya. Salah seorang rekanya Piki Lestari mengatakan, Halimah adalah contoh nyata dari ketekunan dan kerja keras dalam mengejar cita-cita. “Halimah menunjukkan bahwa dengan tekad dan semangat yang tinggi, kita bisa meraih prestasi,” ungkapnya.

Ia juga memohon doa dan dukungan dari masyarakat untuk almarhumah. “Kami tentunya merasa sangat kehilangan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujar Piki.

Kepergian Halimah meninggalkan kesedihan yang mendalam, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya berjuang untuk meraih impian. Tidak hanya bagi atlet muda di Riau, tetapi juga bagi seluruh generasi penerus bangsa. 

Halimah akan selalu dikenang sebagai sosok atlet yang tidak hanya berbakat, tetapi juga memiliki karakter yang menginspirasi banyak orang. Ketua Harian Pengprov Persatuan Ski Air Wakeboard Indonesia (PSAWI) Riau, Gumpita menambahkan, terkejut mendapatkan kabar atau informasi meninggalnya almarhumah.

“Kami berduka dan kami dari PSAWI Riau, KONI Riau, dunia olahraga Riau kehilangan karena beliau baru berumur 22 tahun, sangat potensial. Saat PON Aceh-Sumut, ski air menyumbangkan dua emas dan tiga perak. Itu merupakan kontribusi dari almarhumah. Kami sangat kehilangan dan sangat berduka. Karena almarhumah merupakan atlet yang menjadi harapan kami ke depannya,” ujarnya.(das)

Editor : Rindra Yasin
#PON Aceh Sumatera Utara 2024 #atlet riau #Atlet Meninggal Dunia