Awalnya pemerintah dan masyarakat Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau hanya ingin desa mereka terbebas dari pertelagahan sesama warga soal kotoran hewan (kohe) sapi. Namun, takdir berkehandak lain. Dari kohe sapi itu, masyarakat desa mandiri energi, mandiri pupuk dan ikut serta dalam menyelamatkan muka bumi dari paparan gas rumah kaca. Kohe sapi itu mereka hidu tak lagi berbau busuk, sebaliknya kohe berubah harum bak kasturi karena menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Laporan GEMA SETARA, Pekanbaru
KEPALA Desa Mukti Sari Waryono mamandang teriknya matahari, Selasa (21/10) lalu. Ia memutar kembali memori ingatan saat awal-awal dia menjabat sebagai kepala desa. “Aku di demo warga awal-awal menjabat. Pusing aku, ibu-ibu lagi yang demo. Mereka protes karena hewan ternak yang bebas berkeliaran di jalanan,” ujarnya memulai kata kepada Riau Pos.
Masalah semakin meruncing, kata Waryono lagi, karena pemilik hewan ternak juga tidak mau mengalah dan tidak mau mengandangkan ternaknya. “Ternak kami hanya punya otak, tapi tidak punya pikiran, karenanya tidak mengherankan ternak-ternak kami membuang kotoran disembarang tempat dan memakan segala jenis tanaman milik warga,” ujar Waryono menirukan ucapan pemilik ternak ketika itu.
“Namun saya katakan kepada pemilik ternak, hewan memang tidak memiliki akal dan pikiran, tetapi kan pemiliknya punya keduanya, otak dan pikiran. Justru kalian pemilik ternak harus dan wajib memikirkan, bagaimana caranya agar hewan-hewan ternaknya tidak membuang kotoran, mencemarkan lingkungan dan memakanan tanaman milik warga,” ujarnya.
Melalui rembuk dan kesepakatan seluruh warga, akhirnya dibuat Peraturan Desa (Perdes) yang melarang seluruh hewan ternak dilepaskan-liarkan. “Perdes ini mengatur sanksi yang bakal diberikan kepada pemilik jika melepas-liarkan hewan-hewan ternak mereka,” ujarnya.
Untuk hewan ternak yang dilepas-liarkan dan membuang kotoran dikenakan sanksi denda Rp1.000.000 sementara hewan ternak yang memakan tanaman milik masyarakat denda yang diberikan lebih besar lagi mencapai Rp2.000.000.
“Alhamdulillah, setelah Perdes ini diberlakukan, pencemaran lingkungan berupa bau busuk dari kohe sapi itu tidak ada lagi, tanaman warga selamat dan kehidupan bermasyarakat pun aman dan damai. Kalau tidak, hampir setiap hari saya harus mengurus pertelagahan warga,” ujarnya.
Hari berlalu, waktu beringsut mengitari putaran sang waktu semuanya berubah. Ikut “campurnya” PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) ternyata kohe sapi yang dulu aromanya busuk di hidung warga sekarang menjadi aroma harum dan berubah menjadi uang. “Dari kohe sapi ini, kami sekarang bak kata pepatah ‘sekali mendayung dua tiga pulau terlampau’,” ujarnya.
Betapa tidak, sebut Waryono, dari pengolahan kohe yang awalnya hanya untuk penyediaan energi listrik dan keperluan elpiji rumah tangga saja, sekarang semakin berkembang. Kelompok masyarakat yang mengelola kohe sapi telah membuat produk turunan berupa pupuk organik, baik pupuk organik padat (POP) yang berasal dari kohe maupun Pupuk Organic Cair (POC) yang berasal dari urine.
“Selain masyarakat mendapatkan energi listrik dan elpiji, kelompok pengelola juga mendapatkan pundi-pundi rupiah dari hasil penjualan POP dan POC, selain itu lingkungan bersih, ikhtiar penyelamatan dunia dari emisi gas rumah kaca juga bisa dilakukan serta mengurangi pengeluaran biaya pembelian pupuk baik untuk tanaman hortikultura maupun tanaman sawit masyarakat,” ujarnya.
Biogas tak hanya dirasakan manfaat gas-nya sebagai kebutuhan memasak sehari-hari, namun pemanfaatan bio-slurry menjadi POP dan POC juga telah dapat dipasarkan ke luar Pekanbaru.
“Pemasaran sudah berjalan, bahkan POC sudah dipakai petani sawit di Minas, Kabupaten Siak. POC ini juga sudah dikirim ke Jawa Barat, dipakai oleh petani padi dan menurut informasi, hasil panen meningkat dari 4 ton menjadi 6 ton setelah menggunakan POC produk dari kelompok pemilik biogas,” ujarnya.
Limbah yang Berkah
Sudarman menyambut ramah Riau Pos ketika datang berkunjung ke rumahnya di Desa Mukti Sari. Dia yang juga didaulat menjadi Ketua Kelompok Tani Bhina Mukti Sari menyambut salam Riau Pos. “Waalaikummussalam. Rasanya sudah pernah datang ke sini kan?,” tanya Sudarman kepada Riau Pos. “Iya pak, dua tahun lalu, bersama rombongan dari PHR juga pak,” kata Riau Pos lagi.
“Kalau suasana desa ini tak ada yang berubah pak. Masih seperti dua tahun lalu. Yang berubah sekarang hanya pola pikir masyarakatnya. Dua tahun lalu masyarakat yang mau mengolah kohe sapi untuk dijadikan energi biogas hanya delapan rumah, sekarang sudah ada sekitar 20 rumah. Itupun yang diolah baru sebatas kohenya saja,” ujarnya.
Sekarang, selain kohe, kelompok masyarakat di desa itu juga sudah mengubah limbah tahu, limbah pasar dan limbah manusia dijadikan biogas. “Sudah jauh sekali pola pikir masyarakat di sini pak. Mudah-mudahan kedepan, desa ini semakin berkembang dan masyarakatnya hidup sejahtera,” ujarnya.
Tidak hanya itu, sebut Sudarman,dulu dia bersama kelompoknya hanya memanfaatkan limbah kohe itu hanya untuk penerangan listrik, elpiji dan pupuk hasil fermentasi bio slurry itu untuk tanaman pertanian dan perkebunan mereka saja, sekarang tidak lagi. “Kami sudah membuat produk turunan dari kotoran dan urine sapi tersebut,” ungkapnya.
Kotoran sapi dijadikan pupuk padat, sementara urinenya dijadikan pupuk organik cair (POC) yang sangat bagus sekali untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik untuk tanaman pertanian maupun tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.
“Kelompok Tani Bhina Mukti Sari sudah menghasilkan prodyuk turunan berupa pupuk organik yang cukup diminati petani dan pekebun. Tidak hanya dari Desa Mukti Sari saja, tapi sudah merambah hingga ke kabupaten/kota lainnya di Riau. Limbah hewan ini sekarang menjadi berkah bagi kami,” ujarnya.
Permintaan Tinggi
Permintaan pupuk organik produksi cukup banyak. Permintaan tidak hanya datang dari kabupaten di Riau saja, ada juga permintaan dari provinsi tetangga. “Hanya saja karena izin edar belum keluar, kami belum bisa memasarkannya ke provinsi tetangga, penjualannya baru sebatas di Riau saja,” ujarnya.
Sudarman menyebut, kedua pupuk ini sangat diminati masyarakat. kedua pupuk organik yang diproduksi menjadi alternatif utama masyarakat petani dan pekebun dalam menyiasati mahalnya harga jual pupuk kimia saat.
Untuk produksi pupuk sendiri biasanya dia dilakukannya secara berkala. Bulan ini produksi POP nya dulu, baru kemudian bulan berikutnya diproduksi POC. Hal tersebut dikarenakan masih keterbatasannya tenaga kerja.
“Untuk POP itu biasanya sekali buat kita mencapai 5-10 ton per bulan. Kemudian untuk POC sekitar 1.000-3.000 liter per bulannya. Untuk harga jual pada pupuk padat Rp3.000 per kilogram sedangkan untuk POC dijual dengan Rp30.000 per liternya.
Untuk penggunaan POC pada tanaman hortikultura dan tanaman pangan 100 mililiter POC dicampur dengan air 16 liter air sedangkan untuk tanaman keras atau tanaman perkebunan 250 militer POC dicampurkan dengan 16 liter air.
“Aplikasinya dilakukan melalui akar dengan cara disiramkan atau melalui daun dengan cara disemprotkan,” sebutnya.
Limbah-limbah itu diperoleh dari anggota kelompok binaan. Limbah itu dibeli, lalu diolah dan difermentasi sebelum dilepas ke pasaran. “Alhamdulillah selama ini petani sangat puas terhadap hasil produk pupuk organik kami,” tutur Sudarman.
Sudarman tidak sungkan-sungkan menyebut kehebatan dan keunggulan pupuk organik yang mereka produksi. “Di desa ini ada juga petani jeruk nipis. Salah seorang petani mengeluh ke saya, ada satu pohon jeruknya yang pertumbuhan dan produksi tidak memuaskan dan rencananya akan ditebang. Namun saya larang. Biar saya lihat dulu, mana tau masih bisa diatasi,” tutur Sudarman.
Sudarman pun melakukan pemberian pupuk organik pada jeruk nipis tadi. Setelah dilakukan pemberian empat kali, pertumbuhan tanaman jeruk itu sangat bagus dan berbuah dengan lebat. “Saya tidak bohong pak, sekarang pertumbuhan pohon jeruk itu sangat bagus dan buahnyapun sangat banyak. Saya sudah minta petani itu datang untuk memberikan penjelasan lebih lengkap, sayangnya beliau tidak bisa hadir, karena ada urusan yang mendesak,” tuturnya.
Selain itu, petani pepaya dan sawit juga merasakan manfaat yang tidak terhingga dari pupuk organik mereka. “Ada beberapa demplot tanaman sawit yang kami uji coba dengan pupuk ini, Alhamdulillah pertumbuahannya sangat bagus, daun terlihat hijau. Selain itu terhadap sawit yang diberikan pupuk ini, berat Tandan Buah Segar (TBS) lumayan berat dan warna buahnya sangat berkilau,” ujarnya.
“Kalau menggunakan pupuk organik ini, untuk tanaman sawit perlu empat kali pemupukan, menggunakan pupuk kimia biasanya kan tiga kali pemupukan. Pupuk organik yang kami produksi mampu membenahi tanah sehingga ketersediaan unsur yang diperlukan tanaman selalu tersedia, karena unsur hara selalu tersedia maka pertumbuhan tanaman tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.
Menjawab Riau Pos, berapa penghematan yang didapat petani sawit jika menggunakan pupuk produksi mereka? Sudarman mengatakan cukup besar sekali. “Kalau dilihat dari harga sajalah, kan sangat jauh sekali perbedaannya. Yang pasti menggunakan pupuk organik baik untuk tanaman dalam jangka panjang, karena pupuk organik mampu mengurai tanah dengan baik dan menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang cukup,” ungkapnya.
Dia menyebut, sekarang petani sawit di Desa Mukti Sari tidak risau lagi dengan naiknya harga pupuk kimia. Beda sekali dengan beberapa tahun sebelumnya, setiap kenaikan harga pupuk masyarakat petani pasti mengeluh, mengapa? Karena pupuk memang sangat diperlukan tanaman sawit. Jika tanaman sawit tidak dipupuk maka pertumbuhan dan produksi sawit akan sedikit, sebaliknya untuk membeli pupuk banyak petani yang tidak sanggup karena harganya mahal.
“Yang pasti pupuk yang kami produksi cukup baik untuk segala jenis tanaman baik untuk tanaman pertanian maupun tanaman perkebunan. Yang pasti dengan menggunakan pupuk organik akan lebih bermanfaat, karena bisa menjaga ketersediaan unsur hara yang diperlukan tanaman serta dia tidak merusak tanah dan lingkungan,” ujarnya.
Data Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat Provinsi Riau merupakan provinsi dengan luas perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Sesuai data dari Kementerian Pertanian RI, Provinsi Riau tercatat memiliki luas perkebunan kelapa sawit 3,38 juta hektare atau 20,68 persen dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang tersebar di 26 provinsi yang ada di Indonesia.
Karenanya tidak mengherankan kebutuhan pupuk di Riau sangat tinggi karena dominasi komoditas perkebunan seperti kelapa sawit. Data BPS 2023 menunjukkan terdapat 425.766 usaha pertanian perorangan yang menggunakan pupuk di Riau, dari total 728.641 usaha. Dominasi perkebunan kelapa sawit dengan luas mencapai 3,40 juta hektar (21,23 persen dari total nasional) menjadi faktor utama tingginya kebutuhan pupuk.
Jumlah Usaha Pertanian berdasarkan data Sensus BPS tahun 2023, terdapat 425.766 usaha pertanian perorangan yang menggunakan pupuk di Riau. Kebutuhan pupuk di Riau sangat tinggi karena dominasi sektor perkebunan, terutama kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Riau, dengan luas perkebunan mencapai 3,40 juta hektar pada tahun 2023.
Tetap Berdampak pada Lingkungan
Community Development Officer (CDO) Yayasan Rumah Energi (YRE) Theo Merton Putra mengungkapkan, kalau dihitung secara sederhana, satu ekor sapi bisa menghasilkan sekitar 1 meter kubik biogas per hari dan sekitar setengah (1/2) sampai tiga perempat (3/4) dari gas itu adalah metana.
“Artinya, dari satu ekor sapi saja, ada sekitar 0,6 meter kubik gas metana setiap hari, atau kira-kira 0,4 kilogram metana per hari. Kalau dikalikan setahun, itu bisa mencapai lebih dari 150 kilogram metana dari satu sapi,” ungkapnya.
Theo menyebut, gas metana sebenarnya adalah salah satu gas rumah kaca yang cukup kuat. Walaupun jumlahnya di udara tidak sebanyak karbon dioksida, daya pemanasannya jauh lebih besar, bisa sampai 25-30 kali lebih kuat dibanding CO₂ dalam jangka waktu seratus tahun.
“Kalau gas metana ini lepas ke udara tanpa diolah, dia akan menyerap panas matahari dan membuat suhu bumi makin meningkat, yang kita kenal sebagai pemanasan global. Selain itu, metana juga bisa memicu terbentuknya ozon di lapisan bawah atmosfer, yang bisa menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan manusia serta tanaman,” tuturnya.
Jadi, walaupun kelihatannya sepele, metana dari kotoran ternak yang tidak dikelola bisa ikut memperparah perubahan iklim dan mencemari udara sekitar. Karena itu, mengubahnya menjadi biogas bukan hanya bermanfaat untuk energi, tapi juga cara sederhana untuk melindungi lingkungan dari dampak gas rumah kaca.
Menjawab Riau Pos, bisa tidak dihitung, dari 20 kandang ternak di Desa Mukti Sari itu berapa gas metana yang dihasilkan? Theo menjawab bisa sekali.
“Kalau kita ambil hitungan sederhana, satu ekor sapi bisa menghasilkan sekitar 1 meter kubik biogas per hari dan sekitar 60 persennya adalah gas metana. Artinya, satu sapi menghasilkan kurang lebih 0,6 meter kubik metana setiap hari,” ujarnya.
Nah, kalau di Desa Muktisari diasumsikan ada 20 kandang ternak dengan masing-masing satu ekor sapi, totalnya jadi sekitar 12 meter kubik gas metana setiap hari. “Dalam setahun, itu bisa mencapai lebih dari 4.000 meter kubik gas metana, atau setara dengan sekitar 3 ton metana per tahun,” ujarnya.
Kalaulah, gas metana dari 20 kandang itu dibiarkan lepas ke udara tanpa diolah, dampaknya bisa cukup besar, terutama untuk jangka panjang ke dampak pemanasan global. Selain itu, kotoran yang menumpuk juga bisa menimbulkan bau tidak sedap, menarik lalat, dan mencemari air tanah bila terbawa air hujan.
Diakuinya, kalau dilihat dari sisi desa, jumlah gas metana yang dihasilkan memang terlihat tidak terlalu besar. Tapi kalau dihitung dampaknya terhadap lingkungan, gas metana itu punya efek yang sangat kuat. Meski volumenya kecil, metana bisa memerangkap panas 25-30 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida, jadi tetap punya pengaruh besar terhadap perubahan iklim.
“Artinya, sekecil apa pun jumlah gas metana yang dilepaskan ke udara tetap punya dampak terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Dengan mengolah kotoran sapi menjadi biogas, masyarakat sebenarnya sudah melakukan langkah nyata untuk mengurangi emisi metana, sekaligus memanfaatkan energi yang sebelumnya terbuang. Jadi, meskipun kontribusinya kecil dibanding skala global, tindakan kolektif seperti ini sangat penting karena membentuk kebiasaan baik dan memberi contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa.
Artinya, dengan mengolah gas metana itu, sedikit banyak masyarakat sudah berpartisipasi dalam menyelamat lingkungan dunia. Mengelola kotoran jadi biogas dapat mengurangi emisi CH₄ lokal dan global, menggantikan bahan bakar fosil atau bahan bakar biomassa, dan menghasilkan pupuk organik yang mengurangi kebutuhan pupuk kimia (pengurangan emisi di rantai nilai).
“Jadi tindakan skala rumah tangga/desa punya efek nyata terhadap mitigasi iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat. YRE mempromosikan pendekatan ini sebagai solusi praktis di lapangan,” tuturnya.
Mengutip https://www.bmkg.go.id, efek rumah kaca adalah proses alami yang menjaga suhu bumi tetap hangat dengan memerangkap panas dari radiasi matahari oleh gas-gas seperti CO₂, CH₄, N₂O, dan uap air.
Namun, akibat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, konsentrasi gas-gas ini meningkat, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim (IPCC, 2021).
Efek rumah kaca terjadi saat sinar matahari mencapai bumi, sebagian dipantulkan dan sebagian diserap permukaan bumi lalu dipancarkan kembali sebagai panas. Gas rumah kaca seperti CO₂, CH₄, dan SO₂ menyerap panas ini, sehingga membuat suhu bumi meningkat.
Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar dan emisi industri menyebabkan konsentrasi gas ini melebihi batas alami, memicu pemanasan global. Meski efek rumah kaca dibutuhkan agar bumi tetap hangat, kelebihannya berdampak buruk pada iklim dan kestabilan suhu global.
Atmosfer bumi hampir seluruhnya terdiri dari gas nitrogen (78 persen) dan oksigen (21 persen), tetapi beberapa gas yang ada dalam jumlah jejak konsentrasi kurang dari sepersekian persen memiliki dampak yang sangat besar pada iklim bumi.
Ini adalah gas rumah kaca yang memungkinkan radiasi matahari melewati atmosfer dan menghangatkan bumi, tetapi menyerap panas yang diradiasikan bumi kembali ke luar angkasa, menjebaknya seperti selimut yang memerangkap panas tubuh agar kita tetap hangat di malam yang dingin.
Perubahan kecil dalam konsentrasi atmosfer gas-gas ini (misalnya dari 0,02 persen menjadi 0,2 persen atmosfer) dapat menyebabkan perubahan besar pada suhu dan iklim bumi, yang membuat perbedaan antara zaman es, ketika mastodon menjelajahi bumi dan panas terik tempat dinosaurus hidup.
Karbon dioksida (CO₂) adalah gas rumah kaca yang paling banyak dilepaskan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan lahan, dan deforestasi. Namun, gas rumah kaca lain seperti metana (CH₄), dinitrogen oksida (N₂O), dan berbagai senyawa halogenasi (seperti HFC, PFC, dan SF₆) sebenarnya memiliki dampak pemanasan global yang jauh lebih besar per satuan massa dibandingkan CO₂.
Ada dua karakteristik utama yang menentukan seberapa besar dampak suatu gas rumah kaca, pertama efisiensi radiatif, seberapa besar kemampuan gas tersebut menyerap energi panas dari matahari dan memancarkannya kembali ke permukaan bumi. Semakin tinggi efisiensi radiatif, semakin kuat dampaknya.
Kedua waktu tinggal di atmosfer (umur atmosfer), berapa lama gas tersebut bertahan di atmosfer sebelum hilang karena proses alami (seperti diserap oleh laut, tumbuhan, atau terurai secara kimia). Semakin lama gas bertahan, semakin besar pula akumulasi dampaknya terhadap iklim.
Ada beberapa penyebab efek rumah kaca yang perlu diketahui di antaranya, penggunaan bahan bakar batu bara secara berlebihan, penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor, penggunaan CFC pada kulkas maupun AC, pembakaran hutan secara besar-besaran, industri pertanian, industri peternakan, penebangan liar, penggunaan kendaraan bermotor meningkat, pencemaran laut, limbah rumah tangga.
Gas metana sendiri adalah gas yang dampaknya terhadap pemanasan global lebih besar dibanding gas karobondioksida . Human Society International (2014) menyatakan bahwa dalam jangka waktu 20 tahun, metana memiliki angka GWP setidaknya 25 kali lipat dibanding karbondioksida.
Artinya, gas metana yang dihasilkan oleh kegiatan hasil peternakan memiliki dampak yang lebih signifikan dibanding gas karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Sektor peternakan sendiri berkontribusi 35-40 persen dari total keseluruhan gas metana secara global.
Diperkirakan setiap tahun ada 86 juta ton metana yang dilepaskan ke atmosfer sebagai hasil dari pencernaan hewan ternak. Gas metana ini tidak hanya dihasilkan peternakan sapi, namun juga dihasilkan peternakan kambing dan domba yang juga merupakan hewan poligastrik yang memiliki rumen dan mengalami fermentasi di dalam rumennya dan menghasilkan gas metana.
Metana (CH4) adalah gas tidak berbau yang menimbulkan efek rumah kaca. Komposisi metana di atmosfer bumi lebih rendah dibanding karbon dioksida (CO2), tapi koesifien daya tangkap panas metana lebih tinggi, yakni 25 kali karbon dioksida.
Pemanasan global disebabkan oleh naiknya jumlah emisi gas rumah kaca, termasuk metana. Metana mempertipis lapisan ozon yang melindungi bumi, sehingga suhu naik. Selain berasal dari penguraian sampah organik, metana muncul dari aktivitas pertanian dan transportasi. Sekitar 50 persen metana diproduksi dari aktivitas manusia di sektor pertanian.
Dari jumlah itu, 60 persen berasal dari ternak ruminansia, yang dihasilkan melalui proses metanogenesis dalam sistem pencernaan ternak. Metana dikeluarkan lewat mulut ternak ke atmosfer. Dalam riset DP Morgavi (2008), ditunjukkan sapi potong dapat mengemisi metana 60-70 kilogram (Kg) per tahun, sapi perah 110-145 Kg pertahun dan domba 8 Kg per tahun. Live Science melaporkan per tahun seekor sapi menghasilkan gas metana 120 Kg, domba 8 Kg, babi 1,5 Kg, dan manusia hanya 0,12 Kg.
Bukan hanya itu, keberadaan limbah kotoran sapi sangatlah berdampak buruk bagi iklim. Kotoran sapi dapat meningkatkan risiko perubahan iklim karena kotoran tersebut menghasilkan gas metana (CH4). Gas metana (CH4) adalah salah satu gas rumah kaca yang mampu menyebabkan efek rumah kaca, sehingga memiliki dampak yang buruk bagi iklim di mana gas ini dapat merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari bahaya radiasi sinar matahari.
Peristiwa pemanasan global adalah peristiwa yang dikategorikan sebagai suatu bencana karena peristiwa ini dapat menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi menjadi sangat ekstrem yang disebabkan oleh sinar matahari terperangkap di lapisan atmosfer bumi karena terhalang GRK.
Gas Metana (CH4) memiliki risiko yang sangat besar dalam menaikkan suhu permukaan bumi. Hal ini disebabkan Gas Metana (CH4) memiliki dampak 23 kali lipat dari gas Karbon Dioksida (CO2). Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya green jobs untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh limbah kotoran sapi tersebut.
Hasilkan Energi Setara 197.478.8 kWh
Manager Community Involvement and Development (CID) PT PHR Iwan Ridwan Faizal mengungkapkan, Desa Energi Berdikari (DEB) berbasis biogas Zona Rokan merupakan progam Community Involvement & Development (CID) yang bertujuan untuk mendukung kemandirian energi dan ekonomi dengan ketersediaan akses energi baru terbarukan dalam hal ini memanfaatkan limbah kotoran hewan yang melimpah sebagai sumber energi (biogas) maupun produk turunannya bioslurry yang dapat digunakan sebagai pupuk organik pertanian.
“Besar Energi dihasilkan setara 197.478.8 kWh, reduksi emisi mencapai 50 ton CO2ek per tahun dari 20 biodigester reaktor biogas, limbah kotoran terkelola mencapai 685 ton (2022-Sep 2025),” ujarnya.
Selain itu, dari program ini terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui akses Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dan dampak behaviour change, akses EBT sebagai pengganti kayu bakar, akses pelatihan GALS dan literasi keuangankepada 43 penerima manfaat.
Secara ekonomi, program ini juga menghemat pembelian tabung gas mencapai Rp75.000 per rumah tangga per bulan, penghematan pembelian pupuk mencapai Rp222.177 per pengguna per bulan, total omzet penjualan pupuk mencapai Rp74.000.000 (Nov 2023-Apr 2025).
Sedangkan dari sisi kemasyarakatan (society) program ini bisa memenuhi akses kebutuhan dasar (memasak) melalui biogas bagi >100 orang, tercipta satu kelompok Biotama Agung Lestari sebagaipenerima manfaat dan sarana pengembangan diri, tercipta ekosistem desa dengan circular economy, satu peraturan Desa Terbit, tentang DEB.
Secara keseluruhan, program DEB Berbasis Biogas telah membangun instalasi biogas untuk 22 KK di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar.
Penerima manfaat langsung program ini berjumlah 150 orang dan penerima manfaat tidak langsung sebanyak 21 orang dari pembeli dan pengguna Pupuk Organik Padat (POP) dan POC. Program ini juga membangun 12 unit demplot rumahan dan 2 demplot terintegrasi yang dimanfaatkan untuk penggunaan produk turunan biogas yakni POP dan POC. Sedangkan, reduksi emisi yang dihasilkan mencapai 56,8 ton CO2E per tahun dari pengelolaan limbah organik sebanyak 319,4 ton.
Pelaksanaan program DEB Berbasis Biogas merupakan wujud nyata dari Transisi Energi Berkeadilan di masyarakat tingkat tapak. Pelibatan masyarakat dalam akses energi terbarukan bukan hanya soal penghematan ekonomi dan kebersihan lingkungan, tapi lebih jauh lagi bagaimana semangat mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan justru bisa dimulai dari masyarakat di level tapak.
Dengan demikian, wacana Transisi Energi Berkeadilan bukan hanya menjadi isu dan pembahasan di tatanan kebijakan saja, tapi juga menjadi sesuatu yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat.
Harus Beralih
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) Dr Ir H Tengku Edy Sabli mengatakan, penggunaan pupuk organik oleh petani di Riau sangat dianjurkan. Baik petani sektor pertanian maupun sektor perkebunan. Mengapa, karena lahan pertanian maupun perkebunan di Riau didominasi oleh lahan-lahan marginal beruapa lahan gambut.
“Lahan gambut tergolong lahan marginal yang miskin unsur hara dan bersifat masam, karena itu perlu diberi pupuk. Pupuk anorganik memiliki kelebihan mengandung unsur hara tinggi dan mudah diserap tanaman namun dapat merusak struktur tanah jika digunakan berlebihan,” ujarnya.
Sebaliknya, pupuk organik ramah lingkungan dan relatif murah, serta sehat, mestinya perkebunan di Riau secara bertahap beralih dari pupuk anorganik ke pupuk organik. “Jika ingin dunia pertanian dan perkebunan di Riau ini tetap eksis harus beralih menggunakan pupuk organik, kalau masih menggunakan pupuk kimia suatu ketika kelak sektor pertanian dan perkebunan Riau pasti akan terancam,” ujarnya.
Kelebihan pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, meningkatkan mikroorganisme tanah, dan ramah lingkungan, harganya relatif lebih murah. Kekurangannya kandungan unsur hara rendah, tersedia lambat dan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pupuk anorganik, bila kurang matang dapat menganggu pertumbuhan tanaman dan menyebarkan patogen, gulma bisa mengandung logam berat atau bahan beracun dan berbahaya.
Dia mengatakan, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan akan berdampak terhadap struktur tanah yang akan rusak, keras dan tidak subur, meningkatkan erosi, akibatnya eutrofikasi (perairan terlalu subur) tercemar pupuk kimia dan mengurangi mikroorganisme tanah.
“Untuk memulihkan itu semua memerlukan waktu. Waktu pemulihan tergantung tingkat kerusakan, jumlah residu dan jenis tanah, serta kondisi lahan, bisa puluhan tahun,” ungkat mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau ini lagi.
Lahan marginal adalah lahan yang memiliki produktivitas rendah karena keterbatasan fisik, kimia, dan biologis tanah, seperti keasaman tinggi, kandungan hara rendah, dan drainase buruk. Meskipun demikian, lahan ini tetap memiliki potensi untuk dimanfaatkan, terutama untuk tanaman tertentu atau sebagai solusi untuk ketahanan pangan, asalkan dikelola dengan strategi yang tepat.
Karakteristik utama lahan marginal, kesuburan tanah rendah karena kandungan unsur hara dan bahan organik sedikit, keterbatasan air, dimana kadar lengas atau ketersediaan air untuk tanaman sangat rendah.
Kemudian, sifat tanah tidak ideal di mana pH terlalu asam atau terlalu tinggi, atau memiliki akumulasi unsur logam beracun, selain itu kondisi fisik yang sulit karena tanah keras, solum dangkal, kemiringan curam, atau risiko erosi tinggi.
Di Riau tidak bisa dihitung secara pasti berapa luas lahan marginal ini, karena luasnya tergantung pada definisi dan faktor pembatas. Namun, Riau memiliki potensi lahan marginal yang signifikan, seperti lahan gambut seluas sekitar 4,9 juta hektare dan lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal seluas sekitar 306.507 hektare. Selain itu, ada juga lahan kritis dan kawasan hutan yang perlu dikelola dengan hati-hati.
Perkiraan luas lahan marginal di Riau berupa lahan gambut sekitar 4,9 juta hektare, yang mencakup sekitar 62 persen dari luas daratan Riau. Lahan ini menjadi subjek konversi besar, sebagian untuk perkebunan kelapa sawit.
Kemudian lahan kering, luasnya mencapai sekitar 306.507 hektare. Lahan kering di Riau belum dimanfaatkan secara optimal, dengan total lahan kering mencapai ± 1.158.345 hektar. Kemudian lahan kritis, data tahun 2018 menunjukkan adanya lahan kritis di Provinsi Riau. Namun, angka spesifiknya tidak tersedia dalam data yang diberikan.***
Editor : Edwar Yaman