TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Polres Indragiri Hilir (Inhil) menggandeng Tim Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Riau untuk mengusut tuntas kebakaran yang diduga kuat dipicu ledakan pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Dusun Nibul, Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Inhil, Ahad (4/1/2026).
Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dilakukan secara menyeluruh di lokasi kebakaran guna mengungkap penyebab pasti insiden yang sempat menimbulkan kepanikan warga dan berpotensi membahayakan keselamatan publik.
Tim Bidlabfor memeriksa titik awal kebakaran, struktur pipa gas, serta mengamankan barang bukti dan data teknis yang dibutuhkan dalam proses penyelidikan.
Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora SIK memimpin langsung kegiatan tersebut, didampingi Wakapolres Kompol Maitertika serta Kasat Reskrim AKP Budi Winarko. Langkah ini menegaskan keseriusan Polres Inhil dalam menangani peristiwa yang berdampak luas terhadap masyarakat.
Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora menegaskan, pihaknya tidak akan berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan forensik keluar.
"Kami menunggu hasil olah TKP dan analisis laboratorium forensik untuk memastikan penyebab kebakaran. Semua akan ditangani secara profesional dan transparan," tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Saat ini, penyelidikan masih terus berjalan dengan koordinasi lintas instansi untuk memastikan aspek keamanan, keselamatan warga, serta kepastian hukum atas peristiwa tersebut.
Diberitakan sebelumnya, 10 warga mengalami luka bakar akibat ledakan pipa gas PT GTI di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Inhil pada Jumat (2/1/2025) kemarin.
Selain itu empat unit rumah dilaporkan mengalami rusak berat, tiga rumah rusak ringan, serta satu gudang alat berat mengalami kerusakan ringan, tujuh unit mobil holing turut terdampak, satu unit rusak berat dan enam unit rusak ringan serta delapan sepeda motor dilaporkan rusak berat.
Bahkan dua kebun warga seluas kurang lebih empat hektare juga ikut terdampak. Kebun tersebut masing-masing milik Suwardi seluas sekitar tiga hektare dan Ucok sekitar satu hektare. Saat ini 17 jiwa dari 5 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak melakukan pengungsian secara mandiri. (*2)
Editor : M. Erizal