Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Semangat Ramadan di Kota Bertuah, Mahasiswi Unri Ini Isi Waktu dengan Berjualan Gorengan untuk Tambah Uang Jajan

Dofi Iskandar • Rabu, 25 Februari 2026 | 23:50 WIB

 Kansa tampak Berjualan Takjil di Jalan Binakrida, dekat lingkungan Universitas Riau, di kawasan Simpang Baru, Kecamatan Binawidya, pada Rabu (25/2/2026) sore.
Kansa tampak Berjualan Takjil di Jalan Binakrida, dekat lingkungan Universitas Riau, di kawasan Simpang Baru, Kecamatan Binawidya, pada Rabu (25/2/2026) sore.

Bulan Ramadan membawa suasana berbeda bagi banyak orang. Di sudut kawasan Jalan Binakrida, dekat lingkungan Universitas Riau, aroma gurih gorengan menyeruak menjelang waktu berbuka.

Laporan DOFI ISKANDAR

Di belakang meja jualan itu, berdiri seorang mahasiswi 21 tahun bernama Kansa, yang memilih mengisi waktu puasanya dengan berjualan aneka camilan untuk menambah uang jajan.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris ini memanfaatkan jadwal kuliah yang lebih longgar selama Ramadan. Alih-alih menghabiskan waktu di kamar kos, ia justru melihat peluang kecil yang bisa menghasilkan.

"Daripada gabut di kos, mending jualan saja. Sekalian tambah uang jajan," ujarnya, Rabu (25/2/2026) sore.

Kansa baru tiga hari berjualan di kawasan Simpang Baru, Kecamatan Binawidya. Meski terbilang singkat, pengalamannya bukanlah benar-benar baru.

Sebelumnya, ia sudah terbiasa menerima pesanan dengan sistem open order di kampung halamannya. Pengalaman itu menjadi bekal berharga ketika kembali mencoba usaha kecil-kecilan di perantauan.

Lapak sederhananya menawarkan beragam pilihan seperti tempe mendoan, pempek, risoles, piscok, lumpia ayam suwir, salalauak, hingga tahu goreng. Semua dibuat sendiri olehnya. Dari sekian banyak menu, tahu goreng menjadi primadona pembeli.

"Yang paling laris tahu goreng," katanya singkat, sembari melayani pelanggan yang datang silih berganti menjelang magrib.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong mahasiswa. Mulai dari Rp2.000 per potong hingga Rp5.000 untuk empat buah. Beberapa camilan dikemas dalam mika seharga Rp5.000. Dalam sehari, Kansa bisa meraup pendapatan sekitar Rp80.000, meski jumlahnya tidak selalu sama.

"Tergantung pembeli, tapi biasanya sekitar Rp80 ribuan. Alhamdulillah bisa balik modal," tuturnya dengan senyum tipis.

Baca Juga: Wako Pekanbaru Agung Nugroho Salurkan Sejumlah Bantuan dalam Safari Ramadan di Tuah Madani

Di balik kesederhanaan usahanya, tersimpan perjuangan membagi waktu. Kansa menyiapkan semua bahan pada malam hari mulai dari berbelanja hingga meracik adonan. Pagi harinya ia berkuliah seperti biasa.

Sepulang kuliah, barulah ia menggoreng dan menjajakan dagangannya.

"Persiapannya malam, sebelum kuliah sudah siap bahan. Habis kuliah baru digoreng. Kerjanya nggak terlalu ribet, tapi bagi waktunya itu yang susah," jelasnya.

Bagi Kansa, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momen melatih kemandirian dan keberanian memulai. Ia belum memastikan apakah akan kembali berjualan tahun depan.

Namun, jika peluang terbuka, ia tak menutup kemungkinan untuk mengembangkan usaha.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan mahasiswa, langkah kecilnya menjadi pengingat bahwa usaha tak selalu harus besar untuk berarti. Kepada sesama anak muda, ia berpesan agar tidak gengsi memulai sesuatu.

"Anak muda jangan takut jualan, jangan gengsi. Kalau kita utamakan gengsi, kita nggak bakal maju," tutupnya.

Di bawah langit senja Pekanbaru, diatas meja dengan deretan makanan dengan lapak sederhana itu menjadi saksi bahwa kemandirian bisa tumbuh dari keberanian mengambil langkah pertama.

Editor : M. Erizal
#jual takjil Ramadan #mahasiswi unri #ramadan